Asep Iwan Blog

Berbagi ilmu dan pengalaman tentang Pendidikan, Masalah Agama, Renungan dan Pepatah Sunda

Hari Raya Idul Adha Dan Penjelasan Syariat Ibadah Qurban

Iedul Adha seringkali disebut dengan hari raya nan Agung atau dalam pengertian istilah Sunda dikenal dengan Rayagung Idul Adha. Setiap tahun umat Islam di dunia melaksanakan perayaan Idul Adha pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Saat itu baik yang sedang ibadah haji maupun di seluruh pelosok negeri bergembira ria, berpesta pora dengan cara syariat yang diajarkan Islam dengan cara memotong hewan Qurban berupa sapi, unta, kambing maupun domba.

Kegembiraan tersebut menjadi lengkap bagi semua umat Islam baik bagi orang yang memotong hewan qurban dan juga semua muslimin yang menikmati daging Qurban. Kedua-duanya mendapat nilai pahala sekalipun hanya sekedar menyantap hidangan setelah bersama-sama menyaksikan penyembelihan dan membagi-bagikannya kepada warga sekitar.

Pengertian secara bahasa kata Qurban diambil dari bahasa Arab yakni (قربان) Kurban yang maksudnya "dekat". Kata lain yang senada dengan "Qurban" dalam B. Arab adalah "Udhiyah" dan "Adh-Dhahiyah" artinya binatang / hewan sembelihan. Makna luas dari idul Qurban secara istilah dalam pandangan terminologi bahwa pada hari tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Seseorang yang beriman dan mampu melaksanakan Qurban secara ikhlas akan dapat merasakan bagaimana nikmatnya berdekatan dengan Alloh SWT sebagai Dzat Yang Maha Pencipta.

Penyembelihan binatang Qurban dilaksanakan mulai tanggal 10 di hari raya idul Adha sampai 3 hari Tasyrik yakni 3 hari setelahnya. Bagi umat Islam dalam hukum fiqih diharamkan berpuasa pada hari raya idul Adha dan di hari tasyriq, sebab pada waktu itu waktunya bersenang senang dengan menikmati daging hewan Qurban.

Aturan terkait penjelasan perintah dalil ibadah Qurban telah termaktub dalam Al-Qur'an. Pada QS. Al-Kautsar ayat 1-3 yang merupakan surat terpendek disebutkan :
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (Al-Kautsar: 1-3).
Selain itu pula dalam Ayat lain yakni QS. Al-Hajj ayat 36 Alloh menyebutkan bahwa ibadah Qurban merupakan Syi'ar Islam :
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagai syiar Allah. Kamu banyak memperoleh kebaikan dari padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya.” (Al-Hajj: 36).
Sementara dalam Hadits Rasululloh menyatakan bahwa ada Keutamaan Ibadah Kurban bagi setiap manusia yang melaksanakannya. Dalam hadits Sohih riwayat Imam At-Tirmidzi dari Aisyah RA disebutkan bahwa Nabi pernah bersabda :
“Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Kurban. Sesungguhnya hewan Kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah Kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Kurban itu.” (HR Tirmidzi).
Hukum Berkurban bagi yang mampu memotong hewan Qurban dan cukup mampu tergolong Sunnah Muakkad, artinya hukumnya sunat yang cenderung harus. Bila seorang mampu membeli hewan qurban dan tidak mau melaksanakannya maka dia akan tergolong orang makruh, dalam pengertian tidak disukai oleh Alloh SWT.

Aturan tambahan bagi kaum muslimin yang akan dan telah berniat melaksanakan Qurban untuk tidak memotong rambut dan kukunya. Hal itu ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Ummu Salamah :
“Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” HR Muslim
Pada waktu itu dalam sejarah siroh Nabi diceritakan bahwa Rasululloh SAW Nabi Muhammad SAW melakukan Qurban dengan 2 ekor kambing Kibasy yang berwarna putih kehitam-hitaman serta telah tumbuh tanduk di kepalanya. Saat itu beliau sendiri yang menyembelih kedua hewan tersebut.

Hukum memotong Hewan Qurban itu Sunnah Muakkadah, namun tidak tergolong ibadah Wajib. Dalil dari pernyataan itu adalah berasal dari prilaku perbuatan 2 sahabat Nabi, Abu Bakar dan Umar RA:
"Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan Qurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika perihal kurban itu dianggap wajib."
Sejarah disyariatkan Ibadah Qurban menjadi Hikmah tersendiri bagi kita semua kaum muslimin. Bagaimana tidak, Kurban yang telah ada sejak Nabi Ibrahim AS sebagai refleksi dari pengorbanan yang dilakukannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Sehingga tak heran bila pada hari raya Ied umat Nabi Muhammad merupakan suatu upaya napak tilas flashback ke masa lalu. Nabi bersabda :
“Hari-hari itu tidak lain adalah hari-hari untuk makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.”
Demikian penjelasan Syariat Ibadah Qurban serta pembahasan mengenai pengertian makna hari raya Iedul Adha dari segi bahasa dan istilah hukum Islam. Semoga artikel ini bermanfaat.

Hikmah Ibadah Haji dan Umrah

Hikmah Ibadah Haji dan Umrah - Ritual ibadah haji dalam Agama Islam ini termasuk ke dalam salah satu dari 5 rukun Islam. Setiap perintah Alloh SWT kepada hamba-Nya sudah pasti memiliki nilai hikmah, manfaat dan faedah yang sangat berarti. Bagi siapa saja yang telah beruntung mendapat panggilan Alloh melaksanakan Ibadah Haji dan Umroh pastinya telah merasakan hikmah serta faedah dari sisi spiritualitas maupun dalam hal taqorub menghadap yang Maha Kuasa di Baetulloh.

Sebelum membahas apa saja hikmah, manfaat dan faedah Haji dan Umroh, perlu terlebih dahulu disampaikan mengenai pengertian, syarat mampu haji, dan juga apa perbedaan dari ritual pelaksanaan antara ibadah haji dan umroh.

Mengawali bahasan pada tulisan di bawah ini mari membahas terlebih dahulu perbedaan seputar haji dan umrah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Melalui firman-Nya Alloh SWT mewajibkan hiji spesial untuk mereka yang mampu :
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا 
“Menjadi kewajiban bagi manusia terhadap Allah mengerjakan haji di Baitullah, yakni bagi orang yang mampu mengunjunginya”. (Q.S. Ali Imran: 97)
Ibadah haji maksudnya ialah sengaja mengunjungi baitullah di Makkah untuk mengerjakan beberapa upacara dengan syarat-syarat tertentu. Ibadah yang menjadi rukun Islam kelima ini diwajibkan sekali seumur hidup bagi setiap orang Islam dewasa yang mampu atau kuasa melaksanakannya.

Pengertian dari “kuasa atau mampu melaksanakan haji” di sini ialah bila memenuhi kriteria syarat mampu haji berikut ini:
  • Cukup bekal untuk pulang pergi
  • Ada kendaraan untuk menyampaikannya ke Makkah.
  • Aman jalan yang dilaluinya
  • Sehat jasmani dan rohani
  • Jika ia seorang wanita hendaklah disertai oleh suami atau muhrimnya.
Menunaikan ibadah Haji wajib disempurnakan pula dengan ibadah “Umrah” atau disebut juga “Haji Kecil”. Firman Allah SWT:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ
“Hendaklah kamu sempurnakan haji dan umrah karena Allah!”. (Q.S. Al-Baqarah: 196)
Umrah itu hampir sama dengan haji, hanya perbedaan haji dan umrah sebagai berikut:
  • Haji dapat diselesaikan pada bulan-bulan tertentu, yaitu dari bulan Syawwal sampai Zulhijjah, maka umrah disamping pada bulan-bulan tersebut dapat juga dilakukan pada bulan-bulan yang lain.
  • Rukun-rukun dan perbuatan-perbuatan umrah sama dengan rukun-rukun dan perbuatan-perbuatan haji. Bedanya bahwa ibadah haji ada wukuf di arafah, sedang umrah tidak ada wukuf di arafah.
Hikmah dan Faedah Dari Ibadah Haji dan Umroh
Ibadah haji dan umrah itu sangat besar hikmah dan faedahnya, baik bagi diri pribadi seorang Muslim, maupun bagi masyarakatnya. Diantara Hikmah Faedah Ibadah Haji dan Umrah sebagai berikut:
  • Merasakan langsung keagungan dan menanamkan keimanan dan memantapkan keyakinan tentang kebesaran agama Islam. Dengan melakukan upacara kaefiyat haji, begitupun setelah menyaksikan bukti-bukti sejarah mengenai kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, seperti ka’bah, sumur zamzam, makam Rasulullah SAW dan para sahabat, maka hilanglah was-was dan keraguan. 
  • Menumbuhkan rasa persamaan di antara sesama manusia dari berbagai macam suku bangsa dan warna kulit, yang dilambangkan dengan pakaian serba putih tidak berjahit (pakaian ihram). Tidak seorang pun lebih mulia dari lainnya, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah SWT. Firman Allah: 
ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah diantaramu, ialah yang paling taqwa kepada-Nya”. (Q.S. Al-Hujurat: 13).
  • Membangkitkan rasa persaudaraan dan persatuan di antara umat Islam di seluruh dunia, hingga tercapailah solidaritas dan tercipta ukhuwah Islamiyah, terhindar dari sengketa dan perselisihan. Firman Allah SWT:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudaramu yang bersengketa”. (Q.S. Al-Hujurat: 10)
  • Pertemuan di musim haji merupakan kesempatan yang amat baik bagi umat Islam di seluruh dunia buat bertukar pengetahuan dan pengalaman, tentang kemajuan-kemajuan yang diperoleh oleh suatu negara, baik dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan lain-lain, serta mengadakan kerja sama yang erat dalam masalah masalah tersebut. Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا 
“Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bergolongan-golongan, agar kamu saling mengenal”. (Q.S. AL-Hujurat: 13).
  • Ibadah haji sangat penting artinya untuk mendorong umat Islam supaya mempergiat dan meningkatkan ekonominya, karena hanya orang-orang yang kuat ekonominyalah yang dapat menunaikan ibadah haji serta kewajiban-kewajiban lainnya.
Demikian Hikmah Faedah Ibadah Haji dan Umrah. Semoga kita dapat melaksanakan / menunaikan sebagaimana mestinya sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Assunnah. Bagi yang tidak melaksanakan Haji berangkat ke tanah suci maka ada syariat lain yang semesinya dilakukan oleh seluruh kaum muslimin yang mampu yakni menyembelih hewan Qurban dengan ikhlas dan membagikannya.

Ketika Kemerdekaan Tiba

Setiap negara memiliki hari lahir yang ditandai dengan tanggal pengakuan tentang awal mulai berdirinya negara tersebut. Republik Indonesia sendiri diperingati setiap tanggal 17 Agustus dengan alasan sejarah mencatat ketika itu masa tiba kemerdekaan di Negeri ini. Persoalan yang muncul kemudian apakah benar setelah itu penduduk dan warga negri ini telah bebas secara menyeluruh merasakan arti Kemerdekaan Republik Indonesia. Tentu akan ada beberapa jawaban tergantung sudut pandang penanggapnya.

Islam merekam sejarah kasus yang hampir mirip ketika daulah terjadi pada zaman Nabi dan Para sahabat. Penaklukan kota makah (futhul Makkah) menjadi tonggak sejarah awal kemerdekaan dan kebebasan pengelolaan Negara yang dilakukan oleh kepemimpinan Nabi Muhamad SAW. Bila kita samakan Kemerdekaan RI dengan terjadinya penaklukan kota Mekah berdasarkan QS. An-Nashr 1-3 maka tidak serta merta terjadi begitu saja. Melainkan itu atas dasar pertolongan Alloh SWT, dimana setiap kita semestinya merenungkan dan mengambil hikmah dari apa yang terjadi itu. Dalam Surat An-Nashr itu selanjutnya manusia diperintahkan untuk senantiasa memuji dan meminta ampunan karena Alloh sesungguhnya Maha Penerima Taubat.

Melalui artikel singkat kemerdekaan ini semoga menjadi refleksi bahwa kemerdekaan nasionalisme dan patriotisme tidak semata-mata terjadi begitu saja, melainkan atas bantuan dan pertolongan Alloh SWT. Mari kita simak Al-Qur'an Surat An-Nashr ayat 1 - 3 :
:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangannya. Sementara itu kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Alloh dengan cara berbondong-bondong. Maka, bertasbihlah kamu dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Alloh adalah Yang Maha Penerima taubat (QS. An-Nashr : 1-3).
Tafsir Asbabunnujul Surat An-Nashr ini menurut kitab Al-Qurtubi dikatakan bahwa ketika turun ayat ini, Nabi ketika itu menangis. Kepada Aisyah Beliau berkata: "Aku tidak melihatnya melainkan sebagai tanda bahwa ajalku telah dekat." Maka dari itu para Ulama ada yang menyebut surat ini dengan nama sebutan lain at-Taudi', artinya perpisahan. Tepatnya surat yang menyatakan bahwa waktu perpisahan antara Nabi SAW dan para sahabat telah dekat. Terlebih seperti diterangkan oleh Ibnu Umar, surat An-Nashr ini turun di Mina ketika Nabi SAW sedang melakukan haji wada' (haji perpisahan). Sesudah turun surat tersebut, lalu turunlah surat Al-Maidah ayat 3, yang dikenal sebagai surat terakhir diturunkan : "Pada hari ini aku telah sempurnakan agamamu..". Jeda antara ayat tersebut dengan kewafatan Nabi SAW adalah 80 hari. (Lihat referesi Tafsir Al-Qurthubi).

Umar Ibn Al-Khatthab pernah mengajak Ibnu Abbas dan beberapa sahabat senior yang ikut perang badar untuk membicarakan ayat ini. Kepada para sahabat senior Umar minta pendapat, apa kandungan makna dari surat tersebut. Mereka pun menjawab: "Kita diperintah bertahmid kepada Alloh dan beristighfar jika kita ingin mendapatkan pertolongan dan mendapatkan kemenangan / kemerdekaan." Kemudian secara khusus Umar meminta pendapat Ibn Abbas. Ia lalu menjawab: "Itu adalah pemberitahuan ajar Rasulullah SAW yang diberitahukan Alloh kepada beliau." Maka Umar berkata: "Demi Allah aku tidak tahu melaikan apa yang kau katakan tadi". (Shahih Bukhori No.4970).

Apa yang terjadi pada zaman Rasulullah terkait perang kemerdekaan penaklukan kota Makkah semata-mata karena Nashrulloh; Pertolongan Alloh. Maka jika itu sudah ada dipelupuk mata, titah Allah SAW, bertasbihlah, bertahmidlah, dan beristighfarlah. Atau dengan kata lain berterima kasihlah kepada Allah SWT dengan cara beribadah dan memohon ampunan kepadanya. 

Para pejuang kemerdekaan RI di Indonesia dulu sadar betul bahwa kemerdekaan yang sedang mereka usahakan hanya akan tiba dengan Rahmat Allah SWT. Maka dari itu, dalam pembukaan UUD '45 pun ditegaskan seperti itu. Akan tetapi ironisnya, generasi sekarang tidak sadar bahwa semuanya itu berkat pertolongan dan rahmat Allah SWT. Buktinya, mereka malah menyambut Dirgahayu Kemerdekaan tersebut dengan pesta dan hura-hura. Sungguh celaka orang yang tidak tahu bagaimana cara berterima-kasih kepada anugerah Tuhannya. Wallohu 'alam.
Lihat artikel menarik sebelumnya tentang pesan guru saat perpisahan sekolah tema pidato pelepasan siswa.

Hikmah Shalat Tahajud atau Qiyamul Lail

Idealnya setiap Muslim punya kemauan kuat melaksanakan shalat Tahajud / Qiyamul lail setiap malam dan membiasakannya. Hal ini harus didorong karena hikmah shalat tahajud ini sangatlah besar baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

Rasulullah, para sahabat dan orang-orang sholeh yang terdahulu telah membiasakan kegiatan shalat tahajud / qiyamul lail menjadi suatu “kemestian” setiap malamnya. Dalam suatu Riwayat dikatakan bahwa:
Orang-orang saleh zaman dahulu tekun menjalankannya, baik pada musin panas maupun dingin. Mereka memandang seolah-olah shalat Tahajud itu adalah sesuatu yang wajib (HR Tirmidzi).
Mereka merasa jika terlewatkan sekali saja mereka menganggap itu sebagai musibah yang besar baginya. Hikmahnya, selain sebagai “mesin keimanan”, Tahajud / Qiyamu Lail memberikan banyak manfaat besar dalam dampak kehidupan mereka yang istiqamah menjalankannya, diantaranya:

Pertama, hikmah tahajud untuk Terapi Pengobatan.
Shalat Tahajud / Qiyamul Lail menjadi solusi terapi pengobatan terbaik dari berbagai macam penyakit ini tak terbantahkan. Oleh sebab itu, orang-orang yang membiasakan diri untuk shalat Tahajud akan memiliki daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit.

Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala macam penyakit dari tubuh.” (HR Tirmidzi).

Kedua, hikmah tahajud Memelihara Penampilan
Setap manusia pasti mendambakan penampilan ketampanan/kecantikan dalam dirinya. Nah, melalui terapi shalat Tahajud, seseorang dapat meraih apa yang didambakannya, tanpa mengeluarkan biaya sepersen pun. Jaminan ketampanan/kecantikan itu tidak terbatas pada tampilan lahir, juga dapat menghasilkan ketampanan/kecantikan batin.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang banyak menunaikan shalat malam, maka wajahnya akan terlihat tampan/cantik di siang harinya.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, hikmah tahajud Meningkatkan Hasil Kerja yang Produktif
Selain manfaat untuk kesehatan dan merawat ketampanan/kecantikan, shalat Tahajud juga diyakini dapat meningkatkan produktifitas kerja yang berbasis spiritualitas.

Oleh karena itu, salah satu program untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang handal secara intelektual, emosional, dan spiritual adalah membiasakan shalat Tahajud pada setiap malamnya.

Rasulullah SAW bersabda, ”Setan membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan dan setiap kali memasang ikatan dia berkata: ”Malam masih panjang, maka tidurlah”. Jika orang tersebut bangun lalu berdzikir kepada Allah SWT, maka terlepas satu ikatan, jika dia berwudhu, maka terlepas satu ikatan yang lainnya, dan jika dia melaksanakan shalat, maka terlepas semua ikatannya. Yang pada nantinya dia akan menjadi segar (produktif) dengan jiwa yang bersih, jika tidak, maka dia akan bangun dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas.” (HR Bukhari).

Keempat, hikmah tahajud Tercapainya Cita-cita dan Rasa Aman.
Selain dengan usaha (ikhtiar) secara maksimal guna menggapai cita-cita dan rasa aman, seseorang hendaknya membiasakan diri untuk shalat Tahajud, karena do’a yang mengiringi Tahajud akan dikabulkan oleh Yang Maha Mengabulkan.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu dan melakukan shalat.

Allah berfirman kepada para Malaikat-Nya, “Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?” Mereka menjawab, “Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan (cita-citakan) dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR Ahmad).

Mudah-mudahan dengan mengetahui hikmah yang terkandung dalam shalat tahajud atau qiyamul lail ini kita mendapatkan bimbingan Allah SWT sehingga dapat mendawamkan atau membiasakannya dan segera dapat merasakan manfaatnya. Amin.

Ayat Al-Quran QS. Fathir : 29-30 Bisnis Perdagangan Yang Tidak Akan Rugi

Metode tafsir tematik ayat tentang Bisnis Perdagangan yang tidak akan pernah rugi diungkapkan dalam QS. Fathir : 29-30. Pelajaran serta hikmah melalui penjelasan yang tersirat pada ayat tersebut bisa menjadi tips para wirausahawan sebagai motivasi meraih kesuksesan bisnis perdagangan sukses. Sekarang ini banyak orang bisnis dengan orientasi profit atau keuntungan saja, padahal bisnis menguntungkan itu sesungguhnya terletak pada ketenangan batin, ketenangan dan rasa nyaman.

Al-Quran Surat Fathir ayat 29-30 menyampaikan informasi berita gembira kepada orang Islam beriman yang melakukan aktifitas membaca Kitab Alloh, mendirikan sholat dan berinfak sesungguhnya sedang melakukan transaksi bisnis perdagangan yang tidak akan gagal.

Mari kita perhatikan secara seksama Qur’an Surat Fathir Ayat 29 dan 30 :
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (٢٩) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (٣٠ ) .
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca kitab Allah dan selalu mendirikan shalat serta terbiasa menyisihkan (infak) dari sedikit rizki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka, baik infak secara diam-diam ataupun terang-terangan, mereka itu sedang mengharapkan BISNIS PERDAGANGAN yang tidak akan rugi. Supaya Allah SWT menyempurnakan pahala kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir : 29-30)
Arti Lain dari beberapa sumber :
Quraish Shihab menulis arti QS. Fathir ayat 29 dan 30 : Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca kitab Allah, menkaji dan mengamalkannya, melaksanakan salat secara benar dan menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan secara diam-diam maupun terang-terangan, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan perniagaan kepada Allah yang tak pernah merugi.

Tafsir Jalalain menjelaskan QS. Fathir 29-30 : Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca, selalu mempelajari kitab Allah dan mendirikan salat yakni mereka melaksanakannya secara rutin dan memeliharanya (dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan) berupa zakat dan lain-lainnya (mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi) tidak bangkrut.

Penjelasan sebab turun ayat Asbabun nuzul QS. Fathir : 29-30 :
Kitab tafsir Ibnu Katsir menyebut bahwa ayat ini masuk dalam kategori sebagai ayatul qurro, artinya ayat nya para pecinta al-quran. Cinta kepada Al-Qur’an bukan sekedar sayang tapi dibaca, dipelajari, ditadaburi, difami, diamalkan, dan bahkan diajarkan.
Sahabat Ibnu Abas menceritakan hadits Rasul sebagaimana diriwayatkan ‘Abdul Ghani bin Sa’id ats-Tsaqafi bahwa ayat QS. Fathir: 29 turun berkenaan dengan Hushain bin al-Harits bin ‘Abdil Muththalib bin ‘Abdi Manaf al-Quraisy. 
Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab al-Ba’ts dan Ibnu Abi Hatim, dari Nafi’ bin al-Harits, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw.: “Yaa Rasulullah, sesungguhnya tidur merupakan kenikmatan dari Allah di dunia ini. Apakah nanti di surga kita bisa tidur?” Rasulullah menjawab: “Tidak ada. Karena tidur itu kawannya maut, sedang surga tidak ada maut”. Kemudian ” Ia bertanya lagi: “Bagaimana istirahat mereka (ahli surga) itu?” Pertanyaan ini menyinggung perasaan Rasulullah. Beliau bersabda: “Tidak ada capek di surga, semuanya serba senang dan enak.” Ayat ini (QS. Fathir: 35) turun sebagai penegasan atas ucapan Rasulullah tadi. Melalui ayat ini ditegaskan ciri-ciri orang yang dikabulkan amalnya oleh Allah swt, sebagai mana firman Allah :

اۨلَّذِيْۤ اَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهٖ ۚ لَا يَمَسُّنَا فِيْهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيْهَا لُـغُوْبٌ
Artinya : yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu. (QS. Fatir: Ayat 35)
Ibroh petikan Ayat Quran Surat Fathir 29-30 terkait Bisnis Perdagangan yang tidak akan rugi yang dapat dijadikan pelajaran dalam aplikasi kehidupan sehari-hari : 
  • Manusia hendaklah setiap hari melakukan transaksi dunia dan akhirat.
  • Bisnis perdagangan yang tidak akan rugi itu adalah membaca Al-Qur’an, mendirikan sholat dan infak. 
  • Bila mau bisnis lancar dan tidak rugi perniagaan bisnis dan transaksi harus dengan landasan : Al-Qur’an, Sholat dan Infak.
  • Bisnis dengan landasan 3 hal di atas menjadi perniagaan yang tidak rugi di akhirat dan menjadi kunci meraih keberhasilan dan kesuksesan di dunia. 
Semoga tulisan singkat tafsir Ayat Al-Qur'an QS. Fathir : 29-30 tentang Bisnis Perdagangan yang tidak akan rugi menjadi renungan hikmah dan menjadi amal kebaikan untuk penulis. Para pembaca mudah-mudahan senantiasa diberi kemudahan menjalankan berbagai aktifitas kegiatan dan mendapat keberuntungan yang hakiki dari Allah SWT. Amin

