Pesantren sebagai Sekolah Model Boarding School System

Pesantren sebagai Sekolah Model Boarding School System...
Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan non formal memberikan andil besar dalam dunia pendidikan. Terutama untuk pendalaman ajaran agama, pendidikan akhlak, kedisiplinan, hingga pola hidup seseorang.
Pesantren juga menjadi sekolah tambahan disamping sekolah formal. Ini menjadikan penawar kegelisahan para orang tua ketika melihat kehidupan di lapangan yang sudah terkontaminasi dengan westernisasi.
Pesantren akhir-akhir ini banyak diminati masyarakat, terutama kalangan yang masih peduli dengan pengajaran yang mendominankan agama. Beberapa faktor yang menyebabkan pesantren sebagai alternative pendidikan adalah sebagai berikut:
a. Keberadaan system boarding, pendidik dapat melakukan tuntunan dan pengawasan secara langsung.
b. Keakraban hubungan santri dan Ustadz sehingga dia bisa memberikan pengetahuan yang hidup.
c. Pesantren mampu mencetak orang-orang yang dapat memasuki di banyak lapangan pekerjaan.
d. Kesederhanaan Ustadz yang memimpin pesantren menciptakan kegembiraan dan penerangan bagi pada penduduk yang pada umumnya di tingkat ekonomi menengah ke bawah.
Maka munculah pesantren Boarding School dengan system pembelajaran juga metode yang berbeda dalam penyampaian materi pembelajarannya.

Tujuan umum pesantren adalah membina warga Negara agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran-ajaran agama islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupannya serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan agama.
Adapun tujuan khusus pesantren adalah:
a. Mendidik siswa/santri anggota masyarkat untuk menjadi seorang muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir batin sebagai warga Negara yang berpancasila.
b. Mendidik siswa/santri untuk menjadikan manusia muslim selaku kader-kader ulama dan mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam mengamalkan sejarah islam secara utuh dan dinamis.
c. Mendidik siswa/santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bertanggungjawab kepada pembangunan bangsa dan Negara.
d. Mendidik tenaga-tenaga penyuluh pembangunan mikro (keluarga) dan regional (pedesaan/masyarakat lingkungannya).
e. Mendidik siswa/santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sector pembangunan, khususnya pembangunan mental-spiritual.
f. Mendidik siswa/santri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan social masyarakat lingkungan dalam rangka usaha pembangunan masyarakat bangsa.

System pendidikan Boarding School dilakukan melalui kegiatan sepanjang hari. Dimana santri tinggal dalam suatu asrama khusus bersama ustadz, guru dan senior mereka. Sehingga hubungan antara santri-guru/Ustadz sangat intensif tak sekedar hubungan formal saja.
Dalam bidang kurikulum, pesantren mengalami transformasi, terkhusus pesantren modern. Pada mulanya pesantren hanya mengajari inti ajaran Islam berupa tri komponen ajaran dasar Islam yaitu : iman, islam dan ikhsan (doktrin, ritual dan mistik). Kemudian berkembang dengan penyajian disiplin ilmu seperti : Shorof, Nahwu, Fiqih, Tafsir, Ilmu Kalam, dll. Kemudian kurikulum pesantren bertambah luas tetapi masih dalam rincian dari materi dasar dengan beberapa tambahan seperti : fiqih dengan ushul al fiqih dan qawaid al fiqih, hadis dengan mustalah hadis, bahasa arab dengan nahwu, sorof, bayan, ma’ani, badi’ dan arudh, tarikh, mantiq, tasawuf, akhlak dan falak.
Pada pesantren modern boarding system dimasukkan pula ilmu-ilmu umum seperti : Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Fisika, Kimia, Teknik Pertanian, Perkebunan, Perunggasan, Perikanan, Bahkan Seni dan Keterampilan. Penambahan ini dipengaruhi oleh system pendidikan nasional dan tantangan zaman yang harus dihadapi santri setelah selesai menempuh pendidikan di pesantren. Sedangkan metode pesantren pada awalnya menggunakan metode tradisional seperti : sorogan, wetonan (bandongan), muhawarah, madzakarah dan majelis ta’lim. Tetapi saat ini metode telah berkembang: tanya jawab, imla, muthala’ah, proyek, dialog, karyawisata, hafalan, sosiodrama, widyawisata, problem solving, pemberian situasi, pembiasaan, dramatisasi, reinforcement, stimulus-respon dan system modul. (AswN)
Bookmark and Share


Artikel Terkait: