--> Aswan Blog™ | Aswan Blog Berbagi Ilmu dan Pengalaman

Berbagi ilmu dan pengalaman

Sabtu, 13 Desember 2025

no image

Tingkatan Surga dan Neraka | Kumpulan Dalil dan Penghuni di Dalamnya

Tema ceramah : Tingkatan Surga dan Neraka Kumpulan Dalil dan Penghuni di dalamnya. 

Sahabat… Seberapa yakin kita akan adanya surga? 

Jawab : Keyakinan penuh. Sebab Iman kepada surga dan neraka termasuk pada Iman kepada hari Akhir. 


Dalil Alloh Mempersiapkan Surga :

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Ali ‘Imran/3: 133]


Dalil Alloh Mempersiapkan Neraka :

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang telah disediakan bagi orang-orang kafir.” [Ali ‘Imran/3: 131].


Di mana Letak Surga Berada?

Di atas langit ke-7, yang pernah dikunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mi’raj,


وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى


Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal (QS. An-Najm: 13 – 15).


Ada berapa pintu Surga?

Ada delapan pintu surga. Ada empat pintu yang disebut dalam satu hadits. Sisanya dilihat dari hadits-hadits lainnya. Yaitu: (1) Pintu Shalat, (2) Pintu Sedekah, (3) Pintu Jihad, (4) Pintu Ar-Rayyan, (5) Pintu Haji, (6) Pintu Al-Ayman, (7) Pintu Al-Kazhimina Al-Ghaizha wa Al-Afina ‘an An-Naas. (8) Pintu Dzikir, Pintu Ridha, atau Pintu Ilmu.


Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ، هَذَا خَيْرٌ. فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ « نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)


Bagaimana gambaran kenikmatan Surga?

Jawaban : Tidak akan pernah bisa terbayang oleh mata, tidak akan terbesit oleh penjelasan telingan.


Dalam hadits qudsi disebutkan,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، ذُخْرًا، بَلْهَ مَا أُطْلِعْتُمْ عَلَيْهِ ». ثُمَّ قَرَأَ ( فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sediakan bagi hamba-Ku yang shalih berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam benak manusia. Kalau kalian mau, bacalah, ‘Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 17)

Balasan ini diberikan bagi orang yang beramal sembunyi-sembunyi. Allah rahasiakan pula balasan baginya dan dinampakkan dengan senyatanya pada hari kiamat. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

أَخْفَى قَوْمٌ عَمَلَهُمْ فَأَخْفَى اللهُ لَهُمْ مَا لَمْ تَرَ عَيْنٌ ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Suatu kaum ada yang menyembunyikan amalan mereka. Allah pun membalasnya dengan menyembunyikan balasan untuk mereka yang tak pernah mereka pandang sebelumnya dan tak pernah terbetik dalam benak.” (HR. Ibnu Abi Hatim, dinukil dari Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 145).


Ada Berapa Derajat Surga?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,


إنَّ في الجنةِ مائةَ درجةٍ، أعدَّها اللهُ للمجاهدين في سبيلِه، كلُّ درجتيْنِ ما بينهما كما بين السماءِ والأرضِ، فإذا سألتم اللهَ فسلُوهُ الفردوسَ، فإنَّهُ أوسطُ الجنةِ، وأعلى الجنةِ ، وفوقَه عرشُ الرحمنِ، ومنه تَفجَّرُ أنهارُ الجنةِ


“Surga itu ada 100 tingkatan, yang dipersiapkan oleh Allah untuk para Mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua surga yang berdekatan sejauh jarak langit dan bumi. Dan jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus, karena itulah surga yang paling tengah dan paling tinggi yang di atasnya terdapat ‘Arsy milik Ar-Rahman, darinya pula (Firdaus) bercabang sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari no. 2790)


Penduduk surga yang tingkatannya lebih rendah, bisa melihat penduduk surga yang lebih tinggi tingkatannya. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,


إنَّ أهْلَ الجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أهْلَ الغُرَفِ مِن فَوْقِهِمْ، كما يَتَرَاءَوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ في الأُفُقِ، مِنَ المَشْرِقِ أوِ المَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ ما بيْنَهُمْ قالوا يا رَسولَ اللَّهِ تِلكَ مَنَازِلُ الأنْبِيَاءِ لا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ، قالَ: بَلَى والذي نَفْسِي بيَدِهِ، رِجَالٌ آمَنُوا باللَّهِ وصَدَّقُوا المُرْسَلِينَ


”Sesungguhnya penduduk surga, bisa saling melihat dengan ahlul ghurfah (penduduk surga yang tinggi tingkatannya). Sebagaimana mereka melihat bintang yang terang di langit, yang memancarkan cahaya di ufuk dari timur ke barat. Karena mereka penduduk surga itu bertingkat-tingkat.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tingkatan yang tinggi itu adalah tempatnya para Nabi dan tidak bisa digapai oleh selain mereka?”

Rasulullah menjawab, “(tidak demikian), bahkan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, itu adalah tempatnya orang-orang yang beriman (dengan benar) kepada Allah dan membenarkan ajaran para Rasul.” (HR. Bukhari no. 3256 dan Muslim no. 2831).


Apa Saja Nama-nama Surga?

Berikut nama-nama Surga yang disebut dalam Al-Qur’an : 

1. Darussalam (دَارُ السَّلامِ)

Allah Ta’ala berfirman,


لَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَرَبِّهِمْ وَهُوَوَلِيُّهُمْ بِمَاكَانُوا يَعْمَلُونَ


“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shalih yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 127)

Sebagian ulama mengatakan, “Disebut darussalam karena surga adalah tempat yang terbebas dari hal yang kotor, hal yang membahayakan dan hal yang tidak disukai”. Pendapat yang lain mengatakan artinya Darullah, karena As-Salam adalah salah satu nama Allah.

2. Jannatul Khuld (جَنَّةُ الْخُلْدِ)

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ أَذَلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah (adzab) seperti itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai balasan, dan tempat kembali bagi mereka?” (QS. Al-Furqan: 15)

Disebut dengan nama ini karena penduduk surga itu kekal berada di dalam surga, tidak berpindah posisi ke tempat yang lain, dan tidak mencari cari tempat lain selain surga.

3. Jannatul Ma’wa (جَنَّةُ الْمَأْوَى)

Allah Ta’ala berfirman,

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى

“(yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 14-15)

4. Darul Muqamah (دَارَ الْمُقَامَةِ)

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ (٣٤) الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ (٣٥)

“Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu”. (QS. Fathir: 34-35)

5. Jannatu ‘Adn (جَنَّاتِ عَدْنٍ)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Ash-Shaff: 12)

6. Maq’adu Shidq (مَقْعَدِ صِدْقٍ)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (٥٤)فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (٥٥)

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55)

7. Qadama Shidq (قَدَمَ صِدْقٍ)

Allah Ta’ala berfirman,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ

“Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Rabb kalian.” (QS. Yunus: 2)

8. Al-Maqamul Amin (مَقَامٍ أَمِينٍ)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat yang aman.” (QS. Ad-Dukhan: 51)

9. Jannatun Na’im (جَنَّاتُ النَّعِيمِ)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Luqman: 8)


Sahabat… Jangan punya cita-cita biarlah ke neraka dulu, toh Orang Islam nanti juga masuk surga. 

Kenapa demikian :

  1. Perjalanan ke surga itu begitu panjang. Ada sejumlah alam penungguan dan antrian.

  2. Perbandingan waktu dunia dan akhirat begitu lama. 1 Hari Akhirat = 1000 Hari Dunia.

  3. Siksa neraka itu dahsyat. Jangan punya anggapan hangat-hangat kuku.

  4. Fikiran di atas mencerminkan belum yakin sepenuh hati akan pedihnya adzab neraka. 


Sahabat… Ada berapa Tingkat Neraka?

Ada 7 tingkat neraka beserta calon penghuninya.

1. Jahannam

Neraka Jahannam merupakan tingkatan neraka tertinggi. Sejumlah ayat dalam Al-Quran menjelaskan neraka Jahannam adalah tempat bagi orang-orang yang melakukan dosa besar, seperti durhaka pada Allah, mengikuti setan, dan munafik.


Alloh berfirman :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

Artinya: "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." (QS  Al A'raf ayat 179)

2. Taladza / Lazha = Api Yang Menyala nyala

QS. Al-Lail ayat 12–16 menerangkan bahwa orang-orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari keimanan Allah SWT pantas untuk masuk neraka Lazha.

إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى (12) وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَى (13) فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى (14) لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى (15) الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى (16) وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى (17) الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَى (21)

Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatn nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhan Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

3. Huthamah

Tubuh penghuni neraka ini akan hancur berkat api yang membakar hingga hatinya. Golongan yang akan masuk neraka Huthamah menurut QS. Al-Humazah ayat 1-9 adalah para pengumpat, pencela, serta enggan zakat dan sedekah.

وَيْلٌۭ لِّكُلِّ هُمَزَةٍۢ لُّمَزَةٍ   (1)

1.   Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,

ٱلَّذِى جَمَعَ مَالًۭا وَعَدَّدَهُۥ   (2)

2.   yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ   (3)

3.   dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,

كَلَّا ۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِى ٱلْحُطَمَةِ   (4)

4.   sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.

وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْحُطَمَةُ   (5)

5.   Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?

نَارُ ٱللَّهِ ٱلْمُوقَدَةُ   (6)

6.   (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,

ٱلَّتِى تَطَّلِعُ عَلَى ٱلْأَفْـِٔدَةِ   (7)

7.   yang (membakar) sampai ke hati.

إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌۭ   (8)

8.   Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,

فِى عَمَدٍۢ مُّمَدَّدَةٍۭ   (9)

9.   (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.


4. Sa’ir

Surat An-Nisa ayat 10 menerangkan jika neraka Sa’ir adalah tempat pembalasan bagi orang-orang zalim yang memakan harta anak yatim. Allah telah menyediakan rantai dan borgol untuk mengikat penghuni neraka Sa’ir.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا ࣖ

10. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

5. Saqar

Saqar adalah neraka yang mampu menghanguskan kulit manusia. Sesuai isi surat Al-Muddassir, Allah akan memasukkan orang yang sombong, meninggalkan salat, dan mendustakan hari pembalasan ke dalam neraka Saqar.


وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سَقَرُۗ ٢٧ لَا تُبْقِيْ وَلَا تَذَرُۚ ٢٨ لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِۚ ٢٩ عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَۗ ٣٠

Artinya: "Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? (Neraka Saqar itu) tidak meninggalkan (sedikit pun bagian jasmani) dan tidak membiarkan (-nya luput dari siksaan). (Neraka Saqar itu) menghanguskan kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (QS al-Mudatsir: 27-30)

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ ٣٨ إِلَّا أَصْحُبَ الْيَمِيْن ٣٩ فِي جَنَّتٍ يَتَسَاءَلُونَ ٤٠ عَن الْمُجْرِمِينَ ٤١ ما سَلَكُكُمْ فِي سَقَرَ ٤٢ قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ٤٣ وَلَمْ نَكَ نُطْعِمُ الْمَسْكِينَ ٤٤ وَكُنَّا تَخُوضُ مَعَ الْخَايصين ٤٥

Artinya: "Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia laku kecuali golongan kanan, berada di dalam surga yang mereka saling bertanya tentang (keadaan) para pendurhaka, "Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?" Mereka menjawab, "Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin. Bahkan, kami selalu berbincang (untuk tujuan yang batil) bersama para pembincang," (QS al-Mudatsir: 38-45)

6. Jahim

Tempat berkumpulnya orang-orang yang kufur dan mendustakan Al-Quran adalah neraka Jahim sebagaimana Allah sampaikan dalam surat Al-Maidah ayat 86. Umat muslim sepatutnya mengimani Al-Quran dan mengamalkan isinya jika ingin terhindar dari api neraka.

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ ࣖ

86. Dan orang-orang yang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.

7. Hawiyah

Berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al-Qariah ayat 8–10, orang-orang dengan timbangan amal kebaikan yang ringan akan menjadi penghuni neraka Hawiyah. 


فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُةٌ (٦) فَهُوَ فِي عِيْشَةٍ رَاضِيَةٍ (٧) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (٨) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (٩) وَمَا أَدْرِيكَ مَا هِيَةٌ (١٠) نَارُ حَامِيَةٌ (١١)


Artinya, "(6) Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, (7) dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. (8) Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, (9) tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah. (10) Tahukah kamu apakah (neraka Hawiyah) itu? (11) (la adalah) api yang sangat panas."


Demikian Kumpulan dalil Tingkatan Surga dan Neraka.

Nama-nama Pintu Surga dan Neraka Penghuninya.

Dalil ceramah tentang surga dan neraka.


Jumat, 12 Desember 2025

no image

ISRÂ’ MI’RÂJ RASUL : Ibroh dan Hikmah dari Peristiwa

Perjalanan ISRÂ’ MI’RÂJ RASUL : Ibroh dan Hikmah dari Peristiwa Nabi Muhammad SAW

Pengertian ISRÂ’ MI’RÂJ RASUL
Peristiwa Isrâ’, yaitu perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimulai dari al-Masjidil-Haram sampai ke al-Masjidil-Aqshâ.

Mi’râj, yaitu perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik dari al-Masjidil-Aqshâ menuju Sidratul-Muntahâ (langit tertinggi).

Peristiwa Isro mi'raj salah satu di antara mukjizat yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai wujud penghormatan dan pelipur lara setelah paman dan istri beliau meninggal dunia. Peristiwa ini juga sebagai penghibur setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan perlakuan tidak bersahabat dari penduduk Thâif.

Kapan Peristiwa Isra Mi'raj Rasul?
Peristiwa Isrâ dan Mi’râj terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. 

Mana Dalil Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW?
Kejadian ini diabadikan dalam Al-Qur`ân dan Al-Hadits. Allah Azza wa Jalla menyebutkan peristiwa ini di dua tempat dalam Al- Qur`ân, yaitu al-Isrâ’/17 : 1 dan an-Najm/53 ayat 13-18.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.[al-Isra’/17:1]

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ ١٣ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى ١٤ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ ١٥اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ ١٦ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى ١٧ لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى
Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.[an-Najm/53 : 13-18]

Di Mana Terjadinya Peristiwa Isra Mi'raj Rasulullah SAW?
Peristiwa ini terjadi di Makkah sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits. Imam al-Bukhâri memiliki 20 riwayat dari enam sahabat Radhiyallahu anhum. Imam Muslim rahimahullah memiliki 18 riwayat dari tujuh sahabat Radhiyallahu anhum. Di antara hadits-hadits ini, tidak ada satupun yang menjelaskan secara lengkap semua kejadian Isrâ` dan Mi’râj ini dari awal sampai akhir, tetapi masing-masing menceritakan bagian per bagian.

Berdasarkan kandungan hadits dari riwayat-riwayat yang ada, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

1. Adanya pembelahan dada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Usai melaksanakan shalat ‘Isyâ` pada malam penuh barakah itu, Malaikat Jibril Alaihissallam mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membedah dada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mencucinya menggunakan air Zam-am. Kemudian dibawakan bejana emas penuh dengan hikmah dan iman lalu dituangkan ke dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu Malaikat Jibril menutup kembali dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dibawanya naik ke langit.[3]

2. Isrâ`.
Dari Anas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ (وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ. يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ) قَالَ، فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ. قَالَ، فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الأَنْبِيَاءُ. ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ. ثُمَّ خَرَجْتُ. فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ، وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ. فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ. فَقَالَ جِبْرِيلُ: اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ.
“Aku diberi Buraq, yaitu seekor hewan putih yang lebih besar dari himar dan lebih kecil dari keledai. Aku mengendarainya. Dia membawaku hingga sampai ke Baitul-Maqdis. Lalu aku mengikatnya di tempat para nabi menambatkan. Aku masuk ke Baitul-Maqdis dan shalat dua raka’at. Setelah itu aku keluar. Malaikat Jibril menghampiriku dengan membawa satu wadah berisi khamr dan satu wadah berisi susu. Aku memilih susu. Malaikat Jibril Alaihissallam berkata: ‘Engkau telah (memilih) sesuai dengan fithrah,’ setelah itu, ia membawaku naik ke langit”.[4] Dan dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para nabi sebelum naik ke langit.[5]

3. Mi’râj.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa naik melewati beberapa langit. Pada setiap langit, Malaikat Jibril minta agar dibukakan pintu langit lalu ia ditanya: “Siapakah yang bersamamu?” Jibril Alaihissallam menjawab,”Muhammad,” penghuni langit itupun menyambutnya.

Di langit dunia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Adam Alaihissallam, di langit kedua berjumpa dengan Nabi Isâ Alaihissallam dan Nabi Yahya Alaihissallam , di langit ketiga berjumpa dengan Nabi Yûsuf Alaihissallam, di langit keempat dengan Nabi Idris Alaihissallam, di langit kelima dengan Nabi Hârûn Alaihissallam, di langit keenam dengan Nabi Musâ Alaihissallam, dan di langit ketujuh berjumpa dengan Nabi Ibrâhîm Alaihissallam yang sedang bersandar pada Baitul-Ma’mûr. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan sampai ke Shidratul-Muntahâ (langit tertinggi). Di sinilah, Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya untuk menegakkan shalat 50 kali sehari semalam.

Akan tetapi dalam perjalanan kembali dari mi’râj ini, ketika sampai di tempat Nabi Musâ Alaihissallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Apa yang telah diwajibkan Rabbmu atas umatmu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan ini, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Musâ Alaihissallam meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kembali menghadap Allah dan minta keringanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan saran itu, dan Allah Azza wa Jalla pun berkenan memberi keringanan. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak kembali dan berjumpa dengan Nabi Musâ Alaihissallam, beliau Alaihissallam meminta Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar meminta keringanan lagi, dan saran itu pun dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Allah Azza wa Jalla berkenan memberi keringanan. Hingga akhirnya, kewajiban shalat itu hanya lima kali sehari semalam. Setelah itu, ketika Nabi Musâ Alaihissallam meminta Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon keringanan lagi, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku sudah memohon kepada Rabbku sehingga aku merasa malu,” lalu terdengar suara: “Aku telah menetapkan yang Aku fardhukan, dan Aku telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku”.[6]

4. Perjalanan kembali dari Mi’râj.
Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada menunjukkan bahwa perjalanan kembali Rasulullah menempuh rute dari langit tertinggi menuju Baitul-Maqdis lalu ke Makkah.[7] Adapun sarana yang dipakai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Isrâ’ ialah Buraq.

Dari riwayat-riwayat tentang Mi’raj ini juga diketahui, bahwa riwayat yang menceritakan peristiwa ini menggunakan fi’il majhul (kata kerja pasif), sehingga sarana yang digunakan tidak diketahui dengan jelas. Dalam sebagian riwayat disebutkan: “Aku dipasangkan mi’râj“. Sehingga Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan perihal itu dengan perkataannya:[8] “Mi’râj, ialah tangga. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik menuju langit melalui tangga itu, bukan dengan Burâq sebagaimana persangkaan sebagian orang”.

Sikap Orang-Orang Quraisy Menanggapi Peristiwa Isra’ dan Mi’raj
Pada pagi hari setelah peristiwa ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam nampak merasa susah karena khawatir dianggap berdusta oleh kaumnya. Dalam keadaan seperti ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihampiri oleh Abu Jahl yang menanyakan keadaannya. Rasulullah pun memberitahukan tentang Isrâ`.

Mendengar penuturan Rasulullah itu, maka spontan Abu Jahl meyakini jika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berdusta. Namun penolakan Abu Jahl ini tidak ia ucapkan saat itu. Abu Jahl hanya berkata: “Bagaimana pendapatmu jika aku memanggil kaummu? Apakah engkau akan memberitahukan kepada mereka peristiwa yang baru engkau sampaikan kepadaku?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ya,” maka Abu Jahl bergegas memanggil kaum Quraisy. Setelah mereka datang, Abu Jahl meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menceritakan yang telah ia alami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakannya.

Orang-orang Quraisy pun terheran mendengar cerita beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Di antara mereka ada yang pernah melihat Masjid al-Aqshâ, maka orang-orang ini pun meminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sifat Masjidil-Aqshâ. Lalu Allah Azza wa Jalla mengangkat masjid itu, sehingga seolah bisa dilihat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sifat-sifatnya. Mendengar penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka pun berseru:”Demi Allah, keterangannya benar”.[9]

Dalam sebuah riwayat diceritakan, orang-orang Quraisy mengingkari kepergian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Syam lalu kembali lagi ke Makkah yang hanya dalam waktu satu malam saja. Karena perjalanan itu biasa ditempuh jarak waktu dua bulan. Sehingga ada sebagian orang yang kemudian murtad saat itu.[10]

Berbeda dengan Sahabat Abu Bakr Radhiyallahu anhu. Begitu diberitahu peristiwa itu, beliau Radhiyallahu anhu langsung mempercayainya tanpa ragu sedikit pun, seraya berkata: “Demi Allah, jika benar ia mengatakannya, maka ia benar. Apa yang membuat kalian heran? Demi Allah, sesungguhnya ia memberitahukan kepadaku bahwa wahyu telah turun kepadanya dari langit ke bumi saat malam atau siang hari. Ini lebih besar dari masalah yang membuat kalian terheran itu!”

Abu Bakr Radhiyallahu anhu pun kemudian mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan peristiwa yang telah didengarnya. Dan demikianlah keadaan Sahabat Abu Bakr Radhiyallahu anhu , setiap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan sesuatu, maka beliau Radhiyallahu anhu berkata: “Engkau benar, aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah…,” lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Bakr, engkau adalah shiddiq,” dan mulai saat itulah beliau Radhiyallahu anhu dinamai ash-Shiddiq. Artinya orang yang selalu percaya.[11]

Isra dan Mi’raj Dengan Ruh dan Jasad
Sebagian besar ulama salaf serta mayoritas muta’akhhirîn baik ahli fiqih, ahli hadits maupun ahli ilmu kalam, bahwa Isrâ’ yang dialami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah dengan ruh jasadnya.

Ibnu Hajar[12] berkata: “Sesungguhnya Isrâ’ dan Mi’râj terjadi dalam waktu satu malam dengan jasad dan fisik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beliau tersadar, terjadi setelah diangkat menjadi nabi. Pendapat inilah yang dipegangi mayoritas ulama ahli hadits, ahli fiqih dan ahli ilmu kalam. Zhahir hadist yang shahih menunjukkan hal itu. Dan tidak sepatutnya kita berpaling darinya, karena akal tidak memiliki alasan untuk mengatakan persitiwa itu mustahil sehingga perlu dita’wil ….”

Ini juga menunjukkan, jika peristiwa Isrâ’ dan Mi’râj itu terjadi hanya dalam mimpi, maka sudah tentu orang-orang kafir Quraisy tidak akan mengingkarinya. Begitu pula, tentu sebagian orang yang sudah beriman tidak akan murtad. Jika hanya dengan mimpi, maka peristiwa Isrâ’ dan Mi’râj itu, sama sekali tidak memiliki nilai mu’jizat. Pendapat yang mengatakan peristiwa Isrâ’ dan Mi’râj hanya dalam mimpi, juga menyelisihi firman Allah Azza wa Jalla.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil-Aqshâ yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [al Isrâ`/17 : 1].

Permulaan ayat dengan tasbih menunjukkan adanya perhatikan kepada sesuatu yang penting. Begitu juga kalimat “bi ‘abdihi”, memiliki makna gabungan antara ruh dan jasad, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Urjûn,[13] dan yang lainnya.

Pelajaran Dari Kisah Isra’ dan Mi’raj
Riwayat Isrâ’ dan Mi’râj telah disepakati keshahihannya oleh ulama ahli hadits dan sirah. Juga telah ditetapkan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`aan, hadits-hadits shahih, dan Ijma’ kaum muslimin. Peristiwa ini termasuk salah satu mu’jizat yang diterima Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Barang siapa mengingkari peristiwa ini, berarti ia telah mengingkari sesuatu yang ma’lûm bid-dharûrah.

Peristiwa yang terjadi setelah beberapa ujian menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, bertujuan untuk memperteguh semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga sebagai isyarat bahwa penderitaan yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam alami bukan karena Allah Azza wa Jalla meninggalkannya, akan tetapi sebagai sunnatullah bagi orang-orang yang dicintai-Nya.

Penyebutan antara Masjidil-Harâm, Masjidil-Aqshâ dan Mi’raj secara berurutan merupakan bukti yang menunjukkan tingginya kedudukan Masjidil-Aqshâ.

Ketika dibawakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa khamr dan susu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih susu. Ini menunjukkan bahwa Islam itu din (agama) yang sesuai fithrah.

Allah Azza wa Jalla mengumpulkan para rasul pembawa risalah untuk menyambut kedatangan pembawa risalah terakhir. Ini menunjukkan bahwa para nabi itu saling membenarkan, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan rasul terakhir, serta menunjukkan tingginya kedudukan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Rabbnya.

Menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang besar di langit dan bumi memberikan pengaruh dan motivasi yang kuat, sehingga tidak khawatir terhadap tipu daya kaum kuffar yang hakikatnya sangat lemah.

Diwajibkan shalat fardhu pada malam Mi’raj merupakan bukti betapa penting rukun Islam ini. Oleh karena itu, semestinya shalat bisa membebaskan manusia dari godaan nafsu syahwat dan tujuan-tujuan dunia.
_______
Footnote

[3] Lihat Imam al-Bukhâri/al-Fath, 17/284, no. 4709, 4710 dan 15-43-70, no. 3886, 3888, juga 18/242, no. 4856, 4858. Imam Muslim, 1/148, no. 163, 1/151, no. 164. Ibnu Asâkir dalam Tahdzîb Târîkh Dimasq, 1/386-387. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitab as-Sîrah: “Hadits ini adalah hadits yang hasan gharîb”.

[4] HR Imam Ahmad dalam al-Fathur-Rabbâni, 20/251-252 dan sanadnya shahîh. Imam al-Bukhâri dalam al-Fath, 21/176, no. 5576. Imam Muslim, 1/145 no. 162. Lihat juga Imam al-Bukhâri dalam al-Fath, 21/176, no. 5610.

[5] Diriwayatkan oleh al-Baihaqî dalam ad-Dalâil, 2/388. Doktor Qal’ah Jay dalam Khâsyiyah berkata: “Riwayat-riwayat tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para nabi sebelum mi’râj saling menguatkan”. Ibnu Hajar berkata: “Itulah yang lebih jelas”. Beliau t juga berkata: “Jumhûr sahabat menetapkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di Baitul-Maqdis”. Lihat hadits tentang bab ini dalam al-Fathur-Rabbâni, karya Imam Ahmad 20/244-264, beberapa bab tentang kisah Isrâ’ dan Mi’râj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[6] Al-Bukhâri dalam al-Fath, 13/24, no. 3207. Muslim, 1/149, no. 163. Ahmad dalam al-Fathur-Rabbâni, 20/247-248 dari hadits Anas bin Mâlik bin Sha’sha’ah Radhiyallahu anhu , dan sanadnya shahîh. Imam an-Nasâ’i, 1/217.

[7] Dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam ad-Dalâil, 2/355-357 dari riwayat at-Tirmidzi t dengan sanad beliau yang bersambung sampai ke Syadâd bin Aus. Al-Baihaqi berkata: “Ini adalah sanad yang shahih“.

[8] Al-Bidâyatu wan-Nihâyah, 3/122.

[9] Al-Bukhâri dalam al-Fath, 17/284, no. 4710. Muslim, 1/156, no. 170. Ahmad, al-Fathur-Rabbâni, 20/262-263 dari hadits Abbâs dengan sanad shahih. Lafazh ini merupakan riwayat Imam Ahmad.

[10] Lihat Ibnu Hisyâm, 2/45 dari riwayat Ibnu Ishâq secara mu’allaq. Kabar tentang murtadnya sebagian orang terdapat dalam hadits-hadits shahîh, di antaranya hadits yang diriwayatkan al-Hakim dalam al Mustadrak (3/62-63), dan beliau rahimahullah menyatakan hadits ini shahîh. Ini disepakati oleh Imam adz-Dzahabi.

[11] Diriwayatkan al Hakim dalam al-Mustadrak, 3/62-63. Beliau berkata: “Hadits ini sanadnya shahîh, namun tidak dibawakan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim”. Ini disepakati oleh adz-Dzahabi dalam Talkhîs al-Mustadrak.

[12] Al-Bukhâri dalam al-Fath, 15/44, Kitab: al-Mab’ats, Bab: Hadîtsul Isrâ’.

[13] Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 2/342-350.
no image

Kunci Utama Meraih Surga

Kunci meraih Surga - Akhir dari perjalanan kehidupan manusia yang didambakan adalah sampai ke suatu tempat yang maha luar biasa indah dan kenikmatan di dalamnya. Tidak dapat dibayangkan dengan kata-kata dan tidak bisa terfikirkan keindahan di dalamnya.

Setiap orang pasti ingin meraih sampai ke tempat tersebut dengan usaha dan ikhtiar yang dikerjakan selama di dunia. Alloh SWT telah memberikan apa kunci untuk dapat sampai dan masuk ke dalam Syurga dengan penjelasan dalil dan keterangan dalam Al-Quran dan Hadits Nabi.

Berikut adalah beberapa sumber yang bisa dijadikan rujukan terkait Kunci Utama Meraih Syurga dari dalil jelas :

Sebagai bahan ceramah dengan tema judul Kunci Meraih Syurga berikut pengantar dan bahasan utamanya.

Alur Kehidupan Manusia.

Surat Al-Baqarah Ayat 28

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya: Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal

Allah berfirman :

 وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ 

Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. -Surat Al-A’la, Ayat 17.

Surga Terbuka dengan Perkara Yang Dibenci Jiwa, Neraka Dibuka dengan Perkara Yang Disukai Nafsu

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ ». 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Surga itu diliputi dengan hal2 yang tidak menyenangkan, dan neraka itu diliputi hal2 yang menyenangkan." (HR. Muslim IV/2174 no.2822, At-Tirmidzi IV/693 no.2559, dan Ahmad III/284 no.14062).

Pilih tujuan, Dunia atau Akhirat?

عن زيد بن ثابت -رضي الله عنه-، أنه سمع رسول الله ﷺ يقول : مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Dari Zaid bin Tsabit _radhiallahu ‘anhu_, ia mendengar Rasûlullâh ﷺ bersabda : “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di kedua pelupuk matanya, padahal dia tidak akan mendapatkan dari dunia ini melebihi dari apa yg Allah tetapkan baginya.
Dan Barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utamanya) maka Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan rendah (tidak bernilai dihadapannya).” HR. Ibnu Majah (no. 4105), Imam Ahmad (5/183), ad-Darimi (no. 229) dan lainnya dengan sanad yg shahih..

 Berkata Imam Ibnul Qayyim _rahimahullah_:

مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى

“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: Kesedihan/kegelisahan yg terus-menerus, Keletihan yg berkelanjutan, dan Kerugian yang tidak pernah berakhir.” (Ighatsatul Lahafan I/87-88).

Gambaran Nikmat Dunia

Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah: 

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله  ﷺ يقول: جعل الله الرحمة مائة جزء، فأمسك عنده تسعة وتسعين، وأنزل في الأرض جزءًا واحدًا، فمن ذلك الجزء يتراحم الخلائق، حتى ترفع الدابة حافرها عن ولدها خشية أن تصيبه

“Allah SWT menempatkan rahmat menjadi 100 bagian. Dia menyimpan ini satu bagian. Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk (begitu meratanya sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih sayang, khawatir jangan sampai menginjak anaknya.” 

Gambaran Surga

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بشر

“Allah SWT berfirman: Aku telah menyiapkan  untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas di benak manusia untuk hamba-hamba-Ku yang saleh.” (HR Muslim)

Kunci Utama Masuk Surga : 

  1. Kunci Utama Masuk Surga Punya kemauan kuat.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallamdalam haditsnya,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا: “يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى؟” قَالَ: “مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan (untuk masuk surga)?”. Beliau menjawab, “Barang siapa yang taat padaku maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia telah enggan (untuk masuk surga)”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Ambil pelajaran dari Bapak Manusia.

Surat Al-Baqarah Ayat 35

وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Nabi Adam Dikeluarkan dari surga karena Lupa.

Surat Thaha Ayat 115

وَلَقَدْ عَهِدْنَآ إِلَىٰٓ ءَادَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِىَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُۥ عَزْمًا

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.

  1. Kunci Utama masuk Surga Dengan ilmu

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“ Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga” (H.R Muslim)

  1. Kunci Utama Masuk Surga dengan Tauhid. Laa ilaaha Illalloh.

Hadits,

من قال لا إله إلا اللهُ دخل الجنَّةَ

“barangsiapa yang mengatakan Laa ilaaha illallah pasti masuk surga”

Jadikan kalimat terakhir hidup dengan laa ilaha illaloh.

Kalau mau mudik yang sebenar-benarnya maka bawalah bekal yang banyak. Dan bekal sebenarnya itu Taqwa..

Cara Simpel Masuk Surga dengan salam

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ: لَمَّا قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ ، اِنْجَفَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ ، وَقِيْلَ : قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ إِلَيْهِ ، فَلَمَّا اسْتَبَنْتُ وَجْهَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهٍ كَذَّابٍ ، فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوْا السَّلَامَ ، وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ ، وَصِلُوْا الْأَرْحَامَ ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ .

Dari ‘Abdullah bin Salâm, ia berkata: “Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, orang-orang segera pergi menuju beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena ingin melihatnya). Ada yang mengatakan: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah datang, lalu aku mendatanginya ditengah kerumunan banyak orang untuk melihatnya. Ketika aku melihat wajah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , aku mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah pembohong. Dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, ‘Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan sejahtera.”.