Menyikapi Musibah Meneladani Kisah Sedih Sahabat Urwah bin Zabir

Menyikapi Musibah. Disadari atau tidak, ternyata tidak sedikit orang yang hancur luluh keimanannya hanya karena ketidakmampuannya menghadapi musibah dalam hidup. Salah satu penyebabnya karena salah dalam memahami makna musibah dan salah pula dalam menyikapinya. Kesalahan seseorang dalam memaknai dan menyikapi musibah akibatnya bisa sangat fatal terhadap keimanannya. Bagi seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan terjadi di dunia ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang tidak kita inginkan harusnya menjadi bahan “muhasabah” (introspeksi) atau “tazkirah” (peringatan) apa yang sebenarnya sedang Allah rencanakan untuk kita.

Berbicara masalah musibah sebenarnya musibah adalah sesuatu yang mutlak akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik seseorang itu yang kafir maupun mu'min. Jika musibah menimpa orang yang kafir, pasti itu adalah azab. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32 : 21).


Namun apabila musibah itu menimpa orang yang mu'min, pasti itu merupakan bentuk kasih-sayang Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah menyatakan, "Jika Allah sudah mencintai suatu kaum maka Allah SWT akan memberikan bala, ujian atau cobaan". Ini semakin mempertegas kepada kita bahwa musibah bagi orang-orang yang mu'min itu sebagai bentuk kasih-sayang.

Paling tidak, ada "tiga" kemungkinan yang mendasari terjadinya musibah yang menurut Al Qur'an sebagai bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada orang-orang mu'min.


Pertama, sebagai ujian keimanan bagi orang mu'min. Kasih-sayang Allah kepada hamba-Nya yang mu'min di antaranya ditunjukkan-Nya dengan menurunkan musibah dengan memberikan peluang kepada hamba-hamba-Nya yang mu'min untuk mengikuti ujian dalam proses peningkatan keimanannya. Allah SWT berfirman: "Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja oleh Allah untuk menyatakan, "aamannaa" (kami telah beriman) padahal Kami belum lagi memberikan ujian kepada mereka. Sungguh telah Kami uji umat sebelum mereka, dengan ujian itu jelaslah oleh Kami siapa yang benar pengakuan keimanannya itu dan siapa pula yang dusta" (Al Ankabuut, 29 : 2-3).
Hakikat ujian itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu hal yang sangat positif, yang tidak positif adalah jika seseorang yang telah diberi peluang untuk mengikuti ujian lalu ia tidak memanfaatkan peluang tersebut secara optimal sehingga tidak lulus. Betapa ruginya seseorang jika tidak diberi kesempatan untuk mengikuti ujian. Sebaliknya, alangkah beruntung dan bahagianya seseorang yang telah diberi peluang mengikuti ujian dan berhasil lulus dalam ujiannya.
Disadari atau tidak, selama ini kita mungkin telah banyak melakukan kekeliruan dalam memaknai dan menyikapi musibah yang terjadi. Kadang pandangan kita selama ini dalam memaknai dan menyikapi musibah terlalu cenderung pada nilai duniawi. Kemudian kita menganggap ujian itu sebagai bentuk musibah yang sebenarnya sesuatu yang tidak diharapkan. Sehingga ukuran keshalehan seseorang pun kadang dilihat dari kurangnya musibah dalam hidupnya. Ini pandangan yang keliru terhadap makna musibah yang sebenarnya.

Kedua, boleh jadi musibah sebagai bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada orang-orang mu'min "bukan" sebagai ujian keimanan, tetapi justru karena Allah SWT sedang memilihkan hal yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya. Namun, karena ketidakmampuan untuk bisa memahami hikmah di balik dari suatu peristiwa, lantas kita akhirnya menganggap peristiwa yang terjadi itu sebagai musibah.
Karena ketidakmungkinan manusia “memastikan” apa yang akan terjadi (QS. Lukman : 34) maka acapkali kita tidak bisa memahami hikmah di balik peristiwa yang sedang terjadi. Terkadang kita baru bisa merasakan hikmahnya setelah sekian lama mengalaminya. Pada saat peristiwa boleh jadi kita menganggapnya sebagai musibah, tapi setelah berlalu beberapa waktu mungkin seminggu, sebulan bahkan mungkin setelah beberapa tahun, barulah kita menyatakan rasa syukur setelah menyadari hikmahnya.
Sebagai contoh, seseorang sudah berniat bahkan telah melakukan berbagai macam persiapan untuk menghadiri suatu acara penting yang tempatnya jauh dari domisilinya di antaranya dengan memesan tiket pesawat. Pada saat pemberangkatan, atas takdir-Nya ternyata ia terlambat hanya beberapa menit. Ungkapan perasaan yang muncul saat itu mungkin ungkapan dalam bentuk cacian, makian atau dan lain sebagainya. Setelah beberapa saat kemudian melalui berita yang bersangkutan mendengar bahwa pesawat yang semula akan ditumpanginya jatuh. Barulah saat itu dia sadar dan bersyukur karena tertinggal pesawat.
Karena ketidakmampuan membaca hikmah dari suatu peristiwa, maka sering terjadi orang yang semestinya bersyukur malah mencaci-maki, yang semestinya tertawa malah menangis. Sebaliknya, dia tertawa pada saat seharusnya dia menangis. Semua ini terjadi oleh sebab ketidakmampuan manusia memastikan apa yang akan terjadi, Allah SWT berfirman: "Tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi besok"(Luqman, 31 : 34).
Di lain sisi Allah SWT juga mengingatkan, "Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa" (Al Baqarah, 2 : 216). Oleh karena ketidakmampuan kita dalam memahami hikmah dari satu peristiwa yang menimpa kehidupan kita, maka kita menganggap sesuatu itu tidak baik padahal ia sangat baik. Sebaliknya, kita menganggap sesuatu itu tidak baik, padahal ia sangat baik bagi kita. Jadi, sangat mungkin sekali bahwa musibah yang menimpa diri kita saat ini sebenarnya bentuk kasih-sayang-Nya, karena Allah sedang memilihkan sesuatu yang terbaik bagi kita dunia dan akhirat.

Ketiga, bisa juga musibah yang menimpa kehidupan seorang mu'min "bukan" sebagai ujian keimanan dan "bukan" pula pilihan Allah yang terbaik, tetapi semata-mata azab dari Allah SWT bagi seorang mu’min masih dalam konteks kasih-sayang-Nya. Karena menurut Allah SWT hamba-Nya yang mu'min itu sudah mulai jauh meninggalkan syari’at-Nya di mana yang bersangkutan baru akan sadar jika diturunkan azab sebagai peringatan kepadanya agar ia segera kembali hidup di jalan yang diridhai-Nya.
Kalau musibah itu merupakan ujian keimanan, maka kita harus bersyukur. Lebih bersyukur lagi kalau musibah itu adalah pilihan Allah yang terbaik, berarti Allah sedang sangat sayang kepada kita, sedang membimbing dan menunjukkan apa yang terbaik bagi kita. Bahkan, kalau pun musibah itu sebagai azab, tetap saja kita harus bersyukur kepada-Nya karena Allah masih mau mengingatkan agar segera bertaubat dan memperbaiki diri sebelum ajal menjemput kita.

Kisah Motivasi Sahabat Urwah bin Zabir
Sebelum tulisan ini saya akhiri, saya mengajak sidang pembaca untuk merenung sejenak terhadap sebuah kisah yang layak kita jadikan "ibrah" (pelajaran) bagi kita, di mana betapa luar biasanya buah keimanan dapat mengecilkan arti musibah duniawi. Dikisahkan salah seorang tabi'in bernama Urwah bin Zabir, yang Allah takdirkan salah satu kakinya dari lutut ke bawah sakit hingga membusuk. Tak lama kemudian didatangkan 4 orang Tabib sebagai upaya penyembuhan. Ternyata hasil diagnosa 4 Tabib menyimpulkan bahwa tidak ada cara lain kecuali harus diamputasi kaki yang membusuk tersebut. Jika tidak, maka dikhawatirkan penyakitnya akan menjalar ke seluruh tubuh.

Ketika berita ini disampaikan kepada Urwah, dengan tenang dia mengatakan, kalau memang itu adalah keputusan para Tabib, kenapa tidak segera dilakukan ? Sebelum pelaksanaan operasi, disodorkanlah oleh Tabib minuman kepada Urwah sambil mengatakan, silakan anda minum terlebih dahulu. Ketika Urwah mau meminumnya terciumlah aroma lain, maka dia bertanya, minuman apa ini ? “Arak”, kata Tabib. Maksudnya apa, tanya Urwah. Jawab Tabib: “supaya anda mabuk agar mengurangi sedikit rasa sakit karena sebentar lagi kaki anda akan kami gergaji mulai dari kulit, daging hingga tulang. Dan, tentu saja akan terjadi pendarahan yang luar biasa. Supaya darah tidak terus mengalir, maka sudah kami siapkan "kuali" dengan minyak goreng yang sudah mendidih. Setelah kaki anda dipotong agar jangan terus mengeluarkan darah maka kaki anda itu akan kami masukkan ke dalam kuali agar cepat kering.

Jawab Urwah, “Sungguh sulit diterima akal sehat jika ada seorang mu'min yang beriman kepada Allah lantas dia meminum sesuatu untuk menghilangkan akalnya. Sehingga dia sudah tidak ingat lagi siapa Tuhannya? Betapa saya meragukan keimanan seseorang yang sampai mau meminum khamr sehingga dia tidak sadar bahwa Allah itu ada, bagaimana bisa diyakini keimanan seperti itu. Saya tidak ingin sedikit pun termasuk orang seperti itu, untuk itu buanglah jauh-jauh khamr dari depan mukaku”.

“Lantas apa yang mesti kami lakukan?”, kata Tabib. Urwah berkata: “setelah saya memberi isyarat dengan tangan saya, silakan laksanakan tugas kalian, gergaji kaki saya dan masukkan ke dalam kuali”. Lalu Urwah pun asyik khusyu’ berzikir sampai kemudian dia angkat tangannya sambil terus berzikir memejamkan mata pertanda dia sudah siap untuk digergaji kakinya. Maka digergajilah kaki Urwah dan langsung dimasukkan dalam kuali. Konon, dia sempat pingsan. Setelah siuman, sambil tetap berbaring di tempat tidur, dia meminta kepada orang di sekelilingnya agar potongan kakinya tersebut setelah dimandikan dan dikafani dan sebelum dikuburkan dapat dihadirkan kepadanya.

Dibawakanlah potongan kakinya dan sambil berbaring dia angkat potongan kaki itu sambil mengatakan, Ya Allah, Alhamdulillah, selama ini Engkau telah karuniakan saya dua kaki, kelak kaki ini akan menjadi saksi di akhirat nanti. Ya Allah, Demi Allah, saya tidak pernah membawa dia melangkah ke jalan yang tidak Engkau ridhai. Kini, Engkau ambil yang hakikatnya adalah milik-Mu Ya Allah, innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun, mudah-mudahan saya masih bisa memanfaatkan kaki yang tersisa ini. Lantas potongan kaki pun diberikan sambil ia meminta dikuburkan.

Nyaris tidak ada kesedihan, tapi tiba-tiba Urwah menangis. Orang yang menyaksikan sejak awal itu berkomentar: “kami semula begitu merasa bangga dengan ketegaran anda, lalu kenapa engkau kini menangis, wahai Urwah ?” Beliau menjawab: “Demi Allah, hanya Allah yang Mahatahu, saya bukan menangis karena hilangnya satu kaki saya, yang hakikatnya milik Allah, tapi yang membuat saya menangis hanyalah kekhawatiran, apakah dengan kaki yang hanya tinggal satu ini saya masih bisa beribadah dengan sempurna kepada Allah ?

Allahu Akbar! Luar biasa keimanan Urwah, dunia menjadi kecil di mata orang mukmin seperti Urwah ini. Siang hari dia menjalani operasi amputasi, malamnya salah satu dari tujuh orang anaknya meninggal dunia. Ketika berita duka ini disampaikan, beliau berkata, saya belum bisa bangkit dari tempat tidur ini, karenanya tolong urus jenazahnya, mandikan, kafani dan shalatkan. Sebelum dikuburkan ijinkan saya memegang sejenak jenazah anak saya. Ketika jenazah putranya disodorkan kepadanya, ia pun memegang jenazah anaknya sambil mengusap kepalanya dan bardoa, “Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah karuniai saya tujuh anak. Mudah-mudahan sebagai ayah mereka sudah saya laksanakan kewajiban mendidik mereka di jalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, sekarang Engkau ambil salah seorang di antara mereka, milik-Mu Ya Allah, bukan milikku. Innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun, mudah-mudahan Engkau masih memberikan manfaat untuk 6 anak yang masih tersisa. Allahu Akbar, bagi orang mukmin hanya Allah yang “Akbar” dunia dan segala isinya “kecil” di mata seorang yang mencintai Allah di atas cinta kepada selain Allah SWT.


Itulah uraian artikel tentang sabar menghadapi Musibah serta Meneladani bagaimana Kisah haru nan Sedih dari Sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Urwah bin Zabir. Semoga bermanfaat.
ReadmoreMenyikapi Musibah Meneladani Kisah Sedih Sahabat Urwah bin Zabir

Kriteria Ideal Pemimpin Negara

Kriteria pemimpin negara - Syarat menjadi presiden itu tidaklah mudah, disamping kemapanan ilmu dan pengalaman, mental sebagai pemimpin juga sangat dibutuhkan. Dalam hal pemilihan presiden rakyat Indonesia sangat menanti dengan penuh harapan, siapa kira-kira yang memimpin negeri ini. Apakah pemimpin negara ini akan berkuasa menghantar bangsa pada perubahan dan pembaharuan? Kepada siapakah umat Islam akan menjatuhkan pilihan jangan sampai salah sasaran kepada yang membenci NKRI.

Pemimpin ideal presiden Negara RI di mata Islam. Memilih pemimpin adalah keharusan, lantas seperti apa kira-kira presiden terpilih itu akan memimpin, apakah ia akan menjadi pemimpin yang memandang sebelah mata rakyat yang ia pimpin, amanat penderitaan rakyat, atau ia akan mampu menjadi pemimpin yang bijak dan mengabdi sepenuh-penuhnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang dipimpinnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terus muncul. Lalu seperti apakah kriteria pemimpin negara yang dibutuhkan negara kita untuk kepemimpinan masa depan?

Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki kriteria-kriteria ideal untuk situasi paling mendesak yang dihadapi bangsa ini, serempak kriteria tersebut harus berlaku juga, doable dan applicable dalam meniti masa depan bangsa ini jauh ke depannya. Membawa bangsa ini melewati tahun-tahun kelam maupun tahun-tahun cemerlang, sampai akhirnya mampu mencapai cita-cita bangsa secara utuh seperti yang diharapkan dan sudah tercatat manis dalam Pancasila, UUD 1945 dan GBHN.

Mungkin sekali banyak yang bertanya apakah susah atau gampang menjadi Presiden di republik ini? Tidak sedikit yang menjawabnya, “ah gampang kok! apa sih susahnya?”. Tapi ada juga yang bilang, “jangan pikir memimpin negeri ini gampang…susahnya minta ampun!” Tapi kenyataannya susah atau gampang sih? Jawabannya tidak gampang. Maksudnya jadi presiden republik ini tidak gampang, kalau ia mau disebut pemimpin yang baik, berhasil, dan ideal. Banyak yang harus ia miliki.

Kriteria Ideal Presiden | Pemimpin Negara Indonesia
Berikut adalah kriteria ideal untuk presiden Indonesia. Namun ini tidak final, para pembaca dapat mengurangi atau melengkapinya. Inilah diantaranya:
  1. Seorang Presiden harus memahami ideologi dan budaya Indonesia secara utuh, lengkap, dan benar. Ia harus meyakini dan percaya sepenuh-penuhnya bahwa Pancasila adalah landasan perjuangannya, dan secara sungguh-sungguh mengerti apa makna dari ke lima sila yang ada di situ. Bukan sekedar mampu menghafalnya, tapi memahami makna terdalam dari ideologi negara kita. Secara bersamaan, dengan melihat perjalanan bangsa Indonesia sejak lahirnya bangsa ini sampai saat ini, maka ia harus mempunyai pemahaman yang mumpuni tentang akar budaya yang dimiliki bangsa kita. Sebab dengan demikian, ia akan mampu memilah dan memisahkan mana yang pantas untuk Indonesia dan mana yang tidak.
  2. Seorang Presiden harus memiliki skill/kemampuan kepemimpinan yang bagus dan tidak otoriter. Apa artinya? Begini. Seorang presiden yang tidak tahu memimpin sudah barang tentu akan menghantar bangsa ini pada kehancuran. Kemampuan memimpin bukan tergantung pada kehebatan ia memerintah orang. Ketegasan itu perlu. Tapi intisari dari keterampilan memimpin adalah kemampuan dan kemauan ia untuk mendengar suara rakyat yang dipimpinnya. Kemampuan mendengar ini akan menjaga tingkah lakunya supaya tidak serta merta menjadi otoriter. Pemimpin yang tegas dan keras tanpa kerelaan untuk mendengar akan menjadikannya seorang pemimpin atau presiden yang otoriter.
  3. Seorang Presiden harus mampu merangkul semua golongan. Ketika bangsa kita begitu rentan terhadap perpecahan, pertikaian, dan saling serang karena perbedaan dan kepelbagaian, maka sangat dibutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan dan mengayomi semua unsur yang berbeda tersebut. Bukan dengan maksud menyeragamkan, tapi menjaga dan mengutuhkan yang berbeda-beda tersebut tetap dalam bingkai persatuan. Pemimpin yang mampu berdiri di atas banyak kepentingan, dan beragam perbedaan itulah yang bangsa ini butuhkan kedepannya.
  4. Seorang Presiden harus mempunyai integritas. Dimata hukum dan di mata banyak orang ia haruslah bersih dari segala macam catatan hitam dan buruk, umpamanya riwayat hebat dalam berkorupsi, berkolusi, dan bernepotisme. Untuk memimpin Indonesia lebih baik dan lebih maju lagi ke depannya, maka integritas masih merupakan keharusan bagi mereka yang berkeinginan menjadi presiden di republik ini.
  5. Seorang Presiden harus jujur. Zaman sekarang ini kejujuran semakin mahal harganya di negeri kita ini Karena seperti dalam kehidupan sehari-hari, semakin langka sesuatu itu akan semakin mahal harganya. Nah, barangkali pemimpin yang benar-benar jujur di negeri kita sudah semakin susah dijumpai. Bangsa ini sangat membutuhkan pemimpin yang jujur oleh karena tanpa kejujuran, segala sesuatu akan sangat mudah diselewengkan. Kejujuran adalah salah satu kriteria calon presiden kita. Tidak bisa ditawar-tawar. Sesuatu yang mau tidak mau harus ada.
  6. Pemimpin Negara harus Setia. Kesetiaan tidak melulu soal setia kepada pasangan hidup kita, tapi juga kesetiaan terhadap janji atau sumpah jabatan. Sudah terlalu sering ada pernyataan dan janji dari seorang pemimpin bahwa ia tidak akan korupsi, tapi lalu dikemudian hari mereka akhirnya terbukti melanggar janji dan sumpah mereka sendiri. Kita membutuhkan seorang presiden yang benar-benar bisa memegang janji dan sumpah yang sudah ia ucapkan.
  7. Pemimpin Negara harus menjadi teladan dan panutan. Bagaimana supaya ia diteladani? Pertama-tama tentu ia harus bisa memberikan keteladanan sebagai seorang pemimpin bangsa. Apa yang bisa diteladani dan dipanuti kalau ia adalah seorang yang korup, suka menyeleweng, tidak tegas, mudah ditipu bangsa asing, gampang marah tanpa sebab? Jadi ia harus membuktikan dulu bahwa dirinya memang pantas diteladani dan dipanuti oleh rakyat yang ia pimpin.
  8. Pemimpin negara harus seseorang yang nasionalis terbuka. Calon presiden kita mesti memiliki nasionalisme yang kuat. Dengan demikian ia akan mencintai rakyat yang ia pimpin. Ia tidak akan pernah membiarkan rakyatnya “dijajah” bangsa asing. Apa-apa yang ia lakukan adalah demi menyejahterakan rakyat. Tapi juga di sisi lain ia harus terbuka terhadap globalisasi dan tidak menutup mata terhadap negara-negara lain. Adalah tidak elok seorang pemimpin sebuah negara besar yang memiliki nasionalisme buta. Calon presiden kita harus nasionalis terbuka dan bukan nasionalis buta.
  9. Pemimpin negara harus memiliki loyalitas. Bukan hanya anak buah yang dituntut untuk memiliki loyalitas. Tidak hanya rakyat dan bawahan yang mesti loyal. Pemimpin pun termasuk presiden harus memiliki loyalitas dalam bekerja. Kepada siapa ia harus loyal? Kepada dan terhadap amanat rakyat. Kepada dan terhadap tugas dan tanggung-jawab dia sebagai presiden. Oleh karena itu presiden yang layak memimpin bangsa ini, adalah mereka yang punya loyalitas mumpuni. Bukan loyalitas lips servicesemata. Ketika ia belum mampu dan tidak berani berkorban sesuatu demi rakyat yang ia pimpin. Atau berkorban demi tugas yang ia emban, maka ia belum pantas disebut pemimpin yang ideal.
  10. Pemimpin negara harus mampu hidup sederhana. Memiliki gaya hidup bersahaja. Memaknai hidup sederhana adalah juga cara untuk merasakan dan turut meresapi penderitaan begitu banyak rakyat yang masih hidup pas-pasan. Menjalani hidup sederhana menunjukkan betapa ia peduli, dan terpanggil untuk semakin menyelami bahwa kita tidak boleh berpesta pora dan bersenang-senang dengan kemewahan di atas begitu banyak penderitaan orang lain. Alangkah nistanya pemimpin yang bergelimang harta kekayaan, hidup penuh kemewahan tapi tak mau peduli dengan puluhan juta penduduk yang sangat miskin. Mampu hidup sederhana adalah juga wujud toleransi terhadap yang papah dan miskin. Mereka yang mungkin hanya bisa tidur beralaskan daun pisang, makan di atas kertas koran, dan minum dari tampungan air hujan.
  11. Pemimpin negara tidak boleh terlalu tua, tapi jangan juga terlalu muda, khususnya dalam "pemikiran"nya. Usianya harus berada pada posisi optimal dalam memimpin, baik usia yang sebenarnya ataupun usia dalam pengertian pengalaman. Apabila pemimpin kita terlalu tua maka ia ibarat seorang kakek yang hanya akan mampu memberi nasehat tanpa sanggup berbuat apa-apa lagi. Kalau ia terlalu muda, ia akan gampang memutuskan sesuatu berdasarkan emosi sesaat, karena jam terbang belum banyak dan masih kurang pengalaman. Kalau terlalu muda, jangan-jangan mesti dijewer dulu telinganya baru mau kerja. Mesti dicambuk dulu pantatnya baru mau mengambil tindakan nyata. Ragu-ragu dalam memutuskan.
  12. Pemimpin negara haruslah orang yang punya komitmen, tidak mudah untuk dihasut dan terhasut. Seorang pemimpin bangsa harus punya pendirian tegas, dan jangan gampang dipengaruhi oleh bisikan kiri-kanan yang tak jelas, apalagi bisikan dari mereka yang hanya tahu mengadu domba dan mencari keuntungan semata. Pemimpin yang sangat mudah terpengaruh oleh “bisikan” semata, adalah pemimpin yang tidak punya prinsip. Masukan boleh dijadikan pertimbangan, tapi ia harus mampu membedakan mana masukan dan mana bisikan menyesatkan. Kan lucu jadinya bila seorang pemimpin negara besar, tapi gampang sekali dipengaruhi dan dihasut untuk sesuatu yang tidak jelas.
Sebagai seorang warga yang baik, kita berharap bersama bahwa negeri kita tercinta ini nantinya akan dipimpin seorang presiden yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk rakyat yang ia pimpin. Yang meanganggap bahwa rakyatnya adalah keluarganya, menyakiti hati rakyat sama artinya dengan menyakiti keluarganya sendiri. Bahwa presiden yang akan memimpin kita, adalah benar-benar sosok yang mengerti betul arti mensejahterakan masyarakat seutuhnya. Sebagaimana ia berusaha mensejahterakan dan membahagiakan seisi rumahnya, demikian pula yang akan ia lakukan untuk rakyat yang ia pimpin. Apalagi negara kita sudah terkenal sebagai negara yang sesungguhnya sangat kaya, dan subur, dan diberkati. Maka jangan sampai kemiskinan semakin bertambah. Jangan sampai pengibaratan anak ayam yang mati di lumbung padi berlaku di negeri yang kaya ini.

Adapun Syarat Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Undang-undang UU No 42 tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden adalah sebagai berikut :
  1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri
  3. Tidak pernah mengkhianati negara, serta tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana berat lainnya
  4. Mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden
  5. Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
  6. Telah melaporkan kekayaannya kepada instansi yang berwenang memeriksa laporan kekayaan penyelenggara negara
  7. Tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggung jawabnya yang merugikan keuangan negara
  8. Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan
  9. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela
  10. Terdaftar sebagai Pemilih
  11. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah melaksanakan kewajiban membayar pajak selama 5 tahun terakhir yang dibuktikan dengan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak OrangPribadi
  12. Belum pernah menjabat sebagai Presiden atau Wakil Presiden selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama
  13. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945
  14. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih
  15. Berusia sekurang-kurangnya 35 (tiga puluh lima) tahun
  16. Berpendidikan paling rendah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat
  17. Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung dalam G.30.S/PKI
  18. Memiliki visi, misi, dan program dalam melaksanakan pemerintahan negara Republik Indonesia
Demikian Kriteria Ideal Pemimpin Negara | Syarat Calon Presiden Republik Indonesia, semoga bermanfaat.
Baca juga Kriteria Memilih Pemimpin Ideal. Dan isu hangat mengenai menuntut pemimpin tegas kepada penista agama.
ReadmoreKriteria Ideal Pemimpin Negara

Menuntut Pemimpin Tegas Terhadap Penista Agama

Artikel agama dengan judul "Menuntut Pemimpin Tegas" ini ditulis setelah postingan sebelumnya tentang fatwa MUI tentang perayaan Natal bagi umat Islam. Karena isu hangat yang diperbincangkan yang menyangkut agama, politik dan sosial, penulis hendak mengeluarkan opini pribadi sebagai unek-unek yang ingin dikeluarkan di ruang publik ini.

Pemimpin yang tegas, itulah yang sangat kita butuhkan sekarang ini. Menjadi pemimpin dalam ajaran Islam tidak hanya sebatas di dunia. Melainkan juga bertanggung jawab hingga ke akhirat kelak. Persoalan yang melilit bangsa ini sekarang menuntut tegasnya pimpinan nasional dalam menegakkan hukum yang berkeadilan. Dalam hal keputusan hukuman bagi penista agama dalam kasus Ahok semestinya tidak dibiarkan berlarut-larut menunggu kepastian.

Munculnya tuntutan masyarakat yang tidak terbendung memunculkan aksi bela Islam dari mulai jilid satu hingga episode ber jilid-jilid yang super damai bukanlah terjadi karena kemarahan kepada individu, tetapi lebih pada menunggu proses kepastian hukum yang agak lamban. Bercermin ke Negara Tunis dan Mesir yang telah lebih dahulu menjadi contoh aktual bagaimana rakyat menderita secara ekonomi, berhasil menggulingkan pemerintahan yang disokong oleh militer dan negara asing. Apatah lagi bila rakyat, umat Islam menderita batin akibat dibiarkannya penodaan dan penista agama.

Kasus penistaan terhadap agama sebelumnya telah terjadi di Temanggung, dimana seorang penista agama Islam dan Kristen, telah memprovokasi kedua umat penganut agama di daerah tersebut agar bertengkar dan menumpahkan darah hanya divonis dengan hukuman 5 tahun penjara. Kemudian yang terjadi di penghujung tahun 2016 ini kasus Gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok dalam kasus penistaan Agama belum juga selesai digelar.

Anehnya yang diancam hukum itu malah pihak lain yang dianggap membuat resah melalui media sosial dengan delik hukum terjerat undang-undang ITE yang belum lama disahkan. Tuduhan provokator dan makar dialamatkan kepada mereka yang menulis atau berkomentar fakta penistaan agama dan kemdudian menjadi viral di jejaring sosial.

Sisi positif dari rangkaian kejadian Aksi Damai Bela Islam menyadarkan umat akan kepedulian terhadap agamanya. Pemimpin negara dapat melihat fakta masyarakat muslim mayoritas terbesar di Indonesia yang kian peduli bila nilai keagamaan terusik. Berkumpulnya jutaan umat Islam dalam aksi super damai jilid 3 di monas mematahkan tudingan bahwa aksi-aksi sebelumnya itu dilakukan oleh para pendemo bayaran.

Negara Indonesia sangat butuh pemimpin negarawan yang memiliki keperwiraan dan kesetiaan terhadap kebenaran. Jika sifat-sifat itu dibiarkan, maka sabda Rasulullah SAW yang memperingatkan kehancuran suatu bangsa, tak bisa dihindarkan lagi. Diantaranya, ulama menghianati ilmunya, pemimpin yang menyalahi janjinya, pedagang yang melakukan manipulasi, pegawai yang tidak jujur, dan lain-lain. Seluruh penyakit bangsa itu dapat disembuhkan dengan pemimpin tegas dalam urusan keutuhan negara.

Semoga Alloh yang maha agung melimpahkan rahmat dan karuania-Nya serta senantiasa menaungi kita semua dalam Ridlo dan Maghfiroh-Nya. Mari bersatu memelihara dan menjaga NKRI demi generasi umat di masa yang akan datang.
ReadmoreMenuntut Pemimpin Tegas Terhadap Penista Agama

Penjelasan Fatwa MUI Hukum Perayaan Natal Bagi Umat Islam

Fatwa Majlis Ulama terkait Hukum Perayaan Natal Bagi Umat Islam - Natal merupakan salah satu perayaan yang diselenggarakan oleh umat Nasroni / Kristiani. Polemik pertanyaan mengenai bagaimana yang menganut agama Islam merayakan natal bersama sahabat atau teman yang memiliki keyakinan berbeda, telah dijawab oleh fatwa MUI (Majlis Ulama Indonesia). Komisi Fatwa MUI telah menerbitkan edaran hukum Haram Merayakan Natal bagi umat muslim.

Melalui pernyataan KH Ma’ruf Amin dikatakan bahwa MUI telah memutuskan sebuah Fatwa terkait hukum haram bagi yang beragama Islam ikut terlibat atau bahkan hadir dalam perayaan Natalan. Menurutnya penjelasan ini dikeluarkan dan ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. M. Syukri Ghozali dan Sekretaris H. Masudi sejak dahulu kala tertanggal 7 Maret 1981.

Beberapa alasan dalil fatwa MUI tentang hukum haram mengikuti perayaan Natal bagi umat Islam dikarenakan beberapa fakta yang terjadi di era toleransi beragama, yaitu : Pertama, Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan umat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. Kedua, karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam kepanitiaan Natal. Ketiga, Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan Ibadah.

Dasar Hukum yang ditetapkan Majlis Ulama mengenai seseorang tidak boleh melakukan perayaan Natal tentunya merujuk pada sumber referensi Al-Qur'an dan As-Sunah. Selain itu fatwa hukum keluar setelah ada kesepakatan bersama dalam sebuah forum musyawarah seperti halnya hukum merayakan tahun baru masehi bagi Umat Islam. Kesepakatan yang dapat diperoleh dari mayoritas para ulama tentang apa hukum merayakan natal itu ya "HARAM" dengan beberapa alasan dalil berikut ini :

Fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404. Beliau rahimahullah pernah ditanya “Apa hukum mengucapkan selamat natal dengan ungkapan Merry Christmas pada orang yang berkeyakinan kristen Nashrani dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah menghadiri acara perayaan perayaan Natal? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”
Beliau rahimahullah menjawab :
Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca : ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya ‘Ahkamu Ahlidz Dzimmah’. Beliau rahimahullah mengatakan,

“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah–

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az Zumar [39] : 7)

Allah Ta’ala juga berfirman,
وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah [5] : 3)

Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat Natal?Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.

Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron [3] : 85)

Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini diharamkan. Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.

Bagaimana Hukum Tasyabuh / Menyerupai Orang Nashrani dalam Merayakan Natal?Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ‘santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan,
“Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” -Demikian perkataan Syaikhul Islam-

Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.

Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.

Fatwa menyenai mengunjungi kerabat atau teman yang beragama Nashrani untuk Mengucapkan Selamat Natal pada Mereka
Masih dari fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah dari Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/29-30, no. 405. Syaikh rahimahullah ditanya : Apakah diperbolehkan pergi ke tempat pastur (pendeta), lalu kita mengucapkan selamat hari raya dengan tujuan untuk menjaga hubungan atau melakukan kunjungan? Beliau menjawab : Tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir, lalu kedatangannya ke sana ingin mengucapkan selamat hari raya, walaupun itu dilakukan dengan tujuan agar terjalin hubungan atau sekedar memberi selamat (salam) padanya. Karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167)

Adapun dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke tempat orang Yahudi yang sedang sakit ketika itu, ini dilakukan karena dulu ketika kecil, Yahudi tersebut pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Yahudi tersebut sakit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dengan maksud untuk menawarkannya masuk Islam. Akhirnya, Yahudi tersebut pun masuk Islam.

Bagaimana mungkin perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengunjungi seorang Yahudi untuk mengajaknya masuk Islam, kita samakan dengan orang yang bertandang ke non muslim untuk menyampaikan selamat hari raya untuk menjaga hubungan?! Tidaklah mungkin kita kiaskan seperti ini kecuali hal ini dilakukan oleh orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu.

Fatwa Ulama Mengenai Merayakan Natal BersamaPenjelasan berikut adalah fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 8848.
Pertanyaan : Apakah seorang muslim diperbolehkan bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam perayaan Natal yang biasa dilaksanakan pada akhir bulan Desember? Di sekitar kami ada sebagian orang yang menyandarkan pada orang-orang yang dianggap berilmu bahwa mereka duduk di majelis orang Nashrani dalam perayaan mereka. Mereka mengatakan bahwa hal ini boleh-boleh saja. Apakah perkataan mereka semacam ini benar? Apakah ada dalil syar’i yang membolehkan hal ini?
Jawab : Tidak boleh bagi kita bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam melaksanakan hari raya mereka, walaupun ada sebagian orang yang dikatakan berilmu melakukan semacam ini. Hal ini diharamkan karena dapat membuat mereka semakin bangga dengan jumlah mereka yang banyak. Di samping itu pula, hal ini termasuk bentuk tolong menolong dalam berbuat dosa. Padahal Allah berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah [5] : 2)
Semoga Allah memberi taufik pada kita. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikut dan sahabatnya.

Kesimpulan yang dapat kita ambil tentang Hukum Perayaan Natal bagi umat Islam 

Pertama, Kita –kaum muslimin- diharamkan menghadiri perayaan orang kafir termasuk di dalamnya adalah perayaan Natal. Bahkan mengenai hal ini telah dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia sebagaimana dapat dilihat dalam fatwa MUI yang dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1981.

Kedua, Kaum muslimin juga diharamkan mengucapkan ‘selamat natal’ kepada orang Nashrani dan ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim. Jadi, cukup ijma’ kaum muslimin ini sebagai dalil terlarangnya hal ini. Yang menyelisihi ijma’ ini akan mendapat ancaman yang keras sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’ [4] : 115). 

Jalan orang-orang mukmin yang dimaksud pada ayat di atas adalah ijma’ (kesepakatan para ulama). Oleh karena itu, yang mengatakan bahwa Al Qur’an dan Hadits tidak melarang mengucapkan selamat hari raya pada orang kafir, maka ini pendapat yang keliru. Karena ijma’ kaum muslimin menunjukkan terlarangnya hal ini. Dan ijma’ adalah sumber hukum Islam, sama dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Ijma’ juga wajib diikuti sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa ayat 115 di atas karena adanya ancaman kesesatan jika menyelisihinya.

Ketiga, jika diberi ucapan selamat natal, tidak perlu kita jawab (balas) karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala.

Keempat, tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir untuk mengucapkan selamat hari raya.

Kelima, membantu orang Nashrani dalam merayakan Natal juga tidak diperbolehkan karena ini termasuk tolong menolong dalam berbuat dosa.

Keenam, diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan dalam rangka mengikuti orang kafir pada hari tersebut.

Itulah penjelasan dan kesimpulan tentang fatwa ulama dan termasuk MUI terkait hukum merayakan Natal bagi yang beragama Islam. Mudah-mudahan kita senantiasa diberi taufik dan hidayah-Nya agar selalu berada di jalan yang benari yang diridloi Alloh SWT. Amin
ReadmorePenjelasan Fatwa MUI Hukum Perayaan Natal Bagi Umat Islam

Hukum Merayakan Pesta Tahun Baru Masehi

Masih membahas tentang tradisi bid'ah, sekarang mari kita bahas alasan hukum merayakan tahun baru juga termasuk upacara bid'ah yang tidak perlu dilakukan oleh umat Islam. Dalih toleransi terkadang membutakan seorang muslim yang dengan alasan saling menghargai dan monghormati sahabat yang beragama lain ikut merayakan upacara yang hanya sebatas berpesta pora saja merayakan tahun baru masehi.

Dalil alasan kuat tentang hukum perayaan pesta tahun baru untuk umat Islam adalah Haram, sebab termasuk perbuatan bid'ah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan tidak pula diperintahkan Allah SWT. Hukum perayaan tahun baruan itu dapat dipertegas dengan pernyataan-pernyataan berikut ini:

a. Ritul Merayakan Malam Tahun Baru Bermula dari Ibadah Nashrani
Bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya.
Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir nabi Isa.
Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam. Itu sama halnya dengan fatwa Majlis ulama tentang perayaan Natal bagi umat muslim.

b. Perayaan Malam Tahun Baru Tasyabuh Menyerupai Orang Kafir
Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”

c. Perayaan Malam Tahun Baru Penuh Maksiat
Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam.

Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.

d. Perayaan Malam Tahun Baru Bid’ah
Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal. Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam tahun baru masehi di masjid-masijd dengan melakukan shalat malam berjamaah, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan salafus shalih.
Maka hukumnya bid’ah bila khusus untuk even malam tahun baru digelar ibadah ritual tertentu, seperti qiyamullail, doa bersama, istighatsah, renungan malam, tafakkur alam, atau ibadah mahdhah lainnya. Karena tidak ada landasan syar’inya.

Demikian alasan haram merayakan pesta tahun baru bagi ummat Islam. Daripada merayakan perbuatan tersebut, lebih baik mari kita hanya menjalankan perintah Allah dan menghidupkan sunnah Rasulullah, dengan demikian maka akan medapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, di Dunia dan Akhirat kelak.
ReadmoreHukum Merayakan Pesta Tahun Baru Masehi

Kamus Besar Bahasa Sunda Terlengkap dan Terbaru

Kamus online bahasa sunda paling lengkap untuk referensi anda mencari kata terjemah sunda yang tidak dimengerti, baik itu basa sunda halus, kasar, banten, atau cirebon. Semua kata pada kamus besar basa sunda di bawah lebih dari 5.200 kata yang telah disusun secara alfabetis.

Adapun kumpulan arti kata pada kamus bahasa sunda yang diterjemahkan dengan artinya sekitar 2.500-an. Karena begitu banyaknya kata untuk dicari apa artinya dari basa sunda ke bahasa Indonesia anda dapat menggunakan tool ctrl+f lalu ketik tulisan sunda yang ingin dicari artinya.

Makna arti dari kata sunda tersebut diwakili oleh satu kata singkat dengan bahasa yang dimengerti. Untuk memudahkan pencarian anda dapat mencari kata dengan bahasa sunda per kata dan kami menyusun padanan arti kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Berikut kamus sunda - Indonesia online terlengkap :
A
Aang artinya Kakak
Abah artinya Bapak
Abdi (sim) artinya Saya
Abot artinya Berat
Acan artinya Belum
Acuk / Raksukan artinya Pakaian
Adat artinya Tabiat
Adeuk artinya Akan
Adi artinya Adik
Adigung artinya Angkuh
Adil artinya Adil
Agan artinya Tuan
Ageung artinya Besar
Agul artinya Bangga / Sombong
Ahéng artinya Aneh / Ganjil
Aing (kasar) artinya Saya
Ajag artinya Srigala
Ajeng artinya Mengajukan
Ajleng /Ngajleng artinya Lompat / Melompat
Akang artinya Kakak
Akar artinya Akar
Aki artinya Kakek
Aksara artinya Tulisan / Huruf
Ali artinya Cincin
Alim artinya Tidak Mau
Alit artinya Kecil
Almenak artinya Almanak
Alo artinya Keponakan
Alung artinya Lempar
Alus, Saé artinya Bagus
Amang / Emang artinya Paman
Amarah artinya Emosi
Ambéh artinya Agar
Ambek artinya Marah
Ambekan artinya Hawa Nafsu
Ambeu artinya Mencium Bau
Ambu artinya Ibu
Ameng artinya Bermain
Amis artinya Manis
Ampar artinya Tilam
Ampir artinya Hampir / Nyaris
Anak artinya Anak
Ancin artinya Sedikit Makan
Anclub artinya Turun ke air
Ancur artinya Hancur
Andiprek artinya Lesesan
Anduk artinya Handuk
Angel / Anggel artinya Bantal
Angger artinya Tetap
Anggo artinya Pakai
Anggoan artinya Pakaian
Angkat artinya Pergi
Angkéng artinya Pinggang
Angkeub artinya Mendung
Angkeut artinya Dagu
Anjang artinya Mengunjungi
Anjeun artinya Anda / Kamu
Anjeunna artinya Dia/ia/beliau
Anom artinya Muda
Antawis artinya Antara
Anteur artinya Antar
Antos artinya Tunggu
Antuk / Antukna artinya Akhirnya
Anu/nu artinya Yang
Anyar artinya Baru
Aos artinya Baca
Apa artinya Bapak
Apal artinya Hafal
Api-api artinya Pura-pura
Aprak artinya Jelajah
Apu artinya Batu Kapur
Arék / Rék artinya Akan
Areung artinya Arang
Arit artinya Celurit
Artos artinya Uang
Asa artinya Sepertinya
Asak artinya Masak / Matang
Asin artinya Asin
Astana artinya Pekuburan
Astra artinya Wajah
Asup artinya Masuk
Atah artinya Mentah
Atanapi artinya Atau
Atawa artinya Atau
Ateul artinya Gatal
Atik artinya Didik / Ajar
Atikan artinya Ajaran
Atoh artinya Senang
Atos artinya Sudah
Atra / Jatra artinya Jelas
Awak artinya Tubuh/Badan
Awang-awang artinya Angkasa
Awéwé artinya Perempuan / Wanita
Awi artinya Bambu
Awis artinya Mahal
Awon artinya Jelek
Aya artinya Ada
Ayak artinya Saring
Ayakan artinya Saringan
Ayeuna artinya Kini/Sekarang

B
Babar artinya Lahir
Babaturan artinya Teman
Badag artinya Besar
Badéartinya Akan
Bagéan artinya Bagian
Bagel / Ngabagel artinya Keras / Mengeras
Bagja artinya Bahagia
Bagong artinya Ba-bi Hutan
Baham artinya Mulut
Baheum artinya Kulum
Bahé artinya Tumpah
Baheula artinya Dahulu
Bajing artinya Tupai
Bakal artinya Akan
Balad artinya Teman
Balanak artinya Belanak
Balang artinya Lempar
Balangsak artinya Melarat / Miskin
Balédog artinya Lempar
Balég artinya Dewasa
Baleuy artinya Tidak terlalu panas
Balik artinya Pulang
Balong artinya Kolam
Balung artinya Tulang
Bancét artinya Katak Berekor (anak katak)
Bangga artinya Ribet
Bangir artinya Mancung (Hidung)
Bangkawarah artinya Kurang Ajar
Bangké artinya Bankai
Bangkong artinya Katak
Bangkuang artinya Bengkuang
Bango artinya Bangau
Bantos artinya Bantu
Bantun artinya Bawa
Baraya artinya Saudara
Baréd artinya Tergores
Bareuh artinya Bengkak
Bari (katuangan) artinya Basi
Baruk artinya Begitukah ?
Barusuh artinya Sariawan
Basa artinya Bahasa
Basa artinya Ketika, Saat
Baseuh artinya Basah
Basisir artinya Pesisir
Bati artinya Laba
Batur artinya Orang Lain
Bau artinya Bau
Bawa artinya Bawa
Bayah artinya Paru-paru
Bayawak artinya Biawak
Bayeungyang artinya Gerah
Bayuhyuh artinya Gemuk
Béak artinya Habis
Béas artinya Beras
Bébénéartinya Kekasih
Béha artinya Bra
Béja artinya Kabar / Berita
Béké artinya Pendek
Bénten artinya beda
Béntang artinya bintang
Béré/ Méré artinya beri /memberi
Béréhan artinya dermawan, murah hati
Bedegong artinya Bandel
Bedil artinya Senjata Laras Panjang
Bedog artinya Golok
Begal artinya Perampok
Begang artinya Kurus
Begu artinya Anak ****
Bekong artinya Mug Besar
Belegug artinya Bodoh / Tolol
Belejog / Kabelejog artinya Tipu / Tertipu
Belenyéh artinya Tertawa Kecil
Belesek artinya Amblas
Belet artinya Bodoh
Béncong artinya Waria
Bendu artinya Marah
Bener artinya Benar
Bentén artinya Ikat pinggang dari emas
Beresih artinya Bersih
Beresin artinya Bersin
Berkat artinya Bingkisan
Beuheung artinya Leher
Beulah artinya Belah
Beuleum artinya Bakar
Beuli artinya Beli
Beulit artinya Lilit
Beungeut artinya Wajah
Beunghar artinya Kaya
Beungkeut artinya Ikat
Beurang artinya Siang
Beurat artinya Berat
Beureum artinya Merah
Beurit artinya Tikus
Beusi artinya Besi
Beuteung artinya Perut
Béwara artinya Berita/Pengumuman
Biang artinya Ibu
Biantara artinya Pidato
Bieu artinya Barusan
Bikang artinya Betina
Bilatung artinya Belatung
Binangkit artinya Kreatip
Bingah artinya Gembira
Bingah artinya Geraham
Bingung artinya Kalut
Bireuk artinya Tidak kenal
Bisluit artinya SK artinya Surat keputusan
Bitis artinya Betis
Bitu artinya Meledak
Biwir artinya Bibir
Bobo artinya Tidur
Bobo artinya Lapuk
Boboko artinya Bakul
Bobos artinya Kentut
Bobotoh artinya Pendukung
Bodas artinya Putih
Bodo artinya Bodoh
Bodor artinya Lawak
Boga artinya Punya
Bojo artinya Isteri
Boloho artinya Bodoh
Bolokot artinya Kotor oleh Lumpur
Bongoh artinya Lengah
Bosen artinya Bosan
Buah artinya Mangga
Budah artinya Buih
Budak artinya Anak
Bueuk artinya Burung Ahntu
Bujal artinya Udel
Bujangan artinya Jejaka
Bujur artinya Pantat
Buk-Bak artinya Obrak-Abrik
Buktos artinya Bukti
Buku artinya Buku
Bulan artinya Bulan
Bulao artinya Biru
Buleud artinya Bulat
Bumi artinya Rumah
Bungah artinya Gembira
Buni artinya Tersembunyi
Buntut artinya Ekor
Bureuteu artinya Gendut
Buru artinya Lekas
Buruan artinya Halaman rumah
Buruh artinya Upah
Burung artinya Gila
Butuh artinya Perlu
Butut artinya Jelek
Buyur artinya Anak Katak

C
Caah artinya Banjir
Caang artinya Terang
Cabak artinya Raba
Cabok artinya Tampar
Cacag artinya Cincang
Cadu artinya Tak pernah
Cagak artinya Cabang
Cageur artinya Sehat
Cai artinya Air
Cakcak artinya Cecak
Caket artinya Dekat
Calacah artinya Abu Rokok
Calakan artinya Rajin
Calana artinya Celana
Caletot / Kacaletot artinya Keceplosan Ngomong
Calik artinya Duduk
Candak artinya Bawa, Ambil, Bawa
Cangcang artinya Tambat
Cangked artinya Tambat
Cangkéng artinya Pinggang
Cangkurileung artinya Burung Kutilang
Capé artinya Capai, Lelah
Capit artinya Jepit
Caram artinya Larang
Carang artinya Jarang
Carék artinya Larang
Caréham artinya Geraham
Caréngcang artinya Jarang (barang di toko)
Careuh artinya Musang
Caringin artinya Beringin
Carios artinya Cerita
Carita artinya Cerita/Kisah
Carogé artinya Suami
Carpon (carita pondok) artinya Cerpen (Cerita pendek)
Cawet artinya Celana Dalam
Cekap artinya Cukup
Cékér artinya Kaki (unggas)
Cempor artinya Lampu Minyak
Cénang artinya Bisul
Céngék artinya Cabai Rawit
Cengkat artinya Bangun (dari duduk)
Céntang artinya Sentil
Cepil artinya Telinga
Céréwét artinya Cerewet
Ceudeum artinya Mendung
Ceuk artinya Kata
Ceuli artinya Telinga
Ceumpal artinya Lap
Ceurik artinya Tangis / Menangis
Ciak artinya Anak Ayam
Ciduh artinya Ludah
Cikur artinya Kencur
Cilaka artinya Celaka
Cileuh artinya Belek / Kotoran Mata
Cingceng artinya Gesit
Cingcin artinya Cincin
Cingir artinya Kelingking
Cingogo artinya Jongkok
Cipruk artinya Basah
Ciri artinya Tanda
Citak artinya Cetak
Ciwit artinya Cubit
Cobi artinya Coba
Coét artinya Cobek
Cokor artinya Kaki (binatang)
Cokot artinya Ambil
Colok artinya Jotos
Comél artinya Banyak Omong
Comot artinya Mengambil Sedikit
Congcorang artinya Belalang Sembah
Coplok artinya Lepas / Terlepas
Cucuk artinya Duri
Cucunguk artinya Kecoa
Cukang artinya Jembatan
Cunihin artinya Genit (laki-laki)
Cupu artinya Kotak
Cureuleuk artinya Jeli
Cureuleuk artinya Berbinar (mata)
Curuk artinya Jari Telunjuk

D
Dadali artinya Burung Garuda
Daék artinya Mau
Dago artinya Tunggu
Dahar artinya Makan
Dahuan artinya Kakak Ipar
Dalapan artinya Delapan
Damang artinya Sehat
Damar artinya Lampu
Damel artinya Kerja
Damis artinya Pipi
Dampal artinya Telapak
Dangdan artinya Rias
Dangdos artinya Rias
Danget artinya Saat
Dangu artinya Dengar
Darehdeh artinya Ramah
Datang artinya Tiba / Sampai
Datang artinya Sampai
Dayeuh artinya Kota
Déét artinya Dangkal
Déngé (kasar) artinya Dengar
Déwék (kasar) artinya Saya
Deudeuh artinya Sayang
Deui artinya Lagi
Deukeut artinya Dekat
Deuleu (kasar) artinya Lihat
Deungeun artinya Teman
Deungeunna artinya Lauk Pauk
Diajar artinya Belajar
Digjaya artinya Sakti
Dina artinya Pada / Di
Dines artinya Dinas
Dinten artinya Hari
Diuk artinya Duduk
Doja artinya Ganggu / Coba
Domba artinya Biri-biri
Dongkap artinya Tiba / Sampai
Du’a artinya Do’a
Dudukuy artinya Topi
Dugi artinya Tiba
Duit artinya Uang
Duka artinya Tidak Tahu
Dulur artinya Saudara
Dumasar artinya Berdasarkan
Dunungan artinya Majikan
Dunya artinya Dunia
Dupak artinya Senggol
Duriat artinya Perasaan Cinta
Duruk artinya Bakar

É
Écés artinya Jelas
Édég artinya Stress, Gila, Pandir
É’é artinya Beol
Ékék artinya Burung Betet
Éléh artinya Kalah
Élékéték artinya Gelitik
Élmu artinya Ilmu
Émpang artinya Kolam
Émut artinya Ingat
Éndah artinya Indah
Énggal artinya Cepat
Énjing artinya Besok
Énjing artinya Pagi
Énjing-enjing artinya Pagi-pagi
Éntog artinya Mentok (semacam bebek)
Éra artinya Malu
Étang artinya Hitung
Étangan artinya Hitungan

E
Embé artinya Kambing
Embung artinya Tidak Mau
Eundeur artinya Bergetar
Endog artinya Telur
Enggeus artinya Sudah
Engké artinya Nanti
Entong artinya Jangan
Enya artinya Iya

EU
Eueut artinya Minum
Eujeung artinya Dengan
Euleum artinya Cukup
Eunteung artinya Cermin
Euntreup artinya Hinggap
Eurad artinya Jerat
Eureun artinya Berhenti
Eusi artinya Isi

G
Gabrug artinya Terkam
Gado artinya Dagu
Gaduh artinya Punya
Gajih artinya Lemah
Galengan artinya Pematang sawah
Galeuh artinya Beli
Galing artinya Ikal
Galumbira artinya Bergembira
Galungan artinya Gumul / Bergumul
Galur artinya Jalan
Gampang artinya Mudah
Gampil artinya Mudah
Gampleng artinya Tampar
Gancang artinya Cepat
Gandeng artinya Berisik
Gantar artinya Galah
Ganti artinya Ganti
Gapura artinya Gerbang
Garing artinya Kering
Garo artinya Garuk
Garong artinya Pencuri
Garwa artinya Istri
Gawé artinya Kerja
Gawir artinya Jurang
Gayor artinya Sangga
Gayot artinya Gantung
Gégél artinya Gigit
Géhéng artinya Hangus artinya Besar
Géhgéran artinya Latah
Géléng artinya Gilas / Lindas
Gélo artinya Gila
Géték artinya Geli
Gedé artinya besar
Gedong artinya Gedung
Gelut artinya Berkelahi
Gembul artinya Lahap
Genep artinya Enam
Gentos artinya Ganti
Gepok artinya Tumpuk
Gering artinya Sakit
Gero / Ngageroan artinya Panggil / Memanggil
Geter artinya Getar
Getih artinya Darah
Getok artinya Jitak
Getol artinya Rajin
Geugeut artinya Sayang
Geulang artinya Gelang
Geuleuh artinya Jijik
Geulis artinya Jelita
Geumpeur artinya Gugup
Geuneuk artinya Lebam
Geunjleung artinya Tersiar
Geutah artinya Getah
Gigir artinya Sebelah / Samping
Gimir artinya Jerih
Girimis artinya Gerimis
Gitek artinya Goyang
Giwang artinya Anting
Godog artinya Rebus
Gogog artinya An-jing
Gohgoy artinya Batuk
Goreng artinya Jelek
Gorobag artinya Gerobak
Gugah artinya Bangun Tidur
Gugunungan artinya Bukit
Gugusi artinya Gusi
Guguyon artinya Humor
Guha artinya Goa
Gula artinya Gula
Guludug artinya Guntur
Gumbira artinya Gembira / Girang
Gumilang artinya Gemilang
Gumujeng artinya Ketawa
Gundam artinya Gigau
Gurilap artinya Gemerlap

H
Halabhab artinya Dahaga / Haus
Halimpu artinya Merdu
Halimun artinya Kabut
Halis artinya Alis
Halodo artinya Musim kering
Halu artinya Alu
Hambar artinya Tawar
Hampang artinya Ringan
Hampas artinya Ampas
Hamperu artinya Empedu
Hampura artinya Maaf
Hanaang artinya Dahaga / Haus
Handap artinya Bawah / Rendah
Haneut artinya Hangat
Hanjakal artinya Menyayangkan
Hanjelu artinya Sesal
Hanyir artinya Amis
Hapa artinya Hampa
Hapunten artinya Mohon maaf
Harangasu artinya Jelaga
Haratis artinya Gratis
Harep artinya Harap
Hareudang artinya Gerah
Hareup artinya Depan
Harewos artinya Bisik
Hariring artinya Dendang
Hariwang artinya Cemas
Harkat artinya Martabat
Harti artinya Arti
Hartos artinya Arti
Haseum artinya Asam (rasa)
Haseup artinya Asap
Haur artinya Bambu
Hawek artinya Loba
Hayam artinya Ayam
Hayang artinya Mau / Kepingin
Hayu artinya Ayo / Mari
Héés artinya Tidur
Héjo artinya Hijau
Hémeng artinya Heran
Hérang artinya Bening / Jernih
Hésé artinya Susah
Henteu artinya Tidak akan
Heueuh artinya Iya
Heubeul artinya Dahulu
Heulang artinya Elang
Heuleut artinya Saat
Heureut artinya Menyempit
Heureuy artinya Gurau
Hideng artinya Rajin
Hidep artinya Kamu
Hideung / Hideung Lestreng artinya Hitam / Hitam Legam
Hieum artinya Rindang
Hiji artinya Satu
Hilap artinya Lupa
Hileud artinya Ulat
Hilik artinya Awas
Hilir artinya Ilir
Hipu artinya Empuk / Lunak
Hirup artinya Hidup
Hitut artinya Kentut
Honcéwang artinya Bimbang
Horéam artinya Malas
Hoyong artinya Mau / Ingin
Hu ut artinya Gabah
Hudang artinya Bangun Tidur / Bangkit
Huis artinya Uban
Hujan artinya Hujan
Hulu artinya Kepala
Huma artinya Ladang
Huntu (kasar) artinya Gigi
Hurang artinya Udang
Hurung artinya Nyala
Hutang artinya Utang
Hyang / Sanghyang artinya Dewa

I
Ibak artinya Mandi
Iber artinya Kabar
Ibing artinya Menari
Ibu artinya Ibu
Ibun artinya Embun
Ical artinya Jual
Ical artinya Hilang
Icip artinya Cicip
Idek artinya Didekatkan
Ieu artinya Ini
Iga artinya Rusuk
Igel artinya Menari
Ijid artinya Jijik
Ilahar artinya Normal
Imah artinya Rumah
Imbit artinya Pantat
Impleng artinya Membayangkan
Imut artinya Senyum
Incer artinya Incar
Incok artinya Encok
Incu artinya Cucu
Indit artinya Pergi
Indung artinya Ibu
Inget artinya Ingat
Inggis artinya Gelisah
Ingkab artinya Ketiak / Ketek
Ingkig artinya Pergi meninggalkan
Ingon artinya Ternak
Injeum artinya Pinjam
Injuk artinya Ijuk
Inohong artinya Tokoh
Inteun artinya Intan
Ipis artinya Tipis
Iraha artinya Kapan
Irong artinya Lihat
Irung artinya Hidung
Ised artinya Geser
Isin artinya Malu
Isténan artinya Memperhatikan
Isteri artinya Wanita / Perempuan
Isuk artinya Besok
Isuk artinya Pagi
Isukan artinya Besok
Isuk-isuk artinya Pagi-pagi
Istrénan artinya lantik
Itu artinya Itu
Itung artinya Hitung
Iuh artinya Teduh
Iwal artinya Kecuali

J
Jaga artinya Kelak
Jagjag artinya Sehat
Jagong artinya Jagung
Jail artinya Jahil
Jajaka artinya Jejaka / Pemuda
Jajatén artinya Ilmu Kesaktian
Jalma artinya Manusia/orang
Jalmi artinya Manusia/orang
Jalu artinya Jantan
Jampana artinya Joli
Jampé artinya Mantera
Janari artinya Pagi Buta
Jandéla artinya Jendela
Jangar artinya Pusing
Janggot artinya Janggut
Jangjang artinya Sayap
Jangji artinya Janji
Jangkorang artinya Tinggi Kurus
Jangkrik artinya Jangkrik
Jangkung artinya Tinggi (ukuran tubuh)
Janten artinya Jadi
Japati artinya Merpati
Jaram artinya Kuman
Jarhiji artinya Jari Manis
Jarum artinya Jarum
Jauh artinya Jauh
Jawér artinya Janger Ayam
Jempling artinya Sepi / Sunyi
Jempol artinya Ibu Jari
Jenengan artinya Nama
Jero artinya Dalam
Jeung artinya Dan / Dan
Jibreg artinya Basah Kuyup
Jiga artinya Seperti
Jilid artinya Jilid
Jiwa artinya Jiwa
Jugjug artinya Tuju
Jujuluk artinya Gelar
Jujur artinya Jujur
Jumblah artinya Jumlah
Jumpalit artinya Salto
Jungkrang artinya Jurang
Juntrung artinya Menjadi
Juragan artinya Tuan
Juralit artinya Salto
Jurig artinya Hantu
Juru artinya Sudut

K
Ka artinya Ke
Ka Dieu artinya Ke Sini
Ka Ditu artinya Ke sana
Kabéh artinya Semua
Kabentar artinya Tersambar
Kabiri artinya Kebiri
Kabogoh artinya Kekasih
Kaca artinya Halaman (buku)
Kacida artinya Amat Sangat
Kadé artinya Awas
Kadék artinya Sambit
Kadongdong artinya Kedongdong
Kadongkapan artinya Kedatangan
Kaduhung artinya Menyesal
Kaén artinya Kain
Kagoda artinya Tergoda
Kagungan artinya Punya
Kahatur artinya Kepada
Kai artinya Kayu
Kajabi artinya Kecuali
Kajajadén artinya Jejadian (mahluk jadi-jadian)
Kakandungan artinya Hamil
Kalangkang artinya Bayangan
Kalapa artinya Kelapa
Kaléci artinya kelereng
Kaléng artinya Aping
Kalér artinya Utara
Kalih artinya Juga
Kalong artinya Kelelawar
Kamar artinya Kamar
Kamari artinya Kemarin
Kampak artinya Kapak
Kampungan artinya Norak
Kandel artinya Tebal
Kanggo artinya Untuk
Kangkalung artinya Kalung
Kanyaho artinya Pengetahuan
Kaos Sangsang artinya Singlet
Kaping / Ping artinya Tanggal
Kapungkur artinya Dahulu
Kaput artinya Jahit
Karang artinya Tahi Lalat
Karaton artinya Istana
Kareueut artinya Manis Sekali
Kareunang artinya Gerah
Karunya artinya Kasian / Iba
Kasetrum artinya Tersengat Listrik
Kasuat-suat artinya Teringat-ingat
Katél artinya Wajan
Katuhu artinya Kanan
Kaula artinya Saya
Kawas artinya Seperti
Kawasa artinya Kuasa
Kawentar artinya Mashur
Kawih artinya Lagu
Kawilang artinya Terbilang
Kawit artinya Berasal
Kawon artinya Kalah
Kawung artinya Enau
Kayas artinya Merah Muda / Pink
Kéok artinya Kalah
Kérék artinya Mendengkur
Kélék artinya Ketiak
Késang artinya keringat
Kéjo artinya nasi
Kénca artinya Kiri
Kénging artinya Dapat
Kedul artinya Pemalas
Kebon artinya Kebun
Kecap artinya Kalimat
Kelenci artinya Kelinci
Kelir artinya Warna / Corak
Kembang artinya Bunga
Kempel artinya Kumpul
Kempelan artinya Perkumpulan
Kentel artinya Kental
Kenténg artinya Genteng
Kenyed artinya Hentak
Kenyot artinya Isap
Kerekeb artinya Terkam
Kerepus artinya Topi
Keretas artinya Kertas
Kersa artinya Mau / Sanggup
Kesed artinya Sepet / Sepat
Keuheul artinya Jengkel / Geram
Keukeuh artinya Memaksa
Keukeup artinya Peluk
Keuneung artinya Tumit
Keupeul artinya Genggam
Keureut artinya Iris
Keusik artinya Pasir
Keuyeup artinya Kepiting Sawah
Kiat artinya Kuat
Kiceup artinya Kedip
Kidul artinya Selatan
Kieu artinya Begini
Kiih artinya Kencing
Kila-kila artinya Tanda-tanda
Kinca artinya Cairan gula aren
Kinten artinya Kira
Kinten-kinten artinya Kira-kira
Kintun artinya Kirim
Kirang artinya Kurang
Kiridit artinya Kredit
Kirik artinya Anak ******
Kiripik artinya Keripik
Kiruh artinya Keruh
Kitu artinya Begitu / Demikian
Kiwa artinya Kiri
Kiwari artinya Sekarang
Kiwari artinya Kini
Kobok artinya Memasukan Tangan
Kocéak artinya Jerit
Kojor artinya Meninggal / Mati
Kolor artinya Celana Dalam
Kolot artinya Tua
Komo artinya Apa Lagi
Konci artinya Kunci
Konéng artinya Kuning / Kunyit
Kongkorong artinya Kalung
Koréd artinya Kais
Korét artinya Pelit / Kikir
Korong artinya Upil
Koropak artinya Bagian Dari
Koropok artinya Berlubang
Koropos artinya Keropos
Korsi artinya Kursi
Kosok artinya Gosok
Ku artinya Oleh
Kuar artinya Anak Kutu Rambut
Kuciwa artinya Kecewa
Kudu artinya Harus
Kuéh artinya Kue
Kukupu artinya Kupu-kupu
Kulah artinya Kolam
Kulambu artinya Kelambu
Kulawarga artinya Keluarga
Kulawargi artinya Keluarga
Kulem artinya Tidur
Kulon artinya Barat
Kulub artinya Rebus
Kulutus artinya Gerutu
Kumaha artinya Bagaiman
Kumbah artinya Cuci
Kumeli artinya Kentang
Kumis artinya Kumis
Kunaon artinya Kenapa
Kuncén artinya Juru kunci
Kunyit artinya Jawawut
Kunyuk artinya Kera
Kuping artinya Dengar
Kurang artinya Kurang
Kuring artinya Saya
Kuris artinya Cacar
Kuru artinya Kurus
Kurung artinya Kandang Burung
Kurupuk artinya Kerupuk
Kusir artinya Kusir
Kusumah artinya Kesuma
Kutang artinya Bra
Kuya artinya Kura-kura

L
Laat artinya Telat
Lada artinya Pedas
Lahan artinya Tanah
Lain artinya Bukan
Lajeng artinya Kemudian / Selanjutnya
Laki Rabi artinya Suami Istri
Lalab artinya Lalap
Lalaki artinya Laki-laki
Laleur artinya Lalat
Lali artinya Lupa
Laluasa artinya Leluasa
Lambar artinya Lembar
Lambey artinya Bibir
Lami artinya Lama
Lamokot artinya Belepotan
Lamot artinya Jilat
Lampah artinya Jalan yang ditempuh
Lamping artinya Pinggir Gunur
Lampuyang artinya Lempuyang
Lamun artinya Jika / Bila
Lana artinya Abadi
Lanceuk artinya Kakak
Lancingan artinya Celana
Landong artinya Obat
Langgam artinya Lagu
Langit artinya Langit
Langki artinya Langka
Langkung artinya Lebih
Langlang, ngalanglang artinya Langlang, melanglang
Langlayangan artinya Layang-layang
Lantaran artinya Karena
Lantera artinya Lentera
Lauk artinya Ikan
Laun artinya Lambat
Lawas artinya Lama
Lawon artinya Kain
Layad / Layat artinya Jenguk
Layeut artinya Selalu Bersama
Layon artinya Kain
Layung artinya Lembayung
Lééh artinya Mencair
Lélépén artinya Cincin
Léngkah artinya Langkah
Léngoh artinya Tidak Bawa Apa-apa
Léntah artinya Lintah
Léot artinya Setrika
Lénglang artinya CerahLebar artinya Sayang
Lékéték artinya Gelitik
Lésot artinya Lepas
Létah artinya Lidah
Létak artinya Jilat
Létoy artinya Lemah
Lebet artinyaMasuk
Lebu artinya Abu Gosok
Ledis artinya Habis tidak tersisa
Lega artinya Lebar / Luas
Lekoh artinya Kental (kopi)
Leleson artinya Istirahat
Lemah Cai artinya Tanah Air
Lembur artinya Desa / Kampung
Lemes artinya Halus
Lempeng artinya Lurus
Lepat artinya Salah
Leres artinya Benar / Betul
Leuit artinya Lumbung
Leuleus artinya Lemas
Leumeung artinya Lemang
Leumpang artinya Jalan
Leungeun artinya Tangan
Leungit artinya Hilang / Lenyap
Leupeut artinya Lontong
Leutak artinya Lumpur
Leutik artinya Kecil
Leuweung artinya Hutan
Leuweung Geledegan artinya Hutan Rimba
Leuwi artinya Kolam Pemandian
Leuwi artinya Lubuk
Leuwih artinya Lebih
Liang artinya Lobang
Liat artinya Alot
Lieuk artinya Toleh
Lieur artinya Pusing
Lila artinya Lama
Lilir artinya Bangun Tidur
Lima artinya Lima
Limpeuran artinya Lupa / Pelupa
Lindeuk artinya Jinak
Linggih artinya Tinggal / Berdiam di / Duduk
Lini artinya Gempa
Lintuh artinya Gemuk
Lisa artinya Telur Kutu Rambut
Lisung artinya Alu
Loba artinya Banyak
Loncéng artinya Bel
Lodaya artinya Harimau
Loket artinya Dompet
Lolong artinya Buta
Lomari artinya Lemari
Londok artinya Bunglon
Longok artinya Kunjung
Losin artinya Lusin
Ludes artinya Habis tidak tersisa
Ludeung artinya Berani
Luhung artinya Tinggi (derajat)
Luhur artinya Tinggi / Atas
Luhureun artinya Diatas
Lukut artinya Lumut
Lumangsung artinya Terjadi
Lumpat artinya Lari
Luncat artinya Loncat
Lungguh artinya Pendiam
Lungsur artinya Turun

M
Madu artinya Madu
Maéhan artinya Membunuh
Maenya artinya Masa
Mahiwal artinya Janggal / Tidak Mungkin
Majeng artinya Maju
Maksad artinya Maksud / Hasrat
Makuta artinya Mahkota
Maléngpéng artinya Lempar Batu
Males artinya Malas
Maling artinya Pencuri
Mamang artinya Paman
Mana artinya Mana
Manah artinya Hati
Manawi artinya Barangkali / Jika
Mandi artinya Mandi
Manéh artinya Kamu / Engkau
Manéhna artinya Dia / Ia
Mangga artinya Silakan
Manggu artinya Manggis
Manggul artinya Pikul
Mangkukna artinya Kemarin Lusa
Mangrupa artinya Berupa
Mangsa artinya Saat
Mangsi artinya Tinta
Mantep artinya Mantap
Manuk artinya Burung
Maot artinya Meninggal dunia
Margi artinya Karena
Masang artinya Pasang
Masih artinya Masih
Mastaka artinya Kepala
Matak artinya Membuat / Akan
Matang artinya Seimbang
Maténi artinya Membunuh
Maung artinya Harimau
Mayit artinya Mayat
Méncrang artinya Berkilau
Méngkol artinya Belok
Méngpar artinya Lempar
Ménta artinya Minta
Méong artinya Harimau
Mésér artinya Membeli
Medit artinya Kikir
Melak artinya TanamMeri artinya Itik
Meri artinya Bebek
Metot artinya Tarik
Meumpeun artinya Menutup Mata
Meunang artinya Menang
Miceun artinya Buang
Miéling artinya Mengenang
Milu artinya Ikut
Mimiti artinya Mulai
Minantu artinya Menantu
Mindeng artinya Sering / Kerap
Mios artinya Berangkat / Pergi
Mitoha artinya Mertua
Modol artinya Beol
Mojang artinya Gadis / Perempuan
Molélél artinya Asin Sekali
Moncorong artinya Terik (matahari)
Mondok artinya Inap / Tidur
Mongkléng artinya Gulita
Monyét artinya Kera
Moro artinya Buru
Motékar artinya Kreatip
Muhun artinya Iya
Muka artinya Buka
Mulih artinya Pulang
Mumuncangan artinya Mata Kaki
Muncrat artinya Mancur
Munding artinya Kerbau
Mung artinya Cuma / Hanya
Munggaran artinya Pertama
Murag artinya Jatuh
Murangkalih artinya Anak Kecil
Muriang artinya Demam
Muringkak artinya Merinding
Mutu artinya Ulekan
Mutuskeun artinya Memutuskan

N
Naék artinya Naik
Namba artinya Menimba
Nam artinya Nama
Namung artinya Tetapi
Nangkarak artinya Terlentang
Nangkring artinya Mejeng / Nongkrong
Nangkuban artinya Telungkup
Nangtung artinya Berdiri
Naon artinya Apa
Narpati artinya Raja
Nawis artinya Menawar
Néné artinya Nenek
Nérékél artinya Panjat
Neda artinya Makan
Nembé artinya Barusan / Baru saja
Ngabolékérkeun artinya Membuka Rahasia
Ngadeg artinya Berdiri
Ngadégdég artinya Menggigil
Ngadegkeun artinya Mendirikan
Ngagaléong artinya Oleng
Ngagéol artinya Bergoyang
Ngagitek artinya Menari
Ngahodhod artinya Menggigil
Ngalamun artinya Melamun
Ngalangkung artinya Lewat
Ngapung artinya Terbang
Ngaran artinya Nama
Ngarasa artinya Merasa
Ngareuah-reuah artinya Menyemarakan
Ngarogahala artinya Membunuh
Ngawitan artinya Mulai
Ngenaan artinya Mengenai
Ngendong artinya Menginap
Ngeunah artinya Ngeunah
Ngijih artinya Musim hujan
Ngimpleng artinya Mengingat
Nginum artinya Minum
Ngomong artinya Bicara
Ngora artinya Muda
Ngorondang artinya Merangkap
Nincak artinya Injak
Nikah artinya Kawin
Ningal artinya Lihat / Melihat
Nini artinya Nenek
Notog artinya Meluncur
Notog artinya Todong
Nuju artinya Sedang
Numpak artinya Menaiki
Nyaah artinya Sayang
Nyaéta artinya Yaitu / Ialah
Nyaho artinya Tahu
Nyakclak artinya Titik Air
Nyalukan artinya Panggil / Memanggil
Nyambat artinya Memanggil
Nyangkrung artinya Menggenang
Nyangsang artinya Tersangkut
Nyaram artinya Melarang
Nyarék artinya Melarang
Nyarios artinya Bicara
Nyéré artinya Lidi
Nyeri artinya Sakit
Nyeuneu artinya Berapiartinyaapi
Nyeureud artinya Menyengat (lebah)
Nyeuseuh artinya Mencuci Baju
Nyiksenan artinya Menyaksikan
Nyiruan artinya Lebah
Nyiwit artinya Cubit
Nyongcolang artinya Terbaik
Nyumput artinya Sembunyi
Nyuruput artinya Meminum / Seruput

O
Ogé artinya Juga
Ogo artinya Manja
Olo-olo artinya Kolokan
Olok artinya Kebanyakan
Ombak artinya Gelombang
Ondang artinya Undang
Ondangan artinya Undangan
Ongkoh artinya Katanya
Ongkos artinya Tarip
Opat artinya Empat
Oray artinya Ular
Orok artinya Bayi

P
Pacabakan artinya Pegangan / Pekerjaan
Pacilingan artinya WC di atas kolam
Pacul artinya Cangkul
Padaharan artinya Perut
Paéh artinya Meninggal / Mati
Pagéto artinya Besok Lusa
Pahatu artinya Piatu
Pahatu Lalis artinya Yatim piatu
Pait artinya Pahit
Pajaratan artinya Kuburan
Pakarangan artinya Halaman rumah
Paké artinya Pakai
Palangkakan artinya Selangkangan
Palastik artinya Plastik
Palay artinya Mau
Palid artinya Hanyut
Paling artinya Curi
Palu artinya Palu / Martil
Pamajikan artinya Isteri
Pamaréntah artinya Pemerintah
Pameget artinya Laki-laki
Pameunteu artinya Wajah
Panangan artinya Tangan
Panata Harta artinya Bendahara
Panceg artinya Teguh
Pancén artinya Tugas
Paneunggeul artinya Pemukul
Pangambung artinya Hidung
Pangantén artinya Pengantin
Pangaos artinya Harga
Panitik artinya Penitih
Panon artinya Mata
Panonpoé artinya Matahari
Panto artinya Pintu
Pantrang artinya Tak pernah
Panyawat artinya Penyakit
Paok artinya Curi
Papada artinya Sesama
Papah artinya Jalan
Papatong artinya Capung
Papay artinya Telusuri
Papendak artinya Bertemu
Parabot artinya Peralatan
Paranti artinya Untuk (kegunaan)
Parantos artinya Sudah
Paras artinya Cukur
Parawan artinya Gadis / Perawan
Pareum artinya Padam
Paria artinya Pare
Parin artinya Serah / Memberikan
Parung artinya Jeram
Pasagi artinya Persegi
Pasanggiri artinya Lomba
Paséa artinya Bertengkar
Pasini artinya Janji
Pasir artinya Bukit
Pasisian artinya Kota Pinggiran
Patali artinya Berkaitan
Patlot artinya Pensil
Patuangan artinya Perut
Patut artinya Tampang
Pawon artinya Dapur
Payun artinya Depan
Péngkol / Mengkol artinya Belok / Membelok
Péengkolan artinya Belokan
Pék artinya Silakan
Pélor artinya Peluru
Péot artinya KurusPecut artinya Cambuk
Péngpar artinya Larikan ke sebelah
Pésak artinya Saku
Pésék artinya Kupas
Pésér artinya Beli
Péso artinya Pisau
Pestol artinya Pisto
Pedes artinya Lada
Pegék artinya Pesek
Pelak artinya Tanam / Menanam
Pelem artinya Gurih
Pelesir artinya Piknik
Pelong artinya Tatap
Pendak artinya Bertemu
Pengker artinya Belakang
Percanten artinya Percaya
Perhatosan artinya Perhatian
Perkara artinya Hal / Perihal
Perkawis artinya Hal / Perihal
Persaben artinya Tukang Minta-minta
Peryogi artinya Perlu
Peuncit artinya Gorok
Peunteun artinya Nilai
Peura artinya Serak / Parau
Peureum artinya Pejam
Peureut artinya Peras
Peurah artinya Bisa Ular
Peurih artinya Pedih
Peuting artinya Malam
Peuyeum artinya Tape
Pi artinya Bakal
Pias artinya Pudar
Piceun artinya Buang
Pidang artinya Menampilkan
Piding artinya Sekat
Piit artinya Pipit
Pikeun artinya Untuk / Teruntuk
Pilari artinya Cari
Pilih artinya Memilih
Pinarep artinya Payudara
Pingping artinya Paha
Pingpong artinya Tenis Meja
Pinton artinya Tayang
Pinter artinya Pintar
Pipir artinya Samping Rumah
Pirak artinya Cerai
Piraku artinya Masa
Pireu artinya Bisu
Pisan artinya Sekali / Amat / Sangat
Poé artinya Hari
Poé artinya Jemur
Poék artinya Gelap
Poho artinya Lupa
Pondok artinya Pendek
Pribados artinya Pribadi / Saya Sendiri
Pribumi artinya Tuan rumah
Pulisi artinya Polisi
Pulpen artinya Ballpoin
Pun Buang artinya Ibu
Punten artinya Maaf / Permisi
Pupuhu artinya Pemimpin/Ketua
Pupus artinya Meninggal dunia/mati
Pupus artinya Meninggal dunia
Pupus artinya Hapus
Purun artinya Jadi artinya Jadi
Purunyus artinya Genit
Puseur artinya Tengah
Putra artinya Anak

R
Rada artinya Agak
Ragaji artinya Gergaji
Ragrag artinya Jatuh
Raheut artinya Luka
Rahul artinya Bohong
Rahul artinya Bohong
Rajin artinya Giat
Raka artinya Kakak
Raket artinya Intim
Raksukan artinya Baju / Pakaian
Rama artinya Bapak
Rambut artinya Rambut
Rame artinya Ramai
Ramo artinya Jari
Rampak artinya Gabung / Bersama-sama
Rampung artinya Beres
Rampus artinya Rakus
Ranca artinya Rawa
Rancucut artinya Basah Kuyup
Randa artinya Janda
Randa Bengsrat artinya Janda Kembang
Ranggeum artinya Cengkram
Rangu artinya Renyah
Raos artinya Enak
Raraosan artinya Perasaan
Raray artinya Wajah / Muka
Rawayan artinya Jembatan
Réang artinya Riuh
Récéh artinya Uang Kecil
Réhé artinya Rese
Réncang artinya Teman
Réngsé artinya Selesai
Répéh artinya Hening
Regot artinya Seruput
Rengkog artinya Berhenti Tiba-tiba
Rengkuh artinya Hormat
Reueuk artinya Awan
Reueus artinya Bangga
Reuma artinya Jari
Reuneuh artinya Hamil
Reungit artinya Nyamuk
Reuwas artinya Terkejut
Rewog artinya Lahap
Reyod artinya Reot
Rikrik artinya Hemat
Ringkes artinya Ringkas
Ringkid artinya Bawa
Ririwa artinya Hantu
Rohangan artinya Ruangan
Rompo artinya Jompo / Renta
Rorompok artinya Rumah
Ruhay artinya Bara Api
Ruksak artinya Rusak
Rumaos artinya Merasa
Rumbah artinya Kumis
Rungsing artinya Ruwet
Runtah artinya Sampah
Rupa artinya Macam / jenis
Rupa-rupa artinya Aneka
Rupi artinya Macam/jenis
Rusiah artinya Rahasia
Rusuh artinya Terburu-buru

S
Sabalikna artinya Sebaliknya
Sabaraha artinya Berapa
Sabet artinya Sambit
Sadaya artinya Semua
Sadérék artinya Saudara
Sae artinya Bagus
Saeutik artinya Sedikit
Saha artinya Siapa
Sajabina artinya Kecil
Sakalor artinya Ayan
Saladah artinya Seladah
Salaki artinya Suami
Salapan artinya Sembilan
Salatu artinya Uban
Salawé artinya Dua Puluh Lima
Salempang artinya Kuatir
Salira (awak) artinya Badan
Samak artinya Tikar
Sambel artinya Sambal
Sami artinya Sama
Sampak artinya Sudah Ada
Sampéan artinya Kaki
Sampeur artinya Ajak
Sampurasun artinya Permisi
Sanés artinya Bukan
Sanggem artinya Sanggup
Sangka artinya Duga
Sangki artinya Duga
Sapagodos artinya Setuju
Sapalih artinya Sebagian
Sapatu artinya Sepatu
Sapertos artinya Seperti
Saprak artinya Semenjak
Sapuluh artinya Sepuluh
Sarakah artinya Tamak / Serakah
Saré artinya Tidur
Sarébu artinya Seribu
Sareng artinya Dan / Dengan
Sarimbit artinya Sekeluarga
Sarua artinya Sama
Sarupaning artinya Semacam
Sasab artinya Tersesat
Sasak artinya Jembatan
Sasapu artinya Menyapu
Sasih artinya Bulan
Satia artinya Setia
Sato artinya Binatang
Saung artinya Gubuk
Saur artinya Kata
Sawang artinya Bayang
Sawaréh artinya Sebagian
Sayang artinya Sarang
Sayogi artinya Sedia
Séép artinya Habis
Séjén artinya Lainnya
Sérén artinya Serah
Sérab artinya Silau
Sésa artinya Sisa
Sémah artinya Tamu
Sebat artinya Sebut
Segut artinya Semangat
Selap artinya Sisip
Sendal artinya Sendal
Sentak artinya Gertak / Hardik
Sepén artinya Kamar tidur
Sepuh artinya Tua
Serat artinya Surat
Sering artinya Kerap
Sesah artinya Susah
Seubeuh artinya Kenyang
Seueur artinya Banyak
Seukeut artinya Tajam
Seuneu artinya Api
Seungit artinya Wangi / Harum
Seupah artinya Sepah / Ampas
Seupan artinya Kukus
Seureud artinya Sengat
Seureuh artinya Sirih
seuri artinya Senyum / Tertawa
Seuseup artinya Hisap
Sia (kasar) artinya Kamu
Siang artinya Siang
Sieun artinya Takut
Siga artinya Seperti
Sihung artinya Taring
Siki artinya Biji
Siluman artinya Hantu
Simeut artinya Belalang
Simpang artinya Mampir
Simpé artinya Sunyi
Simpen artinya Simpan
Sinareng artinya Dengan
Sindang artinya Mampir
Sirah artinya Kepala
Siram artinya Mandi
Sireum artinya Semut
Sirik artinya Iri
Situ artinya Telaga / Danau
Soak artinya Kaget
Soang artinya Angsa
Sobat artinya Sahabat
Soca artinya Mata
Sologoto artinya Ceroboh
Solokan artinya Parit
Soméah artinya Ramah-tamah
Sono artinya Rindu
Sonten artinya Sore
Sora artinya Suara
Sowéh artinya Sobek
Sowék artinya Sobek
Suan artinya Keponakan
Sugan artinya Jika
Suku artinya Kaki
Sumanget artinya Semangat
Sumping artinya Datang / Tiba
Sumuhun artinya Iya betul
Sungut artinya Mulut
Supa artinya Jamur
Supata artinya Sumpah
Surak artinya Sorak
Sureum artinya Kabur
Susu artinya Payudara
Susukan artinya Sungai

T
Taar artinya Dahi / Jidat
Tabuh artinya Jam
Tajug artinya Surau
Taktak artinya Pundak
Talaga artinya Telaga / Danau
Taliti artinya Cermat
Tambelar artinya Durhaka
Tambih artinya Tambah
Tamper artinya Endap
Tampik artinya Tolak
Tampiling artinya Tampar
Tamu artinya Tamu
Taneuh artinya Tanah
Tanggara artinya Kabar
Tanggay artinya Kuku
Tangkal artinya Pohon
Tangkeup artinya Rangkul
Tangkub artinya Tengkurap
Tanpadaksa artinya Cacat
Tapak artinya Jejak
Tarajé artinya Tangga Bambu
Taraju artinya Bahu
Tarang artinya Jidat / Dahi
Tarékah artinya Usaha
Tarik artinya Keras (suara)
Tarik artinya Cepat (lari)
Taros artinya Tanya
Tarumpah artinya Sandal
Tatamu artinya Tamu
Tatangga / Tatanggi artinya Tetangga
Tatih artinya Berdiri
Tatu artinya Luka
Taun artinya Tahun
Taun artinya Tahun
Tawis artinya Tanda (tangan)
Téang artinya Cari
Téhel artinya Tegel
Téké artinya Jitak
Tebih artinya Jauh
Tegal artinya Lapang
Tegalan artinya Tanah Lapang
Ténjo artinya Lihat
Téré artinya Tiri
Tétéh artinya Kakak perempuan
Tembang artinya Lagu
Tembong artinya Kelihatan
Tempo artinya Lihat
Tengek artinya Leher
Tengen artinya Kanan
Tengtrem artinya Damai
Tepang artinya Jumpa
Tepas artinya Teras
Tepung artinya Jumpa
Terang artinya Tau
Teras artinya Kemudian
Teu artinya Tidak
Teuas artinya Keras
Teuing artinya Tidak Tau
Teuleum artinya Selam
Teuneung artinya Berani
Teunggeul artinya Pukul
Ti artinya Dari
Tiasa artinya Bisa
Tihang artinya Tiang
Tiis artinya Dingin
Tijalikeuh artinya Terpeleset
Tikoro artinya Tenggorokan
Tilar Dunya artinya Meninggal dunia
Tilas artinya Bekas
Tilik artinya Teliti
Tilu artinya Tiga
Timanten artinya Dari Mana
Timburu artinya Cemburu
Tincak artinya Injak
Tinggal artinya Lihat
Tipung artinya Tepung
Tiris artinya Dingin (suhu udara)
Tisaprak artinya Sejak / Semenjak
Tisolédat artinya Terpeleset
Titadi artinya Dari Tadi
Tiwu artinya Tebu
Tojos artinya Tusuk
Tonggoh artinya Tempat di atas
Tonggong artinya Punggung
Torék artinya Tuli
Torowongan artinya Terowongan
Tuang artinya Makan
Tuar artinya Tebang
Tubruk artinya Tabrak
Tujuh artinya Tujuh
Tukang artinya Belakang
Tulale artinya Belalai
Tulung artinya Tolong
Tumbak artinya Tombak
Tumbila artinya Kutu Busuk
Tunduh artinya Kantuk….Mengantuk
Tundung artinya Usir
Tunggara artinya Sedih / Merana
Tungtung artinya Ujung
Tutung artinya Hangus
Tuur artinya Lutut / Dengkul

U
Ucing artinya Kucing
Udag artinya Kejar
Udur artinya Sakit
Ulah artinya Jangan
Ulem artinya Undang
Ulin artinya Main
Umur artinya Usia
Unggal artinya Tiap
Unggeuk artinya Manggut
Ungkluk artinya WTS
Uninga artinya Tau
Upami artinya Jika
Urang artinya Saya
Urut artinya Bekas
Usik artinya Gerak
Utami artinya Utama
Uyah artinya Garam

W
Wadul artinya Bohong
Wahangan artinya Sungai / Kali
Waja artinya Baja
Waktos artinya Waktu
Walagri artinya Sehat
Waler artinya Jawab
Walirang artinya Belerang
Walungan artinya Sungai
Waluya artinya Sehat
Wanara artinya Mo-nyet
Wanci artinya Waktu
Wangsul artinya Pulang
Wangun artinya Bangun
Wani artinya Berani
Wanoh artinya Kenal
Wanoja artinya Gadis / Remaja
Wantun artinya Sanggup
Waos artinya Gigi
Waragad artinya Biaya
Wareg artinya Kenyang
Warsi artinya Tahun
Wartos artinya Warta
Waruga artinya Badan
Wasta artinya Nama
Wasuh artinya Cuci
Watek artinya Watak
Wates artinya Batas
Wawacan artinya Legenda
Wawar artinya Memberi Kabar
Wawasan artinya Hikayat
Wawuh artinya Kenal
Wayah artinya Waktu
Wedak artinya Bedak
Weduk artinya Kebal
Wegah artinya Enggan
Welas artinya Sayang
Wengi artinya Malam
Wetan artinya Timur
Wetis artinya Betis
Weuteuh artinya Baru
Widang artinya Bidang
Widi artinya Ijin
Wijaksana artinya Bijaksana
Wilangan artinya Bilangan
Wilujeng artinya Selamat
Wilujeng Enjing artinya Selamat Pagi
Wilujeng Siang artinya Selamat Siang
Wilujeng Sonten artinya Selamat Sore
Wilujeng Wengi artinya Selamat Malam
Winojakrama artinya Lomba
Wios artinya Biar
Wungkul artinya Hanya / saja
Wuruk artinya Mengajar
Wuwung artinya Atap

Y
Yén artinya Bahwa
Yuswa artinya Usia

Demikian kamus besar bahasa sunda - Indonesia paling lengkap yang terangkum dari berbagai referensi termasuk ucapan kata nenek moyang urang sunda zaman dahulu. Melalui terjemah Indonesia Sunda diharapkan kita dapat terus melestarikan budaya dengan mengerti filsafat arti di dalamnya.
Anda juga dapat membaca tulisan lain yang menarik terkait pepatah sunda dan selain itu tulisan tentang kamus istilah bahasa Malaysia online pada web blog pribadi aswan ini.
ReadmoreKamus Besar Bahasa Sunda Terlengkap dan Terbaru

Ketika Pemimpin Menyadari Amanah Kekuasaannya

Manusia memiliki segudang keterbatasan pada dirinya, termasuk dia seorang pemimpin negara. Walaupun diangkat penasihat kepercayaan, namun kekhilafan serta kealfaan mungkin tidak dapat dihindari. Pemimpin yang menyadari bahwa kekuasaannya itu merupakan "amanah" tentunya yang dicari rakyat mana saja di penjuru dunia ini.

Pemimpin wilayah baik itu skala level bawah dari mulai RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur hingga Presiden yang amanah akan bersikap hati-hati dalam menentukan kebijakan serta keputusan perintah kepada bawahannya.Tindakan semena-mena kepada rakyat atau berpihak kepada kelompok tertentu adalah bentuk penghianatan dalam pandangan siapapun.

Pemangku jabatan semestinya menyadari bahwa walau didukung oleh sebagian besar penduduk wilayah tertentu, dia juga berhak menjadi penengah dalam suatu permasalahan yang melibatkan kelompok yang tidak memberi dukungan atas kepemimpinannya itu. Langkah tersebut akan berdampak baik atas karir serta citra kepemimpinannya kelak.

Hal lain yang perlu disorot ketika pemimpin menyadari bahwa kekuasaan merupakan amanah, mereka akan sanggup mempertanggung jawabkannya di hadapan siapa saja; rakyat, majlis pengadilan, masyarakat banyak dan bahkan dihadapan Allah SWT. Pimpinan seperti itu tidak akan mentolelir intrik politik ataupun sekenario kepentingan partai tertentu. Dia akan lurus bekerja demi amanah dan menjalankan apa yang seharusnya dilakukan menurut hati nuraninya.

Bila ada pemimpin yang cuplas ceplos tidak bisa menjaga lisannya saat berbicara bisa jadi dalam hal prilaku kebijakan serta kepemimpinannya pun mungkin ceroboh. Baiknya, pidato atau cermah seorang kepala pemerintahan terkonsep dengan baik agar yang menerima perintah tersebut dapat menafsirkan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Trend gerakan pemimpin blusukan yang sekarang sedang marak tidak menjamin mereka dapat bekerja amanah. Namun standar ukuran pemimpin yang baik itu setidaknya bisa dilihat pada sikapnya dalam menjaga lisan, perbuatan dan putusan kebijakannya yang adil dan bijaksana. Keteladanan seorang pimpinan ideal (pemimpin amanah) yang berdampak kepada masyarakat atau rakyatnya tentu akan berakibat pada kemajuan wilayah yang dipimpinnya itu.
Alloh SWT berfirman dalam QS Al A'raaf : 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَْرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَـٰهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ 
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."

Demikian artikel bahan renungan untuk kita semuanya berjudul : ketika pemimpin menyadari amanah kekuasaannya. Semoga bermanfaat.
Baca juga opini penulis dengan judul : Menuntut pemimpin tegas kasus penista Agama.
ReadmoreKetika Pemimpin Menyadari Amanah Kekuasaannya