Tips Menjaga Kesehatan Saat Melaksanakan Ibadah Haji

Ibadah haji yang bertahun-tahun direncakan tentunya dalam pelaksanaannya tidak ingin dilewati begitu saja. Terlebih bila kondisi badan yang telah berumur perlu kiranya aspek kesehatan diperhatikan agar fit selama melaksanakan ritual ibadah haji nanti. Tak sedikit jamaah haji yang sakit di tanah suci yang menyebabkan beberapa rukun ibadah haji tertinggal dan harus mengeluarkan diyat untuk membayarnya. Sebab itu sangat perlu mengetahui tentang bagaimana menjaga kesehatan fisik waktu ibadah haji atau umroh di Makah.

Saat melaksanakan ibadah haji di tanah haram ada banyak aktifitas yang harus dikerjakan baik di mesjidil haram maupun di luar peribadatan. Oleh karenanya perlu dipersiapkan juga persiapan khususnya dalam menjaga kesehatan fisik saat berada di makkah. Hal itu dilakukan pada aspek menerapkan kebiasaan pola hidup sehat sejak di rumah atau kampung halamannya.

Begitu banyaknya jumlah jamaah haji yang datang dalam waktu bersamaan di tempat yang sama dengan latar belakang daerah negara dari berbagai penjuru benua, tak akan menutup kemungkinan perbauran itu terjadi penularan virus melalui udara ataupun kontak kulit satu sama lainnya. Sehingga vaksin yang tertanam dalam tubuh pun tidak akan menjamin kekebalan tubuh seorang jamaah haji. Diperlukan kekebalan tubuh yang datang dari dalam diri berupa persiapan dengan menerapkan kebiasaan olah raga jauh-jauh hari sebelum berangkat ke tanah suci.

Selain itu kondisi iklim cuaca yang sangat berbeda dengan di tanah air mempengaruhi faktor kesehatan jamaah haji. Bagi yang memiliki daya tahan tubuh kuat pastinya mereka akan dapat bertahan dengan suhu teriknya panas. Apalagi saat cuaca ekstrim di kota makah akan banyak peserta ibadah haji yang sakit karena dehidrasi, kelelahan atau semacamnya.

Tips sederhana untuk menjaga kesehatan agar tubuh fit selama melaksanakan ibadah haji kiranya harus dimulai jauh hari sebelum pemberangkatan tiba. Hal pertama cara menjaga kesehatan dalam beribadah haji adalah menerapkan kebiasaan positip berupa Pola Hidup Bersih dan Sehat atau yang disingkat dengan istilah PHBS.

Perilaku kebiasaan sehari-hari di tempat beribadah haji nanti di tanah haram, kota Makah maupun Madinah perlu memperhatikan aspek hidup sehat ketika berhaji berikut ini :
1. Makan Konsumsi memiliki nilai Gizi, protein dan mineral yang cukup.
2. Memelihara kebersihan tubuh dan biasakan mencuci tangan sebelum makan.
3. Minum air mineral sekurang-kurangnya 2 liter sehari.
4. Menghirup udara segar dan gunakan masker di area yang berdebu.
5. Selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
6. Alokasikan istirahat di hotel / pemondokan dengan tidur yang cukup setiap hari.
7. Hindari kebiasaan yang tidak baik untuk kesehatan seperti merokok.

Demikian diantara tips cara memelihara kesehatan saat melaksanakan ibadah haji agar memperoleh gelar mabrur. Semoga dengan itu ibadah haji yang dilaksanakan diterima di sisi Alloh SWT. Amin

Artikel yang baru anda baca ini : tips memelihara kesehatan saat ibadah haji, ditulis pada bulan agustus beriringan dengan tibanya hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Readmore Tips Menjaga Kesehatan Saat Melaksanakan Ibadah Haji

Ketika Kemerdekaan Tiba

Terjadinya kemerdekaan di Negara Republik Indonesia ini bila dikaitkan dengan terjadinya futuh makkah (penaklukan kota mekah) pada zaman Nabi Muhammad SAW, cukup perlu melihat apa yang tergambar pada Al-Qur'an Surat An-Nashr ayat 1 sampai 3. Pada surat tersebut secara tersurat menjelaskan bahwa pencapaian itu bukan semata kekuatan manusia, namun terlebih dari peran pertolongan Alloh kepada siapa saja yang memuji dan suka memohon ampunan kepada-Nya.

Melalui artikel singkat kemerdekaan ini mari kita telaah sepintas tentang Kemerdekaan RI itu tiba dan telah terjadi beberapa puluh tahun silam pada tanggal 17 Agustus 1945. Firman Alloh SWT :
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا . فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Artinya: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr : 1-3).
Ketika turun ayat ini, Nabi ketika itu menangis. Kepada Aisyah Beliau berkata: "Aku tidak melihatnya melainkan sebagai tanda bahwa ajalku telah dekat." Maka dari itu para Ulama ada yang menyebut surat ini dengan nama sebutan lain at-Taudi', artinya perpisahan. Tepatnya surat yang menyatakan bahwa waktu perpisahan antara Nabi SAW dan para sahabat telah dekat. Terlebih seperti diterangkan oleh Ibnu Umar, surat An-Nashr ini turun di Mina ketika Nabi SAW sedang melakukan haji wada' (haji perpisahan). Sesudah turun surat tersebut, lalu turunlah surat Al-Maidah ayat 3, yang dikenal sebagai surat terakhir diturunkan : "Pada hari ini aku telah sempurnakan agamamu..". Jeda antara ayat tersebut dengan kewafatan Nabi SAW adalah 80 hari. (Lihat referesi Tafsir Al-Qurthubi).

Umar Ibn Al-Khatthab pernah mengajak Ibnu Abbas dan beberapa sahabat senior yang ikut perang badar untuk membicarakan ayat ini. Kepada para sahabat senior Umar minta pendapat, apa kandungan makna dari surat tersebut. Mereka pun menjawab: "Kita diperintah bertahmid kepada Alloh dan beristighfar jika kita ingin mendapatkan pertolongan dan mendapatkan kemenangan / kemerdekaan." Kemudian secara khusus Umar meminta pendapat Ibn Abbas. Ia lalu menjawab: "Itu adalah pemberitahuan ajar Rasulullah SAW yang diberitahukan Alloh kepada beliau." Maka Umar berkata: "Demi Allah aku tidak tahu melaikan apa yang kau katakan tadi". (Shahih Bukhori No.4970).

Apa yang terjadi pada zaman Rasulullah terkait perang kemerdekaan penaklukan kota Makkah semata-mata karena Nashrulloh; Pertolongan Alloh. Maka jika itu sudah ada dipelupuk mata, titah Allah SAW, bertasbihlah, bertahmidlah, dan beristighfarlah. Atau dengan kata lain berterima kasihlah kepada Allah SWT dengan cara beribadah dan memohon ampunan kepadanya. 

Para pejuang kemerdekaan RI di Indonesia dulu sadar betul bahwa kemerdekaan yang sedang mereka usahakan hanya akan tiba dengan Rahmat Allah SWT. Maka dari itu, dalam pembukaan UUD '45 pun ditegaskan seperti itu. Akan tetapi ironisnya, generasi sekarang tidak sadar bahwa semuanya itu berkat pertolongan dan rahmat Allah SWT. Buktinya, mereka malah menyambut Dirgahayu Kemerdekaan tersebut dengan pesta dan hura-hura. Sungguh celaka orang yang tidak tahu bagaimana cara berterima-kasih kepada anugerah Tuhannya. Wallohu 'alam.
Lihat artikel menarik sebelumnya tentang pesan guru saat perpisahan sekolah tema pidato pelepasan siswa.
ReadmoreKetika Kemerdekaan Tiba

Dalil Tentang Orang Yang Mustajab Do'a dan Waktu Mustajab Do'a

Postingan kali ini akan membahas tentang dalil tentang orang yang mustajab (diterima) do'anya dan kapan waktu yang tetap diijabahnya do'a. Menjawab pertanyaan di atas harus disertai keterangan dalil yang pasti tidak boleh asal-asalan. Sumber rujukan yang harus didahulukan tentunya harus berasal dari Al-Qur'an dan Assunah / Hadis atau dengan tambahan penjelasan syarah ulama.

Bila kita ingin permintaan diterima atau maqbul dan menjadi nilai ibadah yang diridloi, inilah barangkali sebagian jawaban pertanyaan di atas terkait siapa orang yang doanya pasti diterima Alloh SWT dan kapan saat waktu yang tepat untuk berdo'a agar dapat diterima sehingga permintaan kita yang dipanjatkan terealisasi sesuai dengan apa yang diharapkan :

Orang-orang yang Mustajab Do’anya Inilah penjelasan tentang orang yang pasti akan diijabah do'anya berdasarkan dalil Al-Qur'an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW yang masyhur di kalangan pada ulama Ahlu Sunah.
Di bawah ini akan disampaikan beberapa keterangan kelompok orang yang do’anya pasti diterima / diijabah oleh Allah swt, mereka itu ialah; 1) Orang yang dizhalimi, 2) Orang yang sedang bepergian, 3) Orang Tua kepada anaknya, 4) orang yang shaum, 5) Pemimpin yang adil, 6) Seorang Muslim kepada saudaranya, 7) Anak kepada orang tuanya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
Dari Abi Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Tiga do’a yang diijabah, tidak ada keraguan padanya: Do’a orang yang dizhalim, do’a orang yang sedang bepergian, dan do’a orangtua terhadap anaknya. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ
Dari Abi Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Tiga orang yang do’anya tidak ditolak, do’a orang yang shaum sampai ia berbuka, do’a pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizhalimi, Allah mengangkatnya di atas mega. Dan Allah membukakan baginyapintu-pintu lamhit, dan berfirman, demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu walaupun sampai akhir zaman. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
يَقُولُ دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ
Do’a seorang muslim kepada saudaranya di belakangnya (dari jauh) diijabah (HR. Muslim)
أَرْبَعٌ دَعْوَتُهُمْ مُسْتَجَابَةٌ : الإِمامُ اْلعادِلُ , والرجل يدعو لأخيه بظهر الغيب , و دعوة المظلوم , و رجل يدعو لوالديه (رواه أبو نعيم عن واثلة)
Empat orang yang do’anya diijabah; pemimpin yang adil, seseorang yang mendo’akan saudaranya di belakangnya, do’a orang yang dizhalimi, dan seorang yang mendo’akan orang tuanya. (HR. Abu Nu’aim dari Watsilah)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ (احمد:10202)
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya Allah Azza wa jalla mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Lalu si hamba itu bertanya, Ya Rabbi, saya mendapatkan semua ini dari mana? Maka Allah menjawab, Berkat permohonan ampunan anakmu bagimu. (HR. Ahmad)

1. Orang Yang dizhalimi
Do’a orang yang dizhalim itu diangkat di atas mega dan Allah membukakan baginya pintu-pintu langit, dan Dia berfirman, Demi kemulian-Ku Aku akan menolongmu walau sampai akhir jaman.
Bahkan ada hadits yang menerangkan bahwa idak ada hijab antara Allah dengan orang yang dizhalimi ketika ia berdo’a kepada Allah. Dan do’a orang yang dizhalimi itu tetap akan diijabah meskipun ia orang yang durhaka. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap perbuatan zhalim, termasuk kepada istri dan anak, karena do’a mereka besar kemungkinan akan diijabah oleh Allah.

2. Orang Yang Sedang Bepergian
Ketika sedang bepergian, sebaiknya kita mendo’akan keluarga yang ditinggalkan, karena termasuk orang yang besar harapan diijabah.

3. Orang tua kepada Anaknya
Do’a seorang ibu, pasti diijabah walaupun ia mendo’akan kejelekan bagi anaknya.
Sebagai ibrah, dapat kita perhatikan tentang kisah Juraij, seorang yang ahli ibadah, ketika sedang shalat, ia dipanggil oleh ibunya, namun ia berpikir lebih baik melanjutkan shalatnya terlebih dahulu, lalu memenuhi panggilan ibunya. Namun ternyata ibunya tidak ridho, merasa sakit hati dan ia berdo’a kepada Allah, “Yaa Allah, janganlah Engkau matikan dia sebelum ia dipermalukan”. Ternyata do’a ibu tersebut diijabah oleh Allah. Pada suatu hari, ketia Juraij sedang berada di rumahnya, datang kepadanya seorang wanita binal menggodanya, namun Juraij menolaknya. Wanita tersebut, merasa sakit hati, lalu ia berzinah dengan seorang penggembala, lalu ia hamil dan melahirkan seorang bayi, dan ia umumkan kepada masyarakat bahwa bayinya itu merupakan hasil perbuatan mesumnya dengan Juraij. Tentu saja Juraiz sulit membantah, sehingga masyarakat marah kepadanya dan menghancurkan rumahnya. Lalu Juraij shlat dua rakaat dan mohon kepada Allah agar ditunjukkan kebenarannya. Lalu Juraij mendatangi anak tersebut dan bertanya kepadanya, siapa ayahmu? Bayi tersebut menjawab, ayahku adalah seorang penggembala.

4. Orang Yang Shaum sampai berbuka
Orang yang sedang shaum, baik shaum wajib ataupun sunat, do’anya akan diijabah oleh Allah sehingga ia berbuka dari shaumnya.

5. Pemimpin yang Adil
Pemimpin yang adil itu selain membawan mashlahat bagi rakyatnya, ia pun do’anya diijabah oleh Allah.

6. Seorang Muslim kepada saudaranya
Dalam tradisi kita, meminta dido’akan itu suka dihadapan kita. Padahal justru do’a yang diijabah itu adalah do’a dari sesama muslim tanpa sepengetahuan dari orang yang dido’akannya.

Biasanya do’a yang diucapkan di hadapan orang yang dido’akannya memliki kecenderungan pamrih. Sementara doa yang dipanjatkan dibelakang rang yang dido’akannya menunjukkan kualitas keikhlasan do’anya serta adanya hubungan batin di antara mereka.

7. Anak yang Mendo’akan orang tuanya
Do’a seorang anak kepada orang tuanya memiliki kualitas yang sama dengan do’a orang tua kepada anaknya. Do’a seorang anak kepada orang tuanya didasari dengan kecintaan. Sehingga ketika berdo’a dipenuhi dengan keikhlasan dan kekhusuan.

Saat-saat waktu Mustajab Do’a Inilah penjelasan terkait kapan waktu yang tepat dalam berdo'a memohon kepada Alloh SWT :
1. Dua pertiga malam. 
Berdasarkan hadits,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ (البخاري:1077)
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Tuhan kita Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi turun ke langit dunia setiap malam, pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku pasti Aku kabulkan, barangsiapa meminta kepada-Ku pasti Aku beri, dan barangsiapa yang memohon ampunan-Ku pasti Aku ampuni . (HR. Bukhari)
2. Antara adzan dan qomat

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّعْوَةُ لَا تُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فَادْعُوا (احمد : 12878)
Dari Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Do’a antara adzan dan qomat tidak ditolak, maka berdo’alah kamu. (HR. Ahmad)
3. Waktu Jum’at

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا (البخاري : 883)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw menerangkan bahwa pada hari Jum’at ada satu waktu yang seorang muslim berdo’a kepada Allah Ta’ala dalam shalatnya bertepatan dengan waktu itu, pasti Allah akan memenuhinya. Nabi berisyarat dengan tangannya, menimbang-nimbangnya. (HR. Bukhari)
4. Sesudah Shalat Fardhu

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ (الترمذي :3421)
Dari Abu Umamah ia berkata, Rasul ditanya, Ya Rasulallah, do’a yang manakah yang akan didengar (oleh Allah), beliau menjawab, ketika tengah malam terakhir dan setiap selesai shalat yang wajib. (HR. Tirmidzi) 
Tiga yang pertama, saat-saat mustajab do’a, dilakukan dalam shalat. Yaitu ketika shalat tahajud yang dilakukan pada dua pertiga malam, ketika shalat sunat setelah adzan sebelum qomat, dan ketika sholat jum’at. Berdasarkan firman Allah,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (البقرة:45)

Adapun kesempatan kita untuk berdo’a dalam shalat tersebut dilakukan ketika sujud dan setelah do’a tasyahud akhir. Rasulullah saw bersabda:

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ (مسلم)
Ingatlah, sesungguhnya aku dilarang membaca al-Qur’an sambil ruku’ atau sujud. Pada waktu ruku’ maka agungkanlah Allah Azza wa Jalla. Adapun pada waktu sujud bersungguh-sungguhlah berdo’a, besar harapan do’a kamu akan diijabah. (HR. Muslim)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ (مسلم)
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Saat yang paling dekat seseorang dengan Tuhannya, ketika ia sujud, maka perbanyaklah olehmu do’a. (HR. Muslim)
إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (مسلم : 926)
Apabila seseorang di antara kamu selesai tasyahud akhir, maka berlindung dirilah kepada Allah dari empat perkara; dari azab jahannam, dari gangguan waktu hidup dan mati, dan dari kejahatan al-masiih al-dajjal. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.
Do’a-do’a yang diajarkan Oleh Rasul dalam shalat (ketika sujud atau setelah tasyahhud akhir)

1. عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنْ الْمَغْرَمِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ (البخاري :789)
Dari Aisyah, Istri Rasulullah saw, ia mengabarkan bahwasanya Rasulullah saw pernah berdo’a dalam shalatnya, allaahumma innii a’uudzu bika …, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari finah al-masih al-Dajjal, aku berlindung kepadamu dari finah hidup dan fitnah mati, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan tenggelam dalam hutang.
Sesungguhnya seorang yang berhutang biasanya kalau ditagih, bicaranya suka dusta,janjinya suka dikianati.

2. عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ (النسائي: 1287)
Dari Syaddad bin ‘Aus bahwasanya Rasulullah saw pernah berdo’a dalam shalatnya, allaahumma innii as-aluka …, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu ketetapan dalam urusanku, 
3. عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (البخاري :790)
Dari Abu baker al-Shiddiq, ia pernah berkata kepada Rasul, “Ajarilah aku suatu do’a yang akan aku panjatkan dalam shalatku! Rasul menjawab, bacalah, Allaahumma innii zhalamtu … “Ya Allah aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang besar, Tidak ada dzat yang dapat mengampuni seluruh dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
4. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ (مسلم : 751)
Dari abu Hurairah, dari Aisyah, ia berkata, pada suatu malam, akau kehilangan Rasulullah saw dari tempat tidur, maka aku mencarinya, lalu dua tanganku mengenai kedua telapak kakinya yang lagi berdiri tegak (sedang sujud), sedangkan beliau sedang berada di masjid, waktu itu beliau berdo’a, allaahumma a’uudzu biridhaaka …, Yaa Allah aku berlindung dengan keridhan-Mu dari kemurkaan-Mu dan dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, tidak terhitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaiman yang Engkau sanjungkan terhadap dari-Mu.
5. عَنْ أَبى هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ وَقُمْنَا مَعَهُ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ لَقَدْ تَحَجَّرْتَ وَاسِعًا يُرِيدُ رَحْمَةَ اللَّهِ (احمد:7469)
Dari Abu hurairah, ia berkata, Rasulullah saw berdiri untuk melaksanakan shalat, maka kami pun berdiri bersamanya. Seorang arab berdo’a dalam shalat tersebut, yaa Allah rahmatilah saya dan nabi Muhammad, dan janganlah kau berikan rahmat bersama kami kepada yang lainnya, setelah selesai salam, beliau berkata kepada orang arab tersebut, kamu ini serakah, masih banyak orang yang mengharapkan rahmat Allah.
Adapun Dzikir dan Do’a Setelah Shalat Fardhu

6. عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (مسلم : 931)
Dari Tsauban, ia berkata, Apablia Rasulullah saw telah selesai dari shalat fardhunya, beliau beristighfar sebanyak tiga kali, lalu beliau membaca, Allaahumma antas salaam, Ya Allah Engkaulah Yang Maha Selamat, dan dari-Mulah keselamatan, Maha berkah Engkau Dzat Yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Al-Walid berkata, aku bertanya kepada al-Auza’I, bagaimanakah cara mengucapkan istighfarnya? Ia menjawab, astaghfirullah astaghfirullah. (Muslim no. 931)
7. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (مسلم :939)
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, belaiau bersabda, barang siapa yang bertasbih setiap selesai shalat sebanyak 33 kali, lalu bertahmid sebanyak 33 kali dan bertakbir sebnayak 33 kali, itu semua menjadi 99 kali, ia berkata, dan sempurna menjadi 100 dengan laa ilaa ha illallaah … (tidak ada tuhan melainkan Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kekuasaan dan bagi-Nya pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu) pasti dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan. (H.R. Muslim no. 939)
8. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْهُنَّ دُبُرَ الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Sesungguhnya Rasulullah saw suka berlindung kepada Allah setiap selesai shalat dengan do’a, Allaahumma innii a’uudzubika … (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari … dan aku berlindung ekpada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang hina dan aku berlindung kepada-mu dari fitnah di dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur)
9. عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Dari Mua’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah saw memegang tangannya lalu bersabda, wahai Mu’adz, demi Allah sungguh aku menyayangimu, demi Allah sungguh aku menyayangimu, aku akan berwasiat kepadamuya Mu’adz, janganlah kau tinggalkan setiap selesai shalat bacaan, allaahumma a-‘innii ‘alaa dzikrika … (Yaa Allah tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, untuk senantiasa syukur kepada-Mu dan untuk senantiasa baik dalam mengabdi kepada-Mu).

Demikian kumpulan dalil naqli tentang orang yang mustajab do'a dan waktu mustajab do'a. Disarikan dari maqolah Ust. Shiddiq Amien (Allohu Yarham) dalam salah satu kesempatan khutbahnya.
Penulis aswan blog pada kesempatan ini ingin memberikan catatan tambahan terkait siapa saja orang yang diijabah doanya dan kemudian kapan waktu yang tepat saat terkabulnya doa seorang mu'min berlandaskan keterangan dalil baik yang bersumber dari Al-Qur'an maupun keterangan hadits Rasululloh SAW.
Waktu-waktu diijabah doa berdasarkan keterangan hadits Nabi Muhammad SAW / sunnah Rasulullah
  1. Ketika berbuka puasa
  2. Ketika shalat dan selepas shalat fardlu (Wiridan)
  3. Saat sepertiga akhir malam
  4. Saat adzan berkumandang
  5. Ketika bangun tengah malam, dengan catatan dia berwudlu sebelum tidurnya
  6. Antara adzan dan iqomat
  7. Saat sujud waktu shalat
  8. Saat kehujanan
  9. Saat ajal segera tiba
  10. Pada waktu malam lalatul qodar di bulan Ramadhan
  11. Pada waktu hari arafah yakni tanggal 9 Dzulhijjah
  12. Sesaat pada hari jum'at
Orang yang diijabah do'a berdasarkan keterangan hadits Nabi Muhammad SAW / sunnah Rasulullah
  1. Orang yang didzolimi
  2. Orang yang sedang bepergian / safar
  3. Orang tua kepada anaknya
  4. Orang yang shaum
  5. Pemimpin yang adil
  6. Seorang muslim kepada saudaranya seiman
  7. Anak kepada orang tuanya
Demikian penjelasan dalil tentang doa terkait waktu diterima do'a dan siapa saja orang yang pasti diijabah do'anya yang berlandaskan dalil yang sohih bersumber dari Sunnah Rasululloh SAW.
Semoga bermanfaat.
ReadmoreDalil Tentang Orang Yang Mustajab Do'a dan Waktu Mustajab Do'a

Upacara Adat Sunda Paturay Tineung

Upacara adat sunda Paturay Tineung tos janten tradisi taunan di satiap sakola dina raraga ngaleupas siswa atawa murid anu bakal kaluar di taun eta. Umumna acara ieu jadi momen anu teras diinget jeung mangrupikeun wejangan ti guru ka para muridna.

Kangge nyukseskeun acara budaya sunda Paturay Tineung biasana pelatih event milari referensi tina sagala rupi media anu mangrupikeun puisi, sajak, lagu sunda jeung sajabana. Postingan ieu kangge saderek anu milarian contoh upacara budaya sunda Paturay Tineung.

Di handap ieu Conto Upacara Adat Sunda Paturay Tineung pelepasan siswa sareng kenaikan kelas di sakola, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA.

Narator bubuka :
Kum……..asalamualaikum
Sampurasun kanu ngariung
Neda widi kanu linggih
Seja mirig nu sumping
Kemprang mapag nu datang
Binarung kasinugrahaan
Dina rinekna budaya sunda

1.    Gending bubuka
2.    Guruh
Narator:
            nitih wanci nu mustari
Ninggang mangsa nu utama
Mangsana bade paturay
Sapu nyere pegat simpay
Pacampur suka jeung duka
Pagalo seneng jeung lewang
Sdn…………….nu urang
Ngbralkeun nu rek amitan
Nu tamat lalakon leumpang
Duh kedal lisan pileuleuyan
Sumangga urang rampes kasumpinganana
Siswa-siswi nu rek amitan

3.    Ki lengser midang
4.    Pager ayu jeung payung agung
Narator:
            bandera papayung agung
Temen deudeuh pangbagea
Dipapag ku aki lengser
            di ibingan digendingan payung agun
            haturan anaking geura lalinggih
            hung……hung……ahung

5.    Jajap siswa siswi kelas……
Narator:
            haturan jimat anaking
            hidep anu dianti-anti
            yap sumangga lenggah
            …………………………………………….
            mana siswa anu karasep the
            mana siswi anu garelis the
            kupalinter hidep the anaking
            jeung garagah deui…………….
            bubuhan titisan tiluhurna
            …………………………………………………
            kentel peujit balas peurih
            kuru cileuh balas maca
            arasak tapak……………………….
            geura tampa pangbagea
            tina jadi sepuh
            yap anaking
            urang bageakeun
            urang kangkalungan
            kumedali sinangling ati
            …………………………………………………
.
6.    Acara sungkeman
Narator:
Kasep ……..geulis amaking
Dipayun hideup parantos calik bapak kepala sekolah miwah ibu guru nu maksadna bade ngadugikeun kanyaah sareng ka asih ka hidep nu mangrupi piwejang

Kieu kasep…….geulis anaking
Bagea anaking bagea……….poe ieu kabungah bapak miwah ibu sadaya tembus ka langit katujuh, parat ka congka rasa …………….rehna hidep sakola ges rengse.
Jalan panjang nu baris di sorang geus nampeu di hareupeun hidep……bral geura miang, dimimitian ku ngucapkeu………… bismilah, bari dibarengan ku niat hate nu beresih tur suci.

Omat anaking ………………..
Hahalang jeung tantangan………….tapi sok sanajan kitu……..omat hideup ulah geumpeur jeung galindeur……….malah mah kudu jadi pecut pikeun ngudag sarta ngahontal cita-cita. Lamun hidep tetep panceg istiqomah di jalan allah ,,,,,,,,,,,,,insa allah bakal sanggup nyanghareupanana.

Kasep………..geulis anaking
Pamungkas samemeh hideup ngalengkah …………….ninggalkeun ieu sakola……..peupeujeuh hidep kudu yakin yen ilmu anu di pimilik ku hidep the bakal bisa nangtukeun luhur handapna darajat hideup ……………..
Bral ……………….geura miang kubapa miwah ibu di duakeun ………………………..
Ya allah ………………… ya robbi
Abdi titip ieu murangkalih …………..mugia aranjeuna dina nyiar elmu jeung panemu sing aya dina mungguh allah , mulia dina pandanngan papada manusa ……………….amin.

Kasep………geulis anaking
Sok ………ngdeug heula……….geura teuteup raray bapa sareng ibu nu parantos ngadidik sareng ngaping hidep salami 3 taun……………………dibarengan ku hate jumerit ka allah kalayan nyuhunkeun bdi hapunten tina sagala dosa……………….
Sok duaan sungkem ka bapak sareng ka ibu………………..

Bapak……………ibu hapunten abdi. Abdi rumaos seueur nyesahkeun , rumaos seueur ngadamel kalepatan. Sok ngeselkeun .
Rumaos tara tumat kana parentah bapa sareng ibu ……………….
Salami 3 taun abdi dididik, di aping ku bapak sareng ibu……………..
Dinten ieu abdi sareng rerencangan bade permios, seja ngantunkeun ieu sakola ……….. Du’akeun abdi sadaya supados tiasa na hasil cita-cita.
……………………………………………………………………………………….....
…………………………………………………………………………………………..
Bagea naking ku bapa sareng ibu teu weleh di hampura………… sadaya kalepatan hideup …bapak sareng ibu guru ngan ukur ngajurung ku du’a bral hideup geura miang…………………..geura tandang makalang………………………………….

Sumanggga ngadeg deui . Ayeuna uranng teraskeun kana acara ……………………………………………
.
7.    Ngaleupaskeun japati ( symbol pelepasan siswa – siswi )
Narator:
            kasep geulis jimat anaking
Dinten ieu bapak miwah ibu guru
Bade ngaleupas hidep sacara resmi ku symbol manuk japati

Kasep……geulis jimat anaking
Jejeg panceg  ….. Taun lamina
Ngarandapan suka jeung duka
Di asih, di asuh, ku bapak sareng ibu guru
Kiwari cunduk waktuna
Mungkas lalakon sakola di ……………….
Geura hontal cita –cita
Sumangga urang ngaos du’a sasarengan………………………
………………………………………………………………………..

Bismillahirrohmanirohim………………………………
Bismikatawakaltualallah………lahaola walakuata illabillahil aliyil      adzim……..
Bral……………………..bral ……………. Miang……

 Baca oge: Puisi Pangjajap pikeun siswa
Hiji dui rentetan kata anu sae Pidato pesan guru saat perpisahan. Arti paturay tineung dalam bahasa sunda bermakna "perpisahan".
ReadmoreUpacara Adat Sunda Paturay Tineung

Keterangan Hadits Dlo'if Tentang Amalan Ibadah Bid'ah di Bulan Sya'ban

Bulan Sya'ban merupakan bulan pengantar sampai ke bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kerap kali orang melalaikan bulan ini dalam beribadah sebab hanya menantikan datangnya bulan  Ramadhan saja. Padahal, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah haditsnya :

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk shaum ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Secara implisit Nabi Muhammad SAW menegur umatnya supaya benar-benar dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT tanpa memandang waktu bulan melaksanakannya, serta memperingatkan keras agar umatnya tidak beramal tanpa tuntunan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin sekali umatnya mengikuti ajaran beliau berupa amal sholeh seperti yang Beliau contohkan. Jika Nabi tidak memberikan tuntunan dalam suatu ajaran, maka tidak perlu seorang pun mengada-ada dalam membuat suatu amalan. 
Seringkali diantara ummat Islam dalam memandang Ibadah di Bulan Sya'ban dengan melihat keutamaan-keutamaan hadits di Bulan Sya'ban dengan serta merta sampai melampaui tuntunan Allah yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Padahal Islam sungguh mudah, cuma sekedar ikuti apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan, itu sudah cukup.

Dengan tegas Rasulullah SAW melalui hadits yang diterima dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, mengultimatum:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Pada hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ditegaskan pula:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Pengertian Bid'ah
Secara etimologis bid’ah didefinisikan oleh Asy Syatibi rahimahullah dalam kitab Al I’tishom:

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.”

