Ujian Hidup Berupa Siksa Dalam Al-Qur'an

Ujian Hidup Berupa Siksa Dalam Al-Qur'an...
Fitnah dalam Al-Qur'an mempunyai dua makna; ujian dan siksa. Asal makna katanya itu sendiri adalah "memasukkan emas ke dalam api agar tampak yang bagusnya dari yang kotornya". (Mu'jam Mufradat Alfazh al-Qur'an, ar-Raghib al-ashfahani). Dari makna ini kemudian lahir dua makna; ujian dan siksa. Ujian, karena untuk mengetahui yang bagus dan jelek itu merupakan ujian, dan siksa karena memasukkan sesuatu ke dalam api berupa siksa.

Dalam al-Qur'an, fitnah dalam makna ujian tampak dalam beberapa firman Allah swt berikut ini :
Dan kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (fitnah) (QS. Thaha : 40). Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (fitnah) yang sebenar-benarnya. (QS. al-Anbiya : 35).
Sementara fitnah dalam makna siksa terdapat dalam firman Allah swt:
Rasakanlah adzab (fitnah) mu itu (QS. Adz-Dzariat : 14). Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa (fitnah) orang-orang beriman baik laki-laki atau perempuan (QS. Al-Buruj : 10).
Kedua makna fitnah sebagaimana diuraikan di atas itu sebenarnya satu hakikat dalam hidup, yakni bahwa ujian itu hakikatnya adalah siksa dan siksa juga pada hakikatnya adalah ujian. Dari siksa tersebut seseorang akan diuji, apakah ia akan bertaubat dan bersabar, ataukah tetap maksiat dan mencabar. JIka yang pertama yang ditempuh, maka ia lulus dan bersihlah dosanya. Tetapi jika yang kedua ditempuh, maka ia tidak lulus dan tetap abadilah dosanya. Tinggal ia menunggu siksa lagi yang akan datang sesuai kehedak Allah SWT.

Dalam hal ini maka firman-firman Allah SWT menegaskan : Apa saja nikmat yang kamu peroleh, itu adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri (QS. An-Nisa : 79). Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS. As-Syuro : 30). Ayat semakna ada juga pada QS. As-Syuro : 48).

Sayangnya banyak di antara kita yang sebatas memahami ujian hidup sebagai ujian semata; untuk meningkatkan keimanan, memperkuat kesabaran, dan semacamnya. Padahal nyatanya, ujian itu merupakan siksa. Tidak cukup hanya memahaminya sebagai ujian keimanan semata, tetapi harus membuat kita instrospeksi; dosa-dosa apa saja yang selama ini tidak lepas dari kehidupan kita. Hisab secepatnya secara jujur dosa-dosa yang ada dalam diri dan tanggalkan semuanya. Bukan hanya menyabarkan diri terhadap ujian seraya hidup tetap bergelimang dosa. Naudzubillahi min dzaalik.
Bookmark and Share


Artikel Terkait: