Thursday, 14 June 2018

Dalil Ucapan Doa Menjelang Akhir Bulan Ramadhan

Dalil Ucapan Doa Menjelang Akhir Bulan Ramadhan

Postingan kali ini menguraikan selintas mengenai dalil ucapan menjelang akhir bulan ramadhan. Sebuah dalil kritis terhadap kebiasaan dan budaya di kalangan mayoritas umat Islam di Indonesia dari segi tinjauan dalil hadits Rasulullah.
Doa 10 hari terakhir bulan Ramadhan mengharap Malam Lailatul Qadar
Dalil pada Doa akhir Ramadhan bersumber dari hadits nabi yang diriwayatkan oleh Siti ‘Aisyah dalam rangka mengharapkan Lailatul Qadar. Ajaran yang telah diberikan oleh Nabi memerintahkan doa seperti di bawah ini.
Bacaan doa akhir Ramadhan ini berdasarkan hadits sohih yang semestinya dilakukan oleh setiap muslim untuk mengharap lailatul qadar dengan memohon ampun kepada Allah Swt..
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيُّ عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’i dari Kahmas bin al-Hasan dari Abdullah bin Buraidah dari Aisyah ia berkata, “Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui malam apakah lailatul qadar, apakah yang aku ucapkan padanya?” Beliau mengatakan, “Ucapkan: Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku).” Abu Isa berkata, “Hadis ini adalah hadis hasan sahih. (H.R. Tirmidzi 3435 diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah 3840, Ahmad 24215, 24320, 24322, 24330, 24559, dan 25018)
Redaksi dari do'a dari dalil hadits Rasul tersebut adalah sebagai berikut :
 اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Selain do'a menjelang akhir di malam 10 hari terakhir Ramadhan ada juga dalil-dalil amaliyah ibadah lain terkait hal itu. Berikut dalil ucapan menjelang akhir bulan ramadhan pada hadits lain untuk permasalahan meminta maaf ketika ‘iedul fithri: mari kaum muslim untuk melihat beberapa riwayat dan perkataan para ulama:

Imam Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, seorang ulama hadits dan besar madzhab syafi’iyyah berkata terkait doa ucapan lebaran idul fitri adalah sebagai berikut :
وروينا في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك
“Diriwayatkan kepada kami di dalam kitab Al Muhamiliyat, dengan sanad yang hasan (baik) dari Jubair bin Nufair, beliau berkata: “Senantiasa para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika bertemu pada hari ‘ied, sebagian mereka mengatakan kepada yang lain: “Taqabbalallahu minna wa minka” (semoga Allah menerima amal ibadah dari kita dan dari anda). lihat kitab Fath Al Bari 2/446. Dalil hadits ucapan hari raya.
Dan Ibnu Qudamah (seorang ahli fikih dari madzhab hanbali) rahimahullah menukilkan dari Ibnu ‘Aqil tentang memberikan selamat pada hari ‘ied, bahwasanya Muhammad bin Ziyad berkata: “Aku bersama Abu Umamah Al Bahili (seorang shahabat nabi) radhiyallahu ‘anhudan selainnya dari para shahabat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka jika pulang dari shalat ‘ied berkata kepada sebagian yang lain: “Taqabbalallahu minna wa minka”. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahberkata: “sanad hadits Abu Umamah adalah sanad yang baik,dan Ali bin Tsabit berkata: “Amu telah bertanya kepada Malik bin Anas rahimahullah akan hal ini dari semenjak 35 tahun yang lalu, beliau menjawab: “Masih saja kami mengetahui akan hal itu dilakukan di kota Madinah”. Lihat Kitab Al Mughni 3/294.

Dan Imam Ahmad rahimahullah: “Tidak mengapa seseorang mengatakan kepada orang lain pada hari ‘ied: “Taqabbaalallahu minna wa minka”.

Harb berkata: “Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang perkataan orang-orang di hari ‘ied (‘iedul fithri atau ‘iedul adhha) “Taqabbalallahu minna wa minkum, beliau menjawab: tidak mengapa akan hal tersebut orang-orang syam meriwayatkan dari shahabat nabi Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. lihat kitab Al Mughni 3/294

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Adapun memulai mengucapkan selamat pada hari ‘ied adalah bukan merupakan sunnah yang diperintahkan dan juga bukan sesuatu yang dilarang, maka barangsiapa yang melakukannya ia mempunyai pekerjaan yang dijadikan sebagai tauladan dan kalau ada yang meninggalkan ia juga mempunyai orang yang dijadikan sebagai teladan. wallahu a’lam”. lihat kitab Majmu’ Al Fatawa 24/253

Dari penjelasan di atas semoga bisa dipahami bahwa mengkhususkan meminta maaf pada hari ‘ied bukan merupakan pekerjaan para shahabat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam radhiyallahu ‘anhum, akan tetapi yang mereka lakukan adalah mendoakan satu dengan yang lainnya sebagaimana penjelasan di atas dan ini yang paling baik dilakukan oleh kaum muslimin.

Terakhir saya akan sebutkan sebuah perkataan indah dari Abdullah bin Mas’ud (seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) radhiyallahu ‘anhu:
عن ابن مسعود – رضي الله عنه – قال : «مَن كانَ مُسْتَنًّا ، فَلْيَسْتَنَّ بمن قد ماتَ ، فإنَّ الحيَّ لا تُؤمَنُ عليه الفِتْنَةُ ، أولئك أصحابُ محمد – صلى الله عليه وسلم – ، كانوا أفضلَ هذه الأمة : أبرَّها قلوبًا ، وأعمقَها علمًا ، وأقلَّها تكلُّفًا ، اختارهم الله لصحبة نبيِّه ، ولإقامة دِينه ، فاعرِفوا لهم فضلَهم ، واتبعُوهم على أثرهم ، وتمسَّكوا بما استَطَعْتُم من أخلاقِهم وسيَرِهم ، فإنهم كانوا على الهُدَى المستقيم».
”Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang bersuri tauladan maka hendaklah bersuri tauladan dengan orang yang sudah meninggal, karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak aman dari tertimpa fitnah atasnya, merekalah para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka adalah orang-orang yang termulia dari umat ini, yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit untuk berbuat yang mengada-ngada, Allah telah memilih mereka untuk bershahabat dengan nabiNya, untuk menegakkan agamaNya, maka ketauhilah keutamaan mereka yang mereka mililki, ikutilah jalan-jalan mereka, dan berpegang teguhlah semampu kalian akan budipekertibudi pekerti mereka dan sepak terjang mereka, karena sesungguhnya mereka diatas petunjuk yang lurus”.diriwayatkan dengan sanadnya oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Kitab Jami’ bayan Al ‘Ilmi wa Ahlih (2/97) dan disebutkan oleh Ibnu Atsir di dalam Jami’ Al Ushul Fi Ahadits Ar Rasul (1/292).
Demikian mengenai dalil dan do'a ucapan menjelang berakhir bulan ramadhan.
Informasi lain tentang kumpulan kalimat gaul terkait hari raya yaitu rangkaian kata puisi lebaran terbaru untuk sarana referensi berbagi bacaan curhat atau pesan anda.

Monday, 11 June 2018

Doa Sedih Muhasabah Diri Dari Dosa dan Kesalahan

Doa Sedih Muhasabah Diri Dari Dosa dan Kesalahan

Kumpulan Kata renungan berikut menjadi kalimat yang cocok dalam acara muhasabah do'a yang dipanjatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun perlu diingat dalam penyampaiannya haruslah dengan hati bukan hanya sekedar membacakannya saja. Untaian doa sedih muhasabah diri baik disampaikan untuk mengingatkan siapa saja di sekitar bahwa hakikat hidup ini sementara dan kita perlu senantiasa ingat dari dosa dan kesalahan baik yang sengaja terasa maupun yang tak disengaja.

Puisi yang tulus dalam do'a dan muhasabah akan memberikan dampak sedih pada hati mengingat akan dosa dan kesalahan yang telah dilakukan selama ini. Melalui doa muhasabah dosa tersebut kita mohon ampunan agar tidak terlena bahwa hidup itu tak akan selamanya, suatu saat pasti akan berakhir dan kembali ke haribaannya. 

Dampak yang diharapkan setelah orang merasa akan dosa dan kesalahannya, pada tingkah laku dan meningkatnya amal ibadah. Kalimat doa muhasabah di bawah dapat anda sampaikan untuk siapa saja termasuk saat menjelang akhir ramadhan, momen bulan puasa, khutbah idul fitri lebaran, momen pelepasan siswa sekolah SMA, pelajar ataupun karyawan dan di berbagai kegiatan lain sebagainya. Bentuk acara bisa dalam kegiatan ceramah, khutbah hari raya, kesiswaan, mabit / renungan malam dan akhir dalam pidato.

Contoh doa sedih muhasabah refleksi diri mengingat dosa dan kesalahan adalah sebagai berikut.

Ya Allah,
Engkau beri kami mata, tapi kami sering gunakan untuk melihat yang tidak pantas kami lihat; kami tidak menggunakannya untuk membaca ayat-ayat-Mu
Enkau beri kami telinga, tapi kami sering gunakan untuk mendengar kata sia-sia; kami tidak menggunakannya untuk mendengar nasehat
Engkau beri kami lidah, tapi kami sering gunakan untuk berbohong dan menggunjing; kami tidak menggunakannya untuk berdakwah, saling menasehati dalam kebenaran
Engkau beri kami tangan, tapi kami sering gunakan untuk menzalimi orang dan menzalimi kami sendiri; kami tidak menggunakannya untuk menyingkirkan kemungkaran
Engkau beri kami kaki, tapi kami sering gunakan untuk melangkah menuju tempat maksiat; kami tidak menggunakannya untuk pergi berjihad
Engkau beri kami akal, tapi akal itu jarang kami gunakan untuk memikirkan bagaimana berhukum dengan syari'atmu, akal kami yang liar justru sering memakainya untuk memikirkan hal-hal yang kotor dan licik

Ya Allah, andaikata engkau cabut itu semua?
Kalau engkau cabut mata ini, bagaimana kami bisa melihat indahnya dunia?
Kalau engkau cabut telinga ini, tentu bagi kami dunia ini akan sunyi tanpa nada dan irama?
Kalau engkau cabut lidah ini, tentu kami tak sanggup teriak minta tolong di kala ada marabahaya.
Kalau engkau cabut tangan kami, bagaimana akan menangkis serangan yang menghujam dada
Kalau engkau cabut kaki kami, kemana kami akan berlari ketika bencana melanda
Dan kalau engkau cabut akal kami, kami tak tahu apakah kami ini binatang atau manusia

Ya Allah
Engkau beri kami usia hingga setua ini, tapi kami sering lalai hingga usia itu berlalu percuma
Nafas demi nafas engkau berikan, tapi tidak menjadi amal apapun jua
Sehat lebih menyertai hari-hari kami, tapi tidak membuat kami ringan untuk berjihad
Cahaya mataharimu menerangi kami setiap hari, tapi kami justru mencari kegelapan
Bumi yang kau sediakan untuk berpijak, sering kami injak-injak dengan penuh kesombongan
Langit yang kau ciptakan sebagai atap, jarang mengingatkan kami kepada keagunganMu, padahal kami tidak pernah akan sanggup mengungkap rahasianya

Ya Allah, kami sungguh ngeri
Bila detik-demi-detik yang telah Kau berikan, di akherat nanti menuntut mengapa dia kami sia-siakan
bila setiap molekul oksigen-Mu yang pernah kami hirup dengan cuma-cuma, di hari kiamat nanti menuntut kami mengapa dia kami gunakan untuk maksiat kepada-Mu ya Allah
bila kesehatan kami akan meringankan timbangan amal kami, karena selama kami di dunia kami anggap ringan sehat pemberian-Mu ini ya Allah
bila cahaya matahari-Mu membakar kami di padang mahsyar, karena cahayanya yang ramah setiap pagi tidak menjadikan- kami mengingat kasih sayang-Mu
bila bumi yang perkasa menghimpit kami di alam kubur, karena selama di dunia kami dengan congkak berjalan di punggungnya
bila langit yang agung menimpa kami di hari kiamat, karena kami lupa keangungan penciptanya.

Ya Allah
Orang tua sangat menyayangi kami, tapi kami hampir tak pernah membalas budi mereka
Saudara dan kerabat menjaga kami sejak kecil, tapi kami lama tidak bertutur sapa dengan mereka
Tetangga menjaga rumah kami kalau kami pergi, tapi kami jarang peduli dengan kesulitan mereka
Teman sejawat selalu membantu, tapi kami hanya ingat padanya ketika kami butuh lagi pertolongan mereka
Pasangan hidup mendampingi kami di kala suka dan duka, tapi kami sering berkhayal pada orang selain dia
Anak-anak kami adalah harapan kami kelak, tapi kami tidak memperkenalkan mereka pada Tuhan dan Rasul Teladan mereka

Ya Allah, Bila engkau cabut nikmat ini,
Andaikata dulu ibu kami mengaborsi kami, lewat siapa lagi kami harapkan curahan Kasihmu ya Allah?
Andaikata kerabat kami memusuhi kami, lewat siapa lagi kami harapkan Kau menanggung kami ya Allah?
Andaikata tetangga kami tak lagi peduli pada kami, lewat siapa lagi kami harapkan Kau jaga rumah dan keluarga kami ya Allah?
Andaikata teman sejawat kami mengucilkan kami, lewat siapa lagi kami harapkan Kau beri kesempatan kami maju ya Allah?
Andaikata pasangan hidup kami selingkuh di belakang kami, lewat siapa lagi kami harapkan cinta-Mu ya Allah?
Andaikata anak-anak kami semua durhaka melawan kami, lewat siapa lagi kami harapkan kebahagiaan dalam hidup kami dariMu ya Allah?
Oh Ya Allah, Ampunilah kami ya Allah, selama ini kami tak juga mensyukuri nikmat yang begitu besar ini ya Allah.

Ya Allah
Engkau telah beri kami nikmat yang tak terhingga
Engkau mengeluarkan kami dari rahim ibu kami tanpa membawa apa-apa
Namun kini kadang-kadang ada makanan yang lezat terhidang di hadapan kami
ada pakaian yang bagus menghiasi tubuh kami
ada rumah tempat kami berlindung dari hujan dan terik matahari
kami mudah menggunakan kendaraan ke tempat yang kami mau
ada sejumlah uang di dompet atau rekening kami
Dan ada pula sedikit banyak penghormatan yang disematkan orang pada kami
Tapi mengapa kami masih suka mengeluh ya Allah, seakan nikmatMu tiada cukup
Mengapa selama ini kami tak pandai mensyukurinya ya Allah?
Makanan lezat itu tidak membuat tubuh kami makin giat beribadah
Pakaian bagus itu tidak membuat kami tergerak untuk menghias jalan-Mu
Rumah megah itu tidak bercahaya oleh bacaan Qur'an dan Majlis orang-orang shaleh
Kendaraan itu tidak membawa kami ke majlis ilmu maupun ladang-ladang jihad
Uang yang banyak itu belum menjadi manfaat bagi kaum dhuafa atau anak-anak yatim
Apalagi kehormatan ini, orang bertanya siapa yang telah mereguk manfaatnya

Ya Allah
Padahal mudah sekali bagiMu untuk meminta kembali apa yang Engkau titipkan
Kau bisa kirim bakteri, sehingga makanan ini jadi berbahaya bagi manusia
Kau bisa kirim jamur sehingga pakaian ini menjadi kusam dan busuk baunya
Kau bisa kirim api, sehingga rumah ini terbakar sempurna
Kau bisa kirim bencana, sehingga kendaraan itu rusak binasa
Kau bisa kirim banyak masalah, sehingga uang yang banyak itu ludes seketika
Kau bisa buka aib kami pada manusia, sehingga dari kehormatan itu justru malu yang ada
Ya Allah, Engkau begitu menyayangi kami, sungguh kami manusia yang durhaka

Ya Allah
Kau curahkan ilmu kepada kami, tetapi ilmu itu belum banyak kami amalkan dan kami gunakan untuk membawa manusia agar selalu ingat kepada-Mu
Kau mudahkan kami sholat, tetapi sholat itu belum membuat kami mampu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar; pula sholat kami jauh dari khusyu'
Kau mudahkan kami puasa, tetapi puasa kami belum membuat kami mencintai orang-orang yang lapar dan dahaga bertahun-tahun lamanya
Kau mudahkan kami shodaqoh, tetapi masih terselip perasaan riya' di dada
Kau mudahkan kami berzikir, tetapi zikir kami sebatas di masjid dan rumah-rumah saja
Sungguh malu kami menghadapMu ya Allah, apalagi memohon sesuatu kepadaMu
Tapi bila tidak kepadaMu, kepada siapa lagi kami harus memohon?
Kabulkanlah permohonan kami yang hina berikut ini ya Allah

Duhai Allah
Jadikanlah mata ini penglihatanMu ya Allah, agar ia hanya melihat hal-hal yang halal dilihatnya
Jadikanlah telinga ini pendengaranMu ya Allah, agar ia hanya mendengar hal-hal yang halal didengarnya
Jadikanlah lidah ini gaung wahyuMu, agar manusia hanya merasakan kedamaian dan cinta dariMu
Jadikanlah tangan ini perpanjangan Kasih SayangMu ya Allah,
Perjalankanlah kaki ini ke tempat-tempat yang Engkau ridha
Dan selimuti akal ini selalu dalam cahaya kebijaksanaanMu – wahai Al-Hakim

Duhai Allah
Jadikanlah agar ilmu yang Kau bagi pada kami, bermanfaat dan menyelamatkan kami di dunia dan di akherat
Jadikanlah agar harta yang Kau titipkan pada kami, selalu barokah bagi manusia, terutama kaum dhuafa
Jadikanlah agar jabatan yang Kau amanahkan pada kami, senantiasa kami gunakan untuk melayani ummat, melindungi yang lemah dan tertindas, dengan menerapkan syari’atMu
Jadikanlah keluarga kami keluarga yang penuh cinta, sakinah-mawaddah wa rahmah
Jadikanlah anak-anak kami anak-anak sholeh, yang doanya akan menerangi kubur-kubur kami
Jadikanlah makanan yang kami makan energi ibadah kami
Jadikanlah pakaian yang kami pakai, manifestasi ketaqwaaan kami

Duhai Allah
Berilah pada mereka yang kesempitan, hati dan dunia yang lapang
Berilah pada mereka yang sakit, kesembuhan dan sehat yang tidak melenakan
Berilah pada mereka yang miskin, kekayaan yang tidak melalaikan
Berilah pada mereka yang tertindas, kemerdekaan yang tidak memperdayakan
Berilah pada mereka yang sendirian, jodoh-jodoh yang kepadaMu akan saling mendekatkan

Duhai Allah
Berilah hidayah pada para pemimpin kami, agar mereka mengurus dan melayani kami dengan syariatMu yang penuh berkah, dan jadilahkan kami bersatu dalam menerapkan syariatMu ya Allah
Kami rindu dengan Rasulullah, dengan Khulafaur Rasyidin, dengan para Khalifah, dengan keadilan, kemakmuran dan keberkahan yang diciptakan oleh penerapan SyariahMu, dengan keberanian Thariq bin Ziyad ketika membakar kapalnya untuk menghapus keraguan pasukannya
dengan kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz sehingga rakyat tak ada lagi yang pantas menerima zakat
dengan kejeniusan Harun ar-Rasyid ketika membangun pusat-pusat ilmu pengetahuan di Baghdad
dengan ketegasan al-Mu’tashim Billah yang menyerbu Romawi untuk membela kehormatan seorang muslimah
dengan kemuliaan jihad Salahuddin al-Ayubi ketika memperlakukan Richard Lion Heart yang terluka
dengan keyakinan Muhammad al-Fatih ketika masuk Konstantinopel untuk memenuhi nubuwah Rasul
dengan ketegasan Sultan Abdul Hamid ketika menolak tawaran-tawaran zionis di Palestina

Berilah kami nikmat sebagaimana Engkau telah beri nikmat kepada mereka ya Allah
Kami yakin bahwa RasulMu benar, Khilafah ala minhajin Nubuwwah akan datang lagi,
Berilah kesempatan kami untuk menyaksikan kebesaranMu itu ya Allah,
dan berilah kami kekuatan dan kesabaran untuk menyumbangkan harta dan jiwa kami dalam perjuangan itu.
Amien ya Rabbal Alamien.

Demikian tadi rangkaian doa muhasabah diri yang ketika itu dilakukan dan berhasil dapat berdampak pada perilaku atau bahkan untuk program menikmat sholat khusuk.

Wednesday, 6 June 2018

Dalil Hadits Keutamaan Shaum 6 Hari di Bulan Syawal

Dalil Hadits Keutamaan Shaum 6 Hari di Bulan Syawal

Pembahasan pada artikel ini terkait dalil naqli yang membahas Hadits fadhilah / keutamaan shaum 6 hari di Bulan Syawal. Puasa sunat di bulan syawal memiliki pahala yang luar biasa, hal itu sangat berdasar pada keterangan dari berbagai kita hadits yang telah ditulis para ulama.

Analasis hadits keutamaan puasa syawal telah ditarjih akan kekuatan sanad dan kesohihan matan hadits tersebut. Tidak dipungkiri memang ada juga yang menganggap bahwa hadits puasa syawal di bawah mengalami kelemahan dalam sanad rowi hadisnya. Dengan adanya penjelasan dalil sohih tentang shaum pasca ramadhan dan keutamaan shaum bulan syawal maka seharusnya kita dapat mengamalkannya dengan penuh kepasrahan kepada Allah SWT.

Melalui makalah yang sedang di baca ini mari kita lihat pendapat dan alasan yang menganggap sohih dan yang berpendapat lemah hadits keutamaan shaum sunat di bulan Syawal.
Dalil hadits tentang keutmaan shaum puasa 6 hari di bulan Syawal
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِي سَعْدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتِ بْنِ الْحَارِثِ الْخَزْرَجِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ سَعِيدٍ أَخُو يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ ثَابِتٍ أَخْبَرَنَا أَبُو أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِمِثْلِهِ و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سَعْدِ بْنِ سَعِيدٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ . رواه مسلم 1984 وأحمد 22433 و
Artinya: …. dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada bulan Syawal, maka seolah dia puasa sepanjang tahun.” (Riwayat Hadits Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164)

Alasan pendapat yang mengatakan dhoif hadits Hadis Saum Syawwal
Ulama yang menyatakan bahwa shaum 6 hari di bulan Syawal itu tidak disyariatkan berpendapat bahwa hadis-hadis yang berkaitan dengan saum itu tidak dapat dijadikan hujjah, karena hadis-hadisnya daif. Adapun alasannya sebagai berikut:

A. Aspek sanad
1. Hadis-hadis tentang saum Syawwal diterima dari Sahabat Abu Ayub, dan pada umumnya diriwayatkan melalui Saad bin Said, dari Umar bin Tsabit. Saad dinyatakan daif oleh para ulama, yaitu
قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ عَنْ أَبِيْهِ ضَعِيْفٌ وَقَالَ النَّسَائِيُّ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ أَبِيْ حَاتِمٍ سَمِعْتُ أَبِيْ يَقُوْلُ سَعْدُ بْنُ سَعِيْدٍ الأَنْصَارِيُّ مُؤَدِّيٌ يَعْنِي أَنَّهُ كَانَ لاَ يَحْفَظُ وَيُؤَدِّيْ مَا سَمِعَ وَذَكَرَهُ بْنُ حِبَّانَ فِي كِتَابِ الثِّقَاتِ وَقَالَ كَانَ يُخْطِىءُ - تهذيب الكمال 10 : 264 –
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata dari ayahnya (Imam Ahmad), “Dia dhaif” An-Nasai berkata, “Tidak kuat” Abdurrahman bin Abu Hatim berkata, “Aku mendengar Bapakku berkata, ‘Saad bin Said Al-Anshari muaddi, yakni ia tidak hafal dan menyampaikan apa yang didengarnya’.” Ibnu Hiban menempatkan (rawi) ini di dalam kitab At-Tsiqat, dan berkata, “Dia melakuan kesalahan”. Tahdzibul Kamal X:264.

قَالَ الْحَافِظُ فِي التَّقْرِيْبِ سَعْدُ بْنُ سَعِيْدِ بْنِ قَيْسِ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِيُّ أَخُوْ يَحْيَى صَدُوْقٌ سَيِّءُ الْحِفْظِ
Al-Hafizh (Ibnu Hajar) berkata dalam kitab At-Taqrib, “Saad bin Said bin Qais bin Amr Al-Anshari saudara Yahya, dia jujur, buruk hapalan” Tuhfatul Ahwadzi III:468

قَالَ التِّرْمِذِيُّ : قَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيْثِ فِي سَعْدِ بْنِ سَعِيْدٍ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ
At-Tirmidzi berkata, “Sebagian ahli hadis membicarakan Saad bin Said dari segi hapalannya”. Tuhfatul Ahwadzi III:467
Imam Malik tidak mempergunakannya, dan mengingkari hadisnya. Aunul Ma’bud, VII:64

2. Sanad Saad bin Said dari Umar bin Tsabit diragukan kemuttasilan (bersambung) nya, karena pada beberapa riwayat Saad menerima secara langsung dari Umar bin Tsabit, sedangkan pada riwayat Abu Daud At-Thayalisi, Saad bin Said tidak menerima secara langsung dari Umar bin Tsabit, tetapi dari saudaranya yaitu Yahya bin Said. (Aunul Ma’bud, VII: Demikian pula pada riwayat At-Thabrani (Al-Mu’jamul Kabir IV:162).

3. Hadis Abu Ayyub yang diriwayatkan melalui rawi selain Saad bin Said, yaitu Abdur Rabbih, kata An-Nasai, “Pada sanadnya terdapat rawi bernama Utbah, ia tidak kuat. Aunul Ma’bud, VIII:62.

4. Hadis Abu Ayyub yang diriwayatkan oleh At-Thabrani (Al-Mu’jamul Kabir IV:161), Ibnu Hiban (Al-Ihsan bi Tartibi Shahihibni Hibban, VIII:396-397), Abu Daud (Sunan Abu Daud, II:544), An-Nasai (As-Sunanul Kubra, II:163) semuanya melalui rawi yang bernama Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi. Dia itu sayyiul hifzhi (buruk Hapalan). Siyaru A’lamin Nubala, VIII:367. Karena itu, di dalam Shahih-nya Imam Al-Bukhari menggunakan rawi Ad-Darawardi ini secara maqrunan (didampingi) oleh rawi lainnya yang tsiqat (kuat), seperti Abdul Aziz bin Abu Hazim (lihat, Shahih Al-Bukhari, IV:138, bab Qishshah Abi Thalib)

5. Hadis Abu Ayyub yang diriwayatkan oleh At-Thabrani (Al-Mu’jamul Kabir, IV:162), melalui Yahya bin Said, dari Umar bin Tsabit itu juga daif, karena pada sanadnya terdapat rawi yang bernama Abdullah bin Lahi’ah. Ibnu Main berkata, “Hadisnya tidak dapat dipakai hujjah.” Al-Hakim Abu Ahmad berkata, “Dzahibul Hadits (pemalsu hadis)”. Ibnu Hajar berkata, “Shaduq, rusak hapalannya setelah terbakar kitabnya” (lihat, Tahdzibul Kamal, bit tahqiq Dr. Basyar Awad Ma’ruf, XV:487-503

6. Kemuttasilan (bersambungnya) sanad Umar bin Tsabit dari Abu Ayyub diperbincangkan oleh para ulama, karena riwayat yang pokok dari Abu Ayyub itu melalui rawi bernama Muhammad bin Al-Munkadir bukan Umar bin Tsabit. Dengan demikian, sanad Saad bin Said, dari Umar bin Tsabit, yang tidak melalui rawi bernama Muhammad bin Al-Munkadir, tapi langsung menerima dari Abu Ayyub, tidak muttasil (terputus sanadnya). Lihat, Aunul Ma’bud, VII:65.

7. Selain diterima oleh sahabat Abu Ayyub Al-Anshari, hadis saum Syawwal diterima juga oleh sahabat-sahabat lainnya, yaitu
a. Jabir bin Abdullah riwayat Ahmad, Al-Bazzar, dan At-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jamul Ausath, dan pada sanadnya terdapat rawi bernama Amr bin Jabir, dia itu daif.
b. Abu Hurairah riwayat At-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jamul Ausath, dan pada sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal.
c. Jabir dan Ibnu Abas riwayat At-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jamul Ausath, dan pada sanadnya terdapat rawi bernama Yahya bin Said Al-Mazini, dia itu matruk (dianggap berdusta).
d. Ibnu Umar riwayat At-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jamul Ausath, dan pada sanadnya terdapat rawi bernama Maslamah bin Ali, dia itu daif.
e. Ghanam riwayat riwayat At-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jamul Kabir, dan pada sanadnya terdapat rawi bernama Abdurrahman bin Ghanam, dia tidak dikenal.
Lihat, Majma’uz Zawaid wa Manba’ul Fawaid, III:186-187

B. Aspek matan
Dilihat dari segi matan, hadis tentang saum Syawwal mengandung kejanggalan, yaitu hadis saum Syawwal diriwayatkan dengan beberapa redaksi, yang termasyhur di antaranya
كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ, فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَPenggunaan kalimat di atas tidak menunjukkan kejelasan, apakah yang ditasybihkan (diserupakan) itu saumnya atau shaim-nya (orang yang saum). Di samping itu, penyerupaan sesuatu kepada sesuatu yang sejenis, yaitu “saum seperti saum” tidak sesuai dengan ketentuan bahasa.

Aspek amaliah ahli ilmu
Hadis saum Syawwal tidak diamalkan oleh ahli ilmu. Imam Malik berkata, “Saya tidak melihat seorang pun di antara ahli ilmu dan fiqih melaksanakan saum itu, dan tidak pernah sampai kepadaku khabar dari seorang pun ulama salaf, serta ahli ilmu memakruhkannya, dan mereka khawatir saum Syawwal itu bid’ah. Aunul Ma’bud VII:67

Demikianlah di antara alasan-alasan kelompok yang menyatakan bid’at terhadap saum enam hari pada bulan Syawal.

Alasan pendapat yang mengatakan sohih hadits Hadis Saum Syawwal 
A. Aspek Sanad
1. Keadaan Saad bin Said
Hadis saum Syawwal yang diterima dari sahabat Abu Ayub Al-Anshari diriwayatkan oleh Muslim, Shahih Muslim, I:522; At-thabrani, Al-Mu’jamul Kabir, IV:159-161 dan Al-Mu’jamul Ausath V:513, VIII:335; Ahmad, Al-musnad bit Tahqiq Ad-Darwisi, IX:138, 142, 143; At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:132; An-Nasai, As-Sunanul Kubra, II:163-164; Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, IV:292; Abdur Razzaq, Al-Mushannaf, IV:315-316; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:33, semuanya melalui rawi bernama Saad bin Said, dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayyub Al-Anshari.

Saad bin Said telah di-jarh atau di-tajrih (didaifkan) oleh sebagian ulama. Namun yang perlu ditanggapi adalah pentajrihan Ibnu Hajar dalam kitab-nya Taqribut Tahdzib, karena mubayyanus sabab (diterangkan sebab kedaifannya), yaitu sayyiul hifzhi (buruk hapalan).

Pentajrihan Ibnu Hajar terhadap Saad dari segi dhabt (hafalan)-nya, bukan adalat-nya. Pentajrihan terhadap seorang rawi yang seperti ini dapat kita terima selama rawi itu tafarrud (sendirian dalam meriwayatkan hadis) atau mukhalafah (bertentangan) dengan rawi yang tsiqat (kuat). Namun bila rawi itu tidak taffarud, artinya ia meriwayatkan hadis seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi lain yang tsiqat selain dia, maka hadisnya dapat diterima.

Dengan demikian, penilaian Ibnu Hajar terhadap Saad tidak berarti menolak seluruh hadis yang diriwayatkannya, termasuk saum syawwal, namun bergantung atas tafarrud atau tidaknya Saad dalam meriwayatkan hadis. Hal itu dapat kita lihat dari sikap beliau terhadap riwayat Saad bin Said yang dimuat Al-Bukhari dalam Shahih-nya walaupun sebagai syahid (lihat, Fathul Bari IV:180, Kitabuz Zakat, babu Kharshit Tamri).

Sepanjang penelitian kami, periwayatan Saad tentang hadits Shaum Syawal tidak tafarrud, karena
1. Pada riwayat An-Nasai, As-Sunanul Kubra II:163; Abu Daud, Sunan Abu Daud II:544; Ibnu Hibban Al-Ihsan Bitartibi Shahihibni Hiban, V:257-258; Ath-Thabrani, Al-Mu’jamul Kabir IV:161, periwayatan Saad bin Said maqrunan (disertai) Shafwan bin Sulaim. Keduanya menerima dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari.
2. Pada riwayat An-Nasai, As-Sunanul Kubra II:163-164, diriwayatkan melalui rawi Abdur Rabbih bin Said (saudara Saad bin Said), dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari
3. At-Thabrani, Al-Mu’jamul Kabir IV:162, melalui rawi Yahya bin Said (saudara Saad bin Said), dari Umar bin Tsabit, dari Abu Ayub Al-Anshari.
Berdasarkan keterangan di atas, maka Saad tidak melakukan kesalahan dalam periwayatan hadis saum Syawwal, karena ia memiliki mutabi’ (tidak tafarrud).

2. Periwayatan Saad dari Umar bin Tsabit
Periwayatan Saad dari Umar bin Tsabit tidak perlu diragukan lagi kemuttasilannya (bersambungnya), karena periwayatan Saad bin Said, dari Umar bin Tsabit melalui Yahya bin Said pada riwayat Abu Daud Ath-Thayalisi dan At-Thabrani menunjukkan bahwa periwayatan Saad bin Said tentang saum Syawwal melalui dua orang guru, yaitu Umar bin Tsabit dan Yahya bin Said, dan periwayatan Saad bin Said dari Yahya bin Said di dalam ulumul hadits disebut riwayatul aqran, sebab Saad wafat tahun 141 h. (Tahdzibul Kamal, X:265), sedangkan Yahya wafat tahun 144 h. (Tahdzibul Kamal, XXXI:358). Hal ini sama dengan periwayatan saum Syawwal Abdur Rabbih bin Said, karena pada riwayat An-Nasai (As-Sunanul kubra, II:163) ia menerima dari Umar bin Tsabit secara langsung, sedangkan pada riwayat At-Thabrani (Al-Mu’jamul Kabir, IV:162) ia menerima melalui Yahya bin Said.

3. Periwayatan Abdul Aziz bin Muhamad
Hadis Abu Ayyub yang diriwayatkan melalui Abdul Aziz bin Muhammad bin Ad-Darawardi dapat diterima, karena ia memiliki mutabi’ (tidak tafarrud), yaitu
A. Syu’bah pada riwayat An-Nasai, As-Sunanul Kubra II:163.
B. Abdul Malik bin Abu Bakar, Abdullah bin Abu Bakar, dan Abdur Rabbih bin Said pada riwayat At-Thabrani, Al-Mu’jamul Kabir IV:162

4. Periwayatan Ibnu Lahi’ah
Hadis Abu Ayub yang diriwayatkan melalui Yahya bin Said, walaupun pada sanadnya terdapat rawi Ibnu Lahi’ah, namun tidak menyebabkan periwayatan Yahya bin Said tertolak, karena pada riwayat At-Thabrani lainnya diriwayatkan melalui rawi Uthbah bin Abu Hukaim dan Warqa. (lihat, Al-Mu’jamul Kabir, IV:162)

5. Periwayatan Umar bin Tsabit dari Abu Ayub
Periwayatan Umar bin Tasabit dari Abu Ayub melalui rawi bernama Muhamad bin Al Munkadir, kata Abu al Qasim bin Asyakir, ‘Keliru, yang benar Umar bin Tsabit menerima langsung dari Abu Ayub tidak melalui rawi bernama Muhamad bin Al Munkadir. (Syarah Sunan Abu Daud Ibnu Qayim, VII:66). Dengan demikian periwayatan Umar bin Tsabit melalui rawi Muhamad bin Al Munkadir merupakan Idraj fis sanad (penambahan rawi pada sanad).

6. Kedudukan hadis dari Sahabat lain
Hadis saum Syawwal disampaikan pula oleh sahabat-sahabat lainnya melalui beberapa sanad dengan rawi-rawi yang berbeda, yaitu antara lain dari sahabat:
a. Jabir diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ahmad, Al-Bazzar, dan Al-Baihaqi
b. Abu Hurairah diriwayatkan oleh Al-Bazar dan Ath-Thabrani
c. Tsauban diriwayatkan oleh Ibnu Majah, An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban
d. Ibnu Abbas diriwayatkan oleh Ath-Thabarani, Ahmad, Al-Bazzar, dan Al-Baihaqi
e. Aisyah diriwayatkan oleh Ath-Thabrani
f. Al-Barra bin Azib diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni
Walaupun pada sebagian sanadnya terdapat rawi yang dinyatakan daif oleh Al-Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid wa Manba’ul Fawaid, III:186-187, namun periwayatan dari Sahabat Abu Ayyub di atas sudah cukup untuk menunjukkan kebenaran periwayatan saum Syawwal dari sahabat-sahabat lainnya.

B. Aspek Matan
Dilihat dari segi matan, hadis tentang saum syawal tidak mengandung kejanggalan, karena yang dimaksud dengan كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ adalah besarnya pahala yang akan diraih jika melaksanakannya. Dengan demikian kalimat tersebut mengandung pengertian sesungguhnya saum enam hari itu seperti saum satu tahun, karena satu kebaikkan itu berbanding sepuluh. Maka satu bulan Ramahan itu berbanding sepuluh bulan, dan enam hari itu berbanding dua bulan (lihat syarah muslim An Nawawi VIII:56).

C. Aspek Amaliah Ahli Ilmu
Saum Syawwal tidak diamalkan oleh ahli Ilmu sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Malik tidak berarti menafikan hukum sunahnya. Muhamad Syamsul Haq berkata,
وَلاَ يَخْفَى أَنَّ النَّاسَ إِذَا تَرَكُوْا الْعَمَلَ بِسُنَّةٍ لمَ ْيَكُنْ تَرْكُهُمْ دَلِيْلاً تُرَدُّ بِهِ السُّنَّةُ
Yang jelas apabila orang-orang tidak mengamalkan suatu sunnah, maka tidak mengamalkannya mereka tidak menjadi dalil tertolaknya sunnah itu”. Aunul Ma’bud VII:62

Demikianlah di antara alasan-alasan kelompok yang menyatakan sunnah terhadap saum enam hari pada bulan syawwal. Setelah memperhatikan keterangan-keterangan dari kedua belah pihak, kami berkesimpulan bahwa shaum di bulan Syawal :
  • Hadis-hadis tentang saum enam hari pada bulan syawwal kedudukan hadits di atas adalah sahih dapat diamalkan. 
  • Shaum enam hari pada bulan syawwal hukumnya sunat mendapatkan pahala apabila dikerjakan.
Itulah penjelasan keterangan uraian penjelasan dalil tentang kedudukan hadits shaum setelah ramadhan. Mari lengkapi amaliah ibadah setelah mencari keutamaan malam lailatul qadar dengan mengamalkan shaum 6 hari pada bulan syawal. Dengan ini pasti akan ada dampak baik bagi kehidupan setelah berusaha berusaha maksimal meraih ridho Alloh SWT.

Monday, 4 June 2018

Kandungan Tafsir QS. Al-Qadar Tentang Hikmah Malam Lailatul Qodar

Kandungan Tafsir QS. Al-Qadar Tentang Hikmah Malam Lailatul Qodar

Kajian ini membahas sekelumit arti makna Tafsir Al Quran Surat Al Qodar secara tersurat dan hikmah di balik isi kandungan dari firman Alloh tersebut. Dari aspek etimologi bahasa arti dasar Lailatul Qadar yang terkadang ditulisLailat Al-Qadar pada bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ, disebut dan diartikan malam ketetapan, kemuliaan dan waktu yang begitu singkat / sempit.

Kejadian pada waktu lailatul qodar ada satu malam penting yang terjadi di salah satu malam bulan Ramadan setiap tahun cuma beberapa saat saja. Al Qur'an Surat Al-Qadar menggambarkan hitungan kebaikan malam tersebut itu lebih baik dari pada seribu bulan, yang apabila dikonversi ke dalam satuan tahun menjadi lamanya 83 tahun padahal waktu tersebut terjadi tidak begitu lama. Hanya beberapa saat saja pada salah satu malam di bulan Ramadhan.

Malam spesial lailatul Qadar ini terjadi tiada lain sebagai malam peringatan turunnya Al-Qur'an pertama kali ke sidratul muntaha, untuk selanjutnya didistribusikan secara kredit kepada Nabi Muhammad melalui pengantar Malaikat Jibril. Maka tak disalahkan bila di waktu-waktu malam di bulan Ramadan terutama 10 hari terakhir memperbanyak tadarus membaca Al-Quran untuk meraih lailatul Qadar. Di malam itu pula turun para malaikat ke dunia menyelesaikan segala urusan hingga terbit fajar.

Mari kita baca terlebih dahulu mufrodat dan terjemah arti kata Surat Al-Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an sebelum melanjutkan kepada pembahasan isi kandungan tafsir dan hikmah yang akan diperoleh dari malam lailatu Qodar ini.
Bahasa tulisan Arab QS. Al-Qadar
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
Arti kata terjemah QS. Al-Qadar :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan itu Al Quran pada malam Lailatul Qadr. Dan pernahkah kamu tau apa itu Lailatul Qadr itu?. Lailatul Qadar lebih baik dari pada 1000 bulan. Dimana di malam itu turun para malaikat dan Ar Ruh Qudus dengan izin Rabnya untuk mengatur urusan. Malam itu (penuh) Salaam hingga terbit fajar”. (QS. Al Qadr Surat ke [97] : 1-5).

Surat Al-Qadar seluruhnya ada 5 Ayat dan tergolong Surat Madaniyah yang diturunkan pasca Rasul dan para sahabat Hijrah ke Madinah.

Penjelasan singkat Tafsir Surah AL-Qadr, poin-poin utama hikmah dari isi penjelasan tafsir ayat diantaranya sebagai berikut :
1. Dijelaskan secara tekstual bahwa Lailatul Qadar ada keterkaitan dengan Al-Qur'an sebagai mukjizat luar biasa yang masih ada hingga sekarang.

2. Malam kemuliaan dikenal dengan malam Lailatul Qadr, yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan dan kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran. Menurut Syaikh As Sa’diy, dinamakan Lailatul Qadr karena besarnya kedudukannya dan keutamaannya di sisi Allah, demikian pula karena pada malam itu ditentukan apa yang akan terjadi dalam setahun berupa ajal, rezeki dan ketentuan-ketentuan taqdir.

Ibnu Abbas berkata,
“Allah menurunkan Al Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, kemudian turun secara berangsur-angsur sesuai situasi dan kondisi selama 23 tahun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”
Malam tersebut adalah malam yang penuh berkah. Barang siapa yang melakukan qiyamullail pada malam itu karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

3. Kalimat ini untuk membesarkan malam Lailatul Qadr.

4. Yakni beramal saleh atau beribadah bertepatan dengan malam itu lebih baik baik daripada beribadah selama seribu bulan. Syaikh As Sa’diy berkata,
“Hal ini termasuk hal yang mencengangkan hati dan akal, karena Allah Tabaaraka wa Ta'aala melimpahkan nikmat kepada umat yang lemah kekuatannya dengan malam yang beramal pada malam itu mengimbangi dan melebihi (beramal) selama seribu bulan; (seukuran) umur seseorang yang dipanjangkan umurnya selama 80 tahun lebih.”

5. Ibnu Katsir berkata, “Banyak para malaikat yang turun pada malam ini karena banyak keberkahannya, dan para malaikat turun bersamaan turunnya berkah dan rahmat, sebagaimana mereka turun pula ketika Al Qur’an dibaca, (turun) mengelilingi majlis dzikr dan menaruh sayap-sayapnya kepada penuntut ilmu karena memuliakannya.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ سَابِعَةٌ أَوْ تَاسِعَةٌ وَ عِشْرِيْنَ إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى
“Malam Lailatul Qadr itu adalah malam ke 27 atau 29. Sesungguhnya para malaikat pada malam itu di bumi lebih banyak daripada banyaknya batu kerikil.” (HR. Ahmad dan Thayalisi. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5473).

6. Qatadah berkata,
“Pada malam itu ditentukan segala urusan dan ditentukan ajal dan rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,” (Ad Dukhaan: 4)

7. Sa’id bin Manshur berkata dari Mujahid tentang firman Allah,
“Sejahteralah (malam itu),” ia berkata, “Yakni sejahtera, dimana setan tidak dapat berbuat buruk di dalamnya atau mengganggu.” Qatadah dan Ibnu Zaid berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Sejahteralah (malam itu),” maksudnya malam itu baik seluruhnya tidak ada keburukan sampai terbit fajar.”

Tentang tanda malam Lailatul Qadr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ بَلْجَةٌ لاَ حَارَّةٌ وَ لاَ بَارِدَةٌ  (وَلاَسَحَابٌ فِيْهَا وَلاَمَطَرٌ وَلاَرِيْحٌ )  وَ لاَ يُرْمَى فِيْهَا بِنَجْمٍ وَ مِنْ عَلاَمَةِ يَوْمِهَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ لاَ شُعَاعَ لَهَا

“Malam Lailatul Qadr adalah malam yang terang, tidak panas dan tidak dingin (tidak ada gumpalan awan, hujan maupun angin), dan tidak dilepaskan bintang. Sedangkan di antara tanda pada siang harinya adalah terbitnya matahari tanpa ada syu’anya.” (HR. Thabrani dalam Al Kabir dari Watsilah, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5472, namun yang disebutkan dalam tanda kurung menurutnya adalah dha’if, lihat Dha’iful Jaami’ no. 4958)
Syu’a, menurut Imam Nawawi artinya yang terlihat dari sinar matahari ketika baru muncul seperti gunung dan batang yang menghadap kepadamu ketika engkau melihatnya, yakni sinar matahari yang berserakan.

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لاَ حَارَّة ٌوَلاَ بَارِدَةٌ وَتُصْبِحُ شَمْسُ صَبِيْحَتِهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاءُ
“Malam Lailatul Qadr adalah) malam yang ringan, sedang, tidak panas dan tidak dingin, dimana matahari pada pagi harinya melemah kemerah-merahan.” (HR. Thayalisi dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5475.

Ibnu Katsir berkata,
“Dan tanda malam Lailatul qadr adalah bahwa malam tersebut bersih, terang, seakan-akan ada bulan yang bersinar, tenang, tidak dingin dan tidak panas, sedangkan (pada pagi hari) matahari terbit dalam keadaan sedang tanpa ada sinar yang berserakan seperti bulan pada malam purnama.”

Catatan:
Lailatul qadr tidak terjadi pada malam tertentu secara khusus dalam setiap tahunnya, namun berubah-rubah, mungkin pada tahun sekarang malam ke 27, pada tahun depan malam ke 29 dsb. Dan sangat diharapkan terjadi pada malam ke 27. Mungkin hikmah mengapa malam Lailatul qadr disembunyikan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah agar diketahui siapa yang sungguh-sungguh beribadah dan siapa yang bermalas-malasan.

8. Yakni awalnya dari tenggelam matahari dan akhirnya sampai terbit fajar.

Syaikh As Sa’diy berkata,
“Telah mutawatir hadits-hadits tentang keutamaannya, dan bahwa hal itu terjadi pada bulan Ramadhan, yatu pada sepuluh terakhir daripadanya, khususnya pada malam-malam ganjilnya, dan hal itu berlaku pada setiap tahun sampai hari Kiamat. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri’tikaf dan memperbanyak ibadah pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan karena mengharapkan Lailatul Qadr, wallahu a’lam.”

Demikian pembahasan ringkas isi di balik kandungan Tafsir QS. Al-Qadar Tentang Hikmah Malam Lailatul Qodar. Referensi ini dapat menjadi rujukan bahan untuk ceramah kultum singkat atau teks pidato yang membahas keutamaan mendapatkan malam Lailatul Qodar. Semoga bermanfaat.

Saturday, 5 May 2018

Kedudukan Hadits Menyangkut Do'a Khusus Menyambut Bulan Ramadhan

Kedudukan Hadits Menyangkut Do'a Khusus Menyambut Bulan Ramadhan

Menjelang bulan suci penuh berkah banyak yang bertanya mengenai amalan do'a yang mesti dibacakan agar di bulan tersebut mendapat keberkahan yang diharapkan. Namun beberapa redaksi bacaan do'a yang ditemukan ternyata Kedudukan Hadits hadits menyangkut Do'a Khusus Menyambut Ramadhan tersebut diantaranya memiliki kelemahan atau dengan kata lain tergolong pada hadits Dlo'if.
Berikut beberapa Doa khusus menyambut Ramadhan dari Hadits yang dimaksud, bila digolongkan terbagi menjadi 2 bagian :
Pertama, Hadits Do'a khusus menjelang bulan Ramdhan dengan redaksi tersendiri meminta keselamatan dalam menjalankan aktifitas di bulan ramadhan yang akan datang.
اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
Bacaan do'a di atas sampai saat ini belum ditemukan dari mana sumber hadits nya, namun senada dengan makna di atas ada riwayat hadits yang menerangkan do'a menjelang bulan puasa seperti dikutip oleh al-Hafidz Ibnu Hajar yang bersumber dari riwayat Ad-Dailami sebagai berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ يَقُولُ اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan, agar salah seorang di antara kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima.” (Lihat, Al-Ghara’ib al-Multaqathah min Musnad al-Firdaws Mimmaa Laisa fii al-Kutub al-masyhurah:589, No. 614)
Pada hadits At-Thabrani tentang apabila akan datang bulan Ramadhan diterangkan bahwa Rasulullah pernah mengajarkan kepada para sahabatnya amalan do'a khusus menjelang ramadan:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ أَنْ يَقُولَ أَحَدُنَا اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan, agar salah seorang di antara kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah aku dari Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima. HR. At-Thabrani, Ad-dhu’a:284, No. 912
Tak hanya itu saja pada kitab hadits lain Abdul Karim bin Muhammad al-Qazwini menulis :

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ يُعَلِّمُنَا أَنْ نَقُوْلَ اللّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ مِنَّا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلاً
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Nabi saw. apabila datang bulan Ramadhan mengajarkan kepada kami agar kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah kami untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan dari kami dan terimalah ia dari kami (sebagai) yang diterima.” At-Tadwin fi Akhbar Qazwin, III:424
Sementara Imam Ad-Dzahabi pun menulis pada kitab haditsnya :

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هؤلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً.
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Nabi saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan: Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima.” HR. Ibnu Syaghabah Abu al-Qasim, Siyar A’lam an-Nubala, XIX:51, No. rawi 31
Analisis Hadits-hadits menyangkut Do'a khusus menjelang Ramadhan dengan bacaan  اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ
  • Hadits-hadits di atas terdapat dalam beberapa kitab hadits yang berbeda, akan tetapi semua sanad (jalan hadits) pada berbagai macam hadits dengan redaksi berbeda tersebut berujung pada jalur rawi yang sama Abu Ja’far ar-Razi, dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, dari Shalih bin Kaisan, dari Ubadah bin as-Shamit. Kategori hadits semacam ini disebut dalam ilmu hadits sebagai gharib mutlaq (hadits yang diriwayatkan hanya melalui satu jalur).
  • Rowi hadits bernama Abu Ja’far ar-Razi menurut para ahli hadits tergolong do'if dan tidak terpercaya, nama asli rowi tersebut bernama Isa bin Abu Isa Mahan. Pada kitab Al-Mughni fid Dhu’afa, jilid II halaman 500 dapat ditemukan komentar dari Al-Fallas yang mengatakan bahwa “Dia buruk hafalan”. Abu Zur’ah berkata, “Sering ragu-ragu (dalam meriwayatkan)”. (Lihat, Al-Mughni fid Dhu’afa, II:500)
  • Berdasarkan tinjauan dan penilaian Para ulama Terhadap Hadis di atas Syekh Syu’aib al-Arnauth menjelaskan bahwa :
إسناده ضعيف لضعف أبي جعفر الرازي، واسمه عيسى بن ماهان، قال ابن المديني: كان يخلط، وقال يحيى: كان يخطئ، وقال أحمد: ليس بالقوي في الحديث، وقال أبو زرعة: كان يهم كثيرا، وقال ابن حبان: كان ينفرد بالمناكير عن المشاهير، قلت: وهو راوي حديث أنس: ما زال رسول الله يقنت في صلاة الصبح حتى فارق الدنيا.
”Sanadnya dha’if karena kedhaifan Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Mahan. Ibnu al-Madini berkata, ’Dia rusak (hapalannya).’ Yahya bin Ma’in berkata, ”Dia keliru.’ Ahmad berkata, ’Dia tidak kuat dalam hadits.’ Abu Zur’ah berkata, ’Dia banyak waham.’ Ibnu Hiban berkata, ’Dia menyendiri dengan riwayat-riwayat munkar dari rawi-rawi masyhur.’ Menurut saya, ’Dia rawi hadis Anas, ’Rasulullah saw. tidak henti-hentinya qunut pada salat subuh hingga meninggal dunia’.” Lihat, Tahqiq Siyar A’lam an-Nubala, XIX:51)
Sehingga dapat disimpulan berdasarkan penjelasan dari analisis hadits menyangkut do'a khusus menjelang bulan Ramadhan bahwa tidak dibenarkan mengamalkan atau membacakan do'a menyambut bulan Ramadhan di atas.
Kedua, Hadits Do'a khusus menyambut bulan Ramadhan dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ غَرَّاءُ وَيَوْمُهَا أَزْهَرُ
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi saw. apabila masuk bulan Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahilah kami pada bulan Ramadhan.’ Dan beliau berkata, ‘Malam Jumat itu indah dan siang harinya bercahaya’.” HR. Abdullah bin Ahmad, Musnad Ahmad, IV:180, No. hadis 2346.
Pada hadits dari riwayat lain ditemukan redaksi do'a menyambut Ramadahan :

إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Apabila masuk bulan Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan’.” HR. Al-Bazzar, Musnad Al-Bazzar, II:290, No. 6494, Ath-Thabrani,al-Mu’jam al-Awsath, IV:189, No. 3939, Ad-Du’a:284, No. 911, Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, III:375, No. 3815,Ad-Da’wat al-Kabir, II:142, No. 529, Ibnu Asakir, Mu’jam asy-Syuyukh:161, No. 309, Al-Mundziri, At-Targhib wa at-Tarhib, II:393, No. 1852, Abdul Ghani al-Maqdisi, Akhbar ash-Shalah:69, No. 127, Al-Khalal, Fi Fadha’il Syahr Rajab:45, No. 1, Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliya, VI:269
Penjelasan syarah penulis tentang kedudukan Hadits doa menyambut bulan puasa di atas
Meski diriwayatkan oleh banyak mukharrij (pencatat dan periwayat hadis), namun semua jalur periwayatan hadis itu melalui seorang rawi bernama Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Ia menerima dari rawi Ziyad bin Abdullah an-Numairi. Dengan demikian, hadis di atas dikategorikan sebagai hadis gharib mutlaq (benar-benar tunggal).
Hadis di atas dhaif karena ada rawi Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Rawi tersebut telah di-jarh (dikritik) oleh para ahli hadis, antara lain:
  • Imam al-Bukhari berkata, “Dia munkar al-Hadits” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272). Imam al-Bukhari berkata:
  • كُلُّ مَنْ قُلْتُ فِيْهِ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ لاَ تَحِلُّ الرِّوَايَةُ عَنْهُ
  • “Setiap orang yang aku katakan padanya, ‘munkar al-Hadits’ tidak halal meriwayatkan hadis darinya” (Lihat, Ar-Raf’ wa at-Takmil fi al-Jarh wa at-Ta’dil: 208).
  • Abu Dawud berkata, “Saya tidak mengenal khabarnya” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272).
  • An-Nasai berkata, “Saya tidak tahu siapa dia” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272).
  • Adz-Dzahabi berkata, “Dia dha’if.” (Lihat, Mizan al-I’tidal, II:65).
  • Kedua, rawi Ziyad bin Abdullah an-Numairi
  • Rawi tersebut telah di-jarh (dikritik) oleh para ahli hadis, antara lain:
  • Ibnu Ma’in berkata, “Pada hadisnya terdapat kedhaifan” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
  • Abu Hatim berkata, “Hadisnya dicatat dan tidak dapat digunakan hujjah” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
  • Abu Ubaid al-Ajiri berkata, “Saya bertanya kepada Abu Dawud tentangnya (Ziyad), maka ia mendhaifkannya.” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
  • Ibnu Hiban berkata, “Dia keliru.” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
  • Kata Ibnu Hajar, “Ibnu Hiban menyebutkannya pula dalam kitab ad-Dhu’afa, dan ia berkata, “Dia (Ziyad) munkar al-Hadits, meriwayatkan dari Anas sesuatu yang tidak menyerupai hadis para rawi tsiqat. Dia ditinggalkan oleh Ibnu Ma’in.” (Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, III:378)
Pendapat dan penilaian Para ulama Terhadap Hadits di atas:
Imam Al-Baihaqi berkata:
تفرد به زياد النميري وعنه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري : زائدة بن أبي الرقاد عن زياد النميري منكر الحديث
“Ziyad an-Numairi menyendiri dengan hadis itu, dan darinya diterima oleh Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Al-Bukhari berkata, ‘Za’idah bin Abu ar-Ruqad dari Ziyad an-Numairi, munkar al-Hadits’.” (Lihat, Syu’ab al-Iman, III:375)
Imam An-Nawawi berkata:
وروينا في حلية الأولياء بإسناد فيه ضعف
“Dan kami meriwayatkan dalam kitab Hilyah al-Awliya dengan sanad yang padanya terdapat kedaifan.” (Lihat ! Al-Adzkar:274)
Imam Al-Haitsami berkata:
رواه البزار وفيه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري منكر الحديث وجهله جماعة
“Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan padanya terdapat rawi Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Al-Bukhari berkata, ‘Dia munkar al-Hadits’ dan dinilai majhul (tidak dikenal) oleh sekelompok ulama.” (Lihat, Majma’ az-Zawa’id, II:165)
Imam Al-Munawi berkata:
وقال البخاري : زائدة عن زياد منكر الحديث وجهله جماعة وجزم الذهبي في الضعفاء بأنه منكر الحديث
“Al-Bukhari berkata, ‘Zaidah dari Ziyad munkar al-Hadits’ dan dinilai majhul (tidak dikenal) oleh sekelompok ulama. Dan Adz-Dzahabi telah menetapkan dalam kitabnya adh-Dhu’afa bahwa dia munkar al-Hadits.” (Lihat! Faidh al-Qadier, I:325)
Ahmad Syakir berkata, “Isnaduhu dha’iefun (sanadnya dhaif).” (Lihat, Ta’aliq ‘Ala al-Musnad, IV:100)
Syekh Syu’aib al-Arnauth berkata, “Isnaduhu dha’iefun (sanadnya dhaif).” (Lihat, Ta’aliq ‘Ala al-Musnad, IV:180)

Kesimpulan terkait hadits yang terkait dengan redaksi doa menyambut Ramadhan yang dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk pengamalan.
Oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan tidak disyariatkan berdoa secara khusus, kita hanya berlindung kepada Allah dengan cara tetap menjaga amalan sunnah Rasulullah SAW seperti hari-hari sebelumnya.
Mengenai dalil hadits do'a menjelang akhir Ramadhan dapat dibaca pada tulisan berikutnya.

Wednesday, 11 April 2018

Program Menikmati Shalat Khusu

Program Menikmati Shalat Khusu

Cara Menikmati Shalat Khusu - Program kegiatan ibadah yang setiap hari wajib dilaksanakan oleh umat Islam adalah Sholat. Dimana ibadah yang satu ini paling tidak 5 kali dikerjakan setiap harinya semestinya tidak menjadi sebuah beban ketika dilakukan. Selain sebuah kewajiban sesunggunya shalat itu merupakan kebutuhan hidup untuk manusia yang ingin selamat di dunia maupun di akhirat.

Rahasia diwajibkan shalat bagi sejak pertama kali diperintahkan Allah SWT melalui baginda Nabi Muhammad ketika Isra Mi'raj tidaklah begitu saja. Seolah ada proses negosiasi antara Alloh dengan Rasululloh dimana pada awalnya disodorkan Shalat untuk Umat Muhammad 50 kali setiap harinya. Atas dasar pengertian dan kebijakan maka perintah Sholat itu 5 x dalam sehari. Ada rahasia dibalik kewajiban shalat untuk umat mukmin ini apabila dikerjakan secara khusu', maka dampak akan segera terasakan tidak hanya sebagai pahala di akhirat, namun juga kenikmatan di dunia.

Orang yang bisa mengerjakan shalat dengan khusyu hidupnya terasa nyaman tentram karena keyakinannya bilamana bertemu dengan Alloh nanti dapat mempertanggungjawabkannya. Manusia yang khusu dan menikmati sholat itu senantiasa berkomunikasi dengan Tuhannya dan tentunya doa dan permintaannya itu bukan lagi dalam urusan keduniawian tetapi lebih kepada keselamatan hakikat kehidupan. Selain itu keutamaan orang yang biasa menikmati sholat setiap hari dengan mengerjakan selalu tepat waktu mereka itu disiplin khususnya dalam hal ketaatan. Karena kedisiplinan dari dampak sholat itulah maka akan berakibat pula kepada menarik peluang dan kesempatan untuk pelakunya.

Maka program yang dapat dilakukan untuk menikmati shalat khusu perlu dilatih oleh setiap insan yang berharap bertemu dengan Alloh tanpa hisaban berat. Apa saja yang dapat dilakukan sebagai latihan menikmati shalat itu ?

1. Lakukan shalat bersama-sama atau berjamaah.
Anda dapat membayangkan dan melihat banyak orang bagaimana rasanya shalat berjamaah di masjidil haram, mereka ada yang menangis, haru dan sebagainya. Terlebih bila imam shalat itu membaca surat atau komando takbir dengan suara yang merdu, tentu akan terasa lebih mendalam dan meresap ke hati.

2. Program memahami doa dan bacaan sholat
Trik selanjutnya mencari tahu arti atau makna dari doa dan bacaan yang diucapkan ketika sholat. Bukan berarti harus bisa bahasa Arab, tetapi paling tidak mengetahui garis besar dari untaian kalimat yang dibacakan. Dengan cara itu nanti dapat mengantarkan komunikasi hati, pikiran kepada lafadz-lafadz bacaan shalat sehingga meresap dan menjadi sebuah kenikmatan tersendiri.

3. Menyadarkan diri atas kelemahan sendiri
Siapapun orang yang tahu bahwa tidak ada manusia yang kuat di dunia ini dan bahkan semua akan berujung pada kematian tanpa kecuali diri kita sendiri, maka akan timbul keseriusan melaksanakan sholat dan meminta kepada Alloh supaya diselamatkan. Tiada kenikmatan yang hakiki kecuali pertemuan nanti dengan Allah SWT. Sebagai manusia yang banyak kelemahan saat datang waktu shalat segeralah ingat kematian, itu bisa menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menikmati solat.

4. Melengkapi syarat dan rukun shalat
Belajar shalat itu tidak akan ada ujungnya, dari mulai kecil praktek gerakan, bacaan, arti, doa-doa dan kemudian hingga akhir hayat terus perlu dipelajari mengenai kekhusuan solat. Syarat dan rukun shalat dapat secara cepat dipelajari, namun perihal menikmati kehusyuan sholat itu hanya dapat dilakukan dengan cara terus menerus tanpa henti hingga setiap sholat dilakukan dengan nikmat karena kerinduan dan bahkan menjadi sebuah kebutuhan.

5. Progam kita butuh Shalat
Bila saja seseorang menempatkan shalat ibadat hidangan minuman segar yang siap diseruput tentu akan berbeda dengan orang yang hanya minum sekedar melepas dahaga saja. Keutamaan shalat yang berdampak pada fisik dan fsikis manusia itu akan terasa bila dinikmati secara perlahan penuh dengan perasaan. Nikmatilah shalat itu dengan ibarat meminum air segar di saat dahaga secara perlahan, dan bacaan shalat kalimat per kalimatnya yakini sebagai cara kita berkomunikasi langsung curhat kepada Allah.

Demikian diantara cara atau program yang dapat dilakukan untuk menikmati shalat khusu. Semoga artikel agama ini dapat menjadi wasilah penghantar referensi mendalami hakikat kehidupan melalui shalat yang bukan hanya merupakan kewajiban tetapi menjadi sebuah kebutuhan untuk hidup manusia.

Wednesday, 4 April 2018

Cerita Pilu April Mop Bagi Umat Islam

Cerita Pilu April Mop Bagi Umat Islam

Cerita Pilu April Mop - Bagi umat muslim ada kisah sedih dari asal mula perayaan April Mop dimana perayaan tersebut merupakan ungkapan kesenangan atas kemenangan atas pembantaian umat Islam di Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan dengan cara menipu. Perayaan itu kemudian diperingati sebagai hari Iseng-isengan, dimana siapa saja boleh jahil, berbohong, menipu untuk hiburan atau bercanda.

Sampai sekarang ini Budaya merayakan April Mop khusus terkenal di kalangan orang-orang Nasrani, Kristiani ataupun siapa saja yang suka ikut-ikutan bersuka-suka menipu teman, sahabat, orangtua, saudara, atau siapa saja, dan sang target tidak akan marah atau emosi sebab menyadari hari itu April Mop. Budaya yang datang dari barat ini kini menyebar ke seluruh dunia termasuk Di Indonesia.

Memang permainan April Mop belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, namun budaya April Mop sekarang terlihat yang makin akrab diketahui masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.

Bagaimana kisah awal mula April Mop ini, mari kita simak pemaparan berikut. Bahwa cerita Pilu April Mop, atau The April’s Fool Day Bagi Umat Islam bermula dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.

Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.

Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur’an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.

Bagi umat Islam, tragedi April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Jadi, perhatikan sekeliling kita, mungkin terkena bungkus jahil sejarah April Mop tanpa kita sadari. (aswan/berbagaisumber/eramuslim dan republika).
Baca juga tulisan menarik artikel tentang aqiqah dalam Islam.