Amalan Ibadah Sunnah di Bulan Sya’ban
Tentang Ibadah yang disunnahkan di bulan Sya’ban adalah memperbanyak shaum. Seperti yang disaksikan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melalui sebuah hadits Aisyah RA berkata:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Melalui hadits ini jelas dicontohkan agar kita memperbanyak shaum di bulan Sya'ban ini, tetapi shaumnya ini bukan merupakan shaum yang dikhususkan untuk hari-hari tertentu di bulan tersebut, melainkan shaum sunnah yang biasa dilakukan di bulan-bulan yang lainnya. Seperti shaum senin - kamis, shaum pertengahan bulan ataupun shaum daud.
Selain itu juga bulan sya’ban yang amat dekat dengan bulan Ramadhan, khusus bagi yang masih memiliki utang shaum qodo, maka ia punya kewajiban untuk segera melunasinya. Jangan sampai ditunda kelewat bulan Ramadhan berikutnya.

Amalan Ibadah Bid'ah di Bulan Sya’ban
Adapun amalan yang tidak ada tuntunan dari Nabi SAW atau dengan kata lain Ibadah Bid'ah,  tumbuh subur di bulan Sya’ban, dengan motivasi dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Sangat dimungkinkan amalan tersebut adalah warisan leluhur yang dijadikan ritual, atau mungkin didasarkan pada hadits dho’if (lemah) atau maudhu’ (palsu). 
Berikut beberapa di antara Ibadah Bid'ah di Bulan Sya'ban:

1. Kirim do’a untuk kerabat yang telah meninggal dunia dengan baca yasinan atau tahlilan. Yang dikenal dengan Ruwahan karena Ruwah (sebutan bulan Sya’ban bagi orang Jawa) berasal dari kata arwah sehingga bulan Sya’ban identik dengan kematian. Makanya sering di beberapa daerah masih laris tradisi yasinan atau tahlilan di bulan Sya’ban. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya. Tiada ada hadits dlo'if pun yang menyatakan amalan ibadah seperti ini.

2. Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat dan do’a
Tentang malam Nishfu Sya’ban sendiri ada beberapa kritikan di dalamnya, di antaranya:
a. Tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu dalil pun yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dan dalil yang ada hanyalah dari beberapa tabi’in yang merupakan fuqoha’ negeri Syam.” (Lathoif Al Ma’arif, 248). Juga yang mengatakan seperti itu adalah Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, penulis Tuhfatul Ahwadzi.
Contoh hadits dho’if yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban, yaitu hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya).” [Berarti hadits tersebut dho’if/ lemah].

b. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ
“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya untuk shalat. Dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dari hari lainnya untuk berpuasa.” (HR. Muslim no. 1144). Seandainya ada pengkhususan suatu malam tertentu untuk ibadah, tentu malam Jum’at lebih utama dikhususkan daripada malam lainnya. Karena malam Jum’at lebih utama daripada malam-malam lainnya. Dan hari Jum’at adalah hari yang lebih baik dari hari lainnya karena dalam hadits dikatakan, “Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at.” (HR. Muslim). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar jangan mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya dengan shalat tertentu, hal ini menunjukkan bahwa malam-malam lainnya lebih utama untuk tidak dikhususkan dengan suatu ibadah di dalamnya kecuali jika ada dalil yang mendukungnya. (At Tahdzir minal Bida’, 28).

c. Malam nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam lainnya.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Malam Nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban (15 Hijriyah).” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 115)

d. Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban sebenarnya sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.

‘Abdullah bin Al Mubarok rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).

Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29).

3. Menjelang Ramadhan diyakini sebagai waktu utama untuk ziarah kubur,
yaitu mengunjungi kubur orang tua atau kerabat (dikenal dengan “nyadran”). Yang tepat, ziarah kubur itu tidak dikhususkan pada bulan Sya’ban saja. Kita diperintahkan melakukan ziarah kubur setiap saat agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ

“Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976). Jadi yang masalah adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk ‘nyadran’ atau ‘nyekar’. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

4. Menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar, adusan, atau keramasan.
Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Puasa tetap sah jika tidak lakukan keramasan, atau padusan ke tempat pemandian atau pantai (seperti ke Parangtritis). Mandi besar itu ada jika memang ada sebab yang menuntut untuk mandi seperti karena junub maka mesti mandi wajib (mandi junub). Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”), ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan (baca: ikhtilath) dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

Cukup dengan Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat amalan yang tidak ada tuntunannya. Karena (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

Orang yang beramal sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah yang akan merasakan nikmat telaga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak. Sedangkan orang yang melakukan ajaran tanpa tuntunan, itulah yang akan terhalang dari meminum dari telaga yang penuh kenikmatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui ajaran yang tanpa tuntunan yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049). 

Sehingga kita patut hati-hati dengan amalan yang tanpa dasar. Beramallah dengan ilmu dan sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Ibnu Taimiyah).

Demikian sebuah Amalan Ibadah Bid'ah di Bulan Sya'ban Keterangan Hadits Dlo'if. Semoga dapat dijadikan referensi kita dalam beribadah yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW. 
ReadmoreKeterangan Hadits Dlo'if Tentang Amalan Ibadah Bid'ah di Bulan Sya'ban

Pesan Guru Kepada Siswa Saat Perpisahan Pelepasan Santri

Sosok ulama teladan KH. SHIDDIQ AMIEN (Allohu Yarham) selalu mewasiatkan kepada seluruh santrinya yang baru lulus menamatkan pendidikan di Pesantren Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sangat mengharukan sarat akan pesan-pesan yang memotivasi menggugah semangat menghadapi hidup dalam kehidupanyan nyata.

Pesan guru kepada siswa saat pelepasan santri berupa pidato puisi karya Beliau berikut biasanya disampaikan dalam acara paturay tineung dengan upacara adat sunda di sekolah atau pesantren yang dipimpinnya. Hadirin yang terdiri dari siswa yang akan dilepas bersama orang tua masing-masing saat mendengar ucapan tausyiah tersebut dapat berlinang air mata terhanyut dalam kesedihan.

Puisi pesan dari guru kepada siswa tersebut biasa disampaikan terus menerus setiap tahun dengan redaksi yang hampir sama. Isi dari uraian pidato pelepasan dari guru tersebut berupa renungan, kata-kata mutiara ilmu dan juga do'a pengharapan. Ini menjadi inspirasi kepada seluruh alumni yang pernah dilepas termasuk penulis untuk berkarir di dunia yang sesungguhnya.

"Pesan Dari Sang Guru Ust. Shiddiq Allohu Yarham"
Bismillahirrahmanirrahim
Ananda,
Sekian tahun ananda berada di Pesantren ini, bergelut dengan ilmu,
Ditempa, dibina, dan dilatih, Suka dan duka, tawa dan tangis telah ananda lewati dan rasakan,
Sebagai bunga kehidupan yang harus ananda jalani,
Sebagai pengalaman yang menjadi guru terbaik,
Sebagai kenangan hidup yang sulit ananda lupakan.

Asatidzahmu, telah membina dan menempamu dengan segala keikhlasan,
Dengan segala kemampuan dan tanpa bosan,
Berbagai pendekatan, baik yang lembut maupun yang keras telah dilakukannya,bukan karena kebencian, tapi berdasar cinta kasih,
Beragam disiplin ilmu telah diberikan, dilatihkan dan ditumpahkan kepada ananda,
Dengan satu harapan, semuanya akan menjadi "Al-‘Ilmu Yuntafa’u Bihi“, menjadi bekal ananda melangkah ke masa depan,
Dengan penuh harapan menggapai cita-cita.

Orangtuamu, dengan penuh kasih sayang telah membesarkanmu,
Dengan segala jerih payah telah mendorongmu untuk menjadi manusia sukses, untuk menyelesaikan pendidikanmu di Pesantren tercinta ini,
Mereka telah bekerja keras, banting tulang bermandikan keringat,
Tanpa mengenal lelah, demi ananda,
Tak jarang orangtuamu kurang makan dan tidur, demi ananda
Dalam do’anya orangtuamu selalu memohon kepada Yang Maha Pengasih, agar ananda dijadikan anak yang sholeh, cerdas, takwa dan terampil, menjadi Qurrata A’yunin, Menjadi kebanggaan,
Yang akan membawa kemuliaan dan kebahagiaan,
Lahir dan bathin, dunia sampai di akhirat kelak,
Camkan itu wahai ananda !!

Hari ini,
Ananda akan mengakhiri masa pendidikan formal di Pesantren ini,
Ananda sudah dan akan terus beranjak dewasa,
Ingat ananda, Asatidzahmu dan orangtuamu berharap sangat,
Ananda akan lebih dewasa dalam berkata, bertindak dan berprilaku,
Dalam cara berpakaian, berpenampilan dan bergaul,
Sesuai dengan tuntunan islam yang telah ananda pelajari,
Ananda akan lebih zuhud, sabar dan tawadlu’,
Mereka menuntut ananda mampu membuktikan
Atsar dan hasil pendidikan selama inidalam bentuk amal dan akhlak,
Ingat ananda,
Asatidzahmu dan orangtuamu akan sangat kecewa dan prihatin
Jika ananda tidak menampakkan perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik menurut tolok ukur Al-Islam.
Mereka tidak menuntut balasan dalam bentuk materi darimu ananda,
Mereka hanya menuntut ananda menjadi anak yang sholeh,
Anak yang sukses dan berguna.

Ananda telah melewati masa ujian akhir
Yang mungkin ananda rasakan berat dan melelahkan,
Tapi ananda harus ingat ujian belum akan berakhir, ujian yang lebih beratakan ananda hadapi
Ujian di tengah masyarakat yang heterogen
Yang bukan hanya menuntut kecerdasan otak dan fikiran
Tapi kejernihan hati, kesabaran dan ketabahan jiwa
Ananda akan merasakan betapa masih bodohnya diri,
Masih lemahnya jiwa dan kurangnya pengalaman
Hadapilah semuanya itu dengan penuh tawakal.

Ananda,
Ananda masih ingat pepatah yang mengatakan :
“Buku adalah gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya“
Meski ananda tinggal di gudang buku dan kitab
Tapi jika ananda malas membaca, akan sulit ananda menjadi orang alim,
Tidak ada manusia sukses (baik yang kaya, yang pinter, yang berkedudukan) hasil malas, diam dan berpangku tangan,
Semuanya hasil belajar dan kerja keras.
Kuasai bahasa, jadilah ananda guru,
Guru di keluarga, guru di tempat kerja, guru di masyarakat,
Insya Allah ilmu ananda akan bertambah.
Jangan sekali-kali ananda merasa cukup dan puas dengan ilmu yang telahdimiliki, ananda akan tertinggal dan minder dalam pergaulan dan persaingan hidup,
Teruslah belajar, belajar dan belajar,
Sesuai dengan prinsip pendidikan sepanjang hayat dalam Islam
Long Life education, Minal mahdi ilal lahdi,
No Old to learn. Tiada alasantua untuk belajar.
Jika ananda tidak bisa kuliah atau melanjutkan ke Perguruan tinggi,
Janganlah kecil hati dan patah semangat, banyak jalan menuju sukses,
Perguruan tinggi bukan satu-satunya jalan, dan bukan sebuah jaminan,

Ananda,
Melesatlah bagai busur anak zaman,
Terbanglah kalian untuk menjadi bagian generasi muda berprestasi
Demi Islam yang kita yakini
Demi tanah air yang kita cintai
Yang kini sedang merana karena kita terjajah di negeri sendiri
Tingkatkan kemapanan kalian
Raihlah ilmu setinggi langit
Jelajahi bumi Eropa, jamahi bumi Afrika
Temukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia
Tuntutlah ilmu sampai ke Sorbone di Prancis, Al-Azhar di Mesir,
OHIO University di Columbus AS, ITB,UI, atau UGM di Indonesia.
Letakkan kening dengan khusyu saat sujud mengagungkan Allah di Masjidil Haramdan Masjid Nabawi.
Jumpai beragam bahasa dan budaya, serta orang-orang asing di dunia
Baca bintang gemintang, arungi padang gurun
Biar kakimu melepuh terbakar pasir
Limbung dihantam angina, menciut dicengkram dinginnya kutub,
Carilah hidup yang menggetarkan dan penuh dengan penaklukan
Rasakan saripati hidup
Sehingga terasa keindahannya sampai di sumsum kalian.

Ananda,
Hari ini ananda akan berpisah dengan teman - teman
Teman sekelas, seasrama, sepermainan, sesuka dan duka, teman bercanda dan temanbelajar.
Ananda jangan bersedih dan berkecil hati, sebab ananda akan bertemu dengankawan dan teman baru.
Dalam hidup dan perjuangan, ananda perlu kawan
Hidup tanpa kawan ibarat badan tanpa tangan.
Tapi kawan mesti dipilih, sebab kawan bisa jadi pengubah jiwa.
Kawan itu ibarat makanan, ananda salah makan binasalah badan
Kawan itu ibarat obat, tidak dimakan setiap hari, tapi dia bukan musuhmu
Kawan itu juga bisa jadi racun bagimu,
Menjauh dirilah darinya, tapi jangan membenci,
Carilah kawan sebagai teman hidup dan berjuang yang bisa menyiram jiwa,
Menghijaukan usaha dan menyegarkan fikiran,
Memilih kawan hendaknya seperti memilih pakaian
Ukur sesuai dengan kondisi badan, pilih corak secorak jiwamu,
Tiap jenis mencari jenis.
“Wa idzan nufusu zuwwijat“, Ath-Thoiru ‘Ala Asykaliha Taqo’u, At-Thoiru bit Thoiri Yushodu, Bird of feather flock together. Orang yangbutuh siraman rahmat akan berkawan dengan pembawa rahmat.
“Al-Mu’minu mir’atu akhihi“ Lihat dan perhatikan siapa temanmu itu
Jika mereka berakhlak baik, maka ananda juga tidak akan jauh dengan mereka.Tapi jika temanmu ini berprilaku buruk, berkata kotor dan kasar,
Maka ananda tidak akan berbeda dengan mereka, segeralah menjauh dari mereka !!

Ananda,
Sebagaimana ananda saksikan dan rasakan,
Barisan tua di kalangan ulama semakin menipis jumlahnya,
Satu sunnatullah yang akan berjalan terus, dan harus kita terima
Thou’an wa karhan, Suka ataupun taksuka
Maka setiap kali ananda mendengar berita pelepah tua jatuh
Seorang ulama wafat, bunyi itu haruslah menjadi sinyal bagi ananda
Bahwa giliran bagi ananda untuk tampil menggantikannya sudah dekat,
Bagi tenaga menurut bidangmu masing-masing.
Setiap saat kita mendengar ulama dan orang sholeh wafat,
Pergi satu persatu, dan takkan pernah kembali,
Mereka telah menghadap ke haribaan Ilahi Rabbi
Sedang Penggantinya ? Pelanjutnya ?

Rabbi la tadzarni fardan !
Ya Allah ya Rabbi, jangan Engkau biarkan hamba sepi sendiri,
Kehilangan pengganti, pelanjut garis perjuangan.
Penerus himmah jihad, Bila maut kelak menjemput hamba
Untuk menghadap kehadirat-Mu ya Rabbi.

Wa Inni Khiftul mawaliya min warai, wa kanati imraati ‘aqiran
Ya Allah, hamba begitu takut dan khawatir
Jika kelak hamba-hambamu yang telah lanjut usia ini tiada
Jika ulama dan orang-orang sholeh Engkau panggil satu persatu
Siapakah yang akan membimbing umat dan bangsa ini ?
Sementara ibu-ibu masa kini pada mandul
Tidak mampu melahirkan kader-kader ulama baru,
Mereka begitu takut dan kawatir jika anaknya jadi ulama tidak bisa hidup layak,akan hidup miskin dan papa.
Benarkah kebahagiaan itu hanya ada dalam harta kekayaan ?
Mengapa mereka begitu kawatir dengan masa depan hidup putra-putrinya ?
Sepertinya mereka egois dan ananiyah.
Mengapa mereka begitu ragu akan kasih sayang dan rahmat-Mu ya Rabbi.?
Sementara Muhammad saw. Nabi dan rasul-Mu telah mengingatkan
Kiamat akan menimpa sebuah umat dan bangsa bila di tengah mereka
Ulama tiada, atau ada tapi peran mereka tiada
Umat tidak ada yang membimbing jiwanya.

Fa Habli min ladunka Waliyya
Ya Allah, berilah hamba dari hadirat-Mu
Putra-putri pilihan, kader terbaik dan tangguh
Untuk melanjutkan perjuangan para Ulama Waratsatul anbiya
Diantara putra-putri didik kami
Yang saat ini akan meninggalkan lembaga pendidikan ini
Bimbinglah mereka ya Rahman, Ya Rahim dengan rahmat, inayah dan
Hidayah-Mu
Beri mereka iman yang kuat, hati yang tulus, lurus dan istiqomah,
Himmah yang benar dan besar,
Lindungi mereka dari godaan dunia dan jebakan syetan
Beri mereka kekuatan dan kemampuan untuk meneruskan perjuangan
Penyambung estafeta, pengemban risalah dan panji-panji-Mu.
Yang terasa semakin langka
Sementara tantangan perjuangan terasa semakin banyak dan berat

Ya Rabbi, Innaka tasma’u kalami, wa taro makani, Wa ta’lamu sirri wa‘ala niyyati, wa ana al-Baisul faqir, asaluka al-ijabah
Ya Rabbi, Engkau Maha mendengar permohonan hamba,
Engkau Maha mengetahui, disini saat ini kami berkumpul
Engkau Maha Mengetahui apa yang nampak dan tersembunuyi dalam hati kami
Kami semua makhluk yang faqir, yang sangat membutuhkan limpahan rahmat-Mu,Penuhilah do’a dan harapan kami.

Anaking,
Bral hidep kabeh geura miang,
Tandang makalangan di medan perjuangan
Dijajap ku du’a jeung harepan guru jeung kolot hidep
Tong rempan, tong salempang, sing tawakal ka nu Maha Heman
Tuh tempo ku hidep, umat ngadagoan hidep mulang
Amarikut ngelek ngegel, rebo ku elmu jeung pangabisa
Kasep, geulis ku akhlakul karimah
Poma hidep ulah deuk khianat
Kana elmu, iman jeung amanat anu jadi kolot jeung guru hidep
Hidep bakal nyanghareupan ujian hirup anu beuki beurat
Rupa-rupa gogoda jeung cobaan
Hidep kudu tabah, sabar jeung tawakal
Muga-muga rahmat, inayah jeung hidayah Allah salilana ngaping,
Ngajaring hidep sakumna,
Bral, bral, anaking geura miang ...

Benda, Juni 1999
Shidiq Amien
................................
Demikian semoga pesan guru kepada siswa ketika perpisahan sekolah ini juga dapat menjadi ibroh kepada siapa saja yang tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan ini untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki di dunia maupun di Akhirat. Amin
ReadmorePesan Guru Kepada Siswa Saat Perpisahan Pelepasan Santri