Menikmati Shalat Melalui Cara Khusu

Ritual ibadah yang wajib dilakukan oleh seorang muslim bernama Shalat Fardlu 5 kali dalam sehari. Selain itu ada pula sejumlah shalat sunat lain sebagai pelengkap dalam rangka penghambaan memenuhi panggilan Ilahi. Ibadah Shalat ini pada asalnya merupakan kewajiban semata, namun lebih dari itu sesungguhnya dibalik perintah Alloh SWT ini pasti ada rahasia penting yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Seorang muslim yang beriman kepada Alloh dapat merasakan bagaimana nikmatnya ibadah shalat yang dilakukan dengan cara khusu'. Lalu bagaimana cara menikmati Shalat tersebut? tulisan ringan ini barangkali dapat memberikan jawabannya.

Bagian manusia yang terdiri dari 3 unsur utama yakni Akal hati dan fikiran, Lisan dan Anggota badan membutuhkan latihan setiap hari agar berfungsi dengan baik. Melalui ibadah sholat yang menghadirkan ketiga komponen penting manusia tersebut dapat menembus ruang dan waktu mendekati Robul Izzati sehingga dapat merasakan begitu nikmatnya dekat dengan Alloh SWT. Saat lisan berucap takbir dalam sholat hati akal dan fikiran memposisikan diri betul-betul ada dalam penghambaan. Gerakan mengangkat tangan saat takbirotul ihrom menjadi ungkapan diri hendak meraih kedekatan dengan-Nya.

Latihan menikmati shalat khusuk tentunya harus dengan cara dipaksakan terus menerus setiap datangnya waktu Shalat. Bagaimana Tips cara khusu menikmati lezatnya Sholat dan apa saja amal yang harus dikerjakan sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan Sunnah petunjuk Nabi Muhammad SAW, ini uraian singkat menjawab pertanyaan tadi :

Fokus saat shalat
Pengertian khusu' dalam sholat secara sederhana bisa bermakan fokus atau konsentrasi. Bila merujuk pada definisi khusu pada QS. Al-Baqoroh ayat 45 dinyatakan :
الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلاَقُوْا  رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ            
Orang yang Khusu adalah orang-orang yang yakin sesungguhnya mereka akan berjumpa dengan Rabb  mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepada-Nya".(QS. Al-Baqarah 2:45).
Saat sholat menghadirkan unsur manusia hati, lisan dan organ fokus sedang menghamba kepada Allah SWT. Dengan begitu rasa nikmat dalam sholat dan lezatnya keimanan akan dapat diraih.

Memahami bacaan Sholat
Setiap kali orang melaksanakan ibadah sholat artinya dia sedang berkomunikasi langsung dengan Dzat Yang Maha Kuasa dimana tidak ada perantara apapun diantaranya. Bacaan shalat shalat yang merupakan ungkapan tasbih, tahmid, dan permintaan / doa akan dapat dimengerti ketika dapat memahami bacaan saat sholat. Oleh karenanya penting bagi siapapun yang ingin menikmati indahnya shalat memahami terlebih dahulu bacaan yang diucapkan lisan saat melakukan ibadah tersebut.

Tumaninah dalam gerakan Shalat
Seseorang yang ingin shalatnya dapat dinikmati perlu memperhatikan gerakan anggota badannya. Dari mulai takbir hingga salam kaefiyat dalam gerakan perlu disempurnakan untuk meraih nikmat dalam Shalat.
Rasululloh bersabda terkait tuma'ninah dalam gerakan sholat melalui hadits dari sahabat Abu Hurairoh :
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
Jika Kamu akan melakukan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah menurutmu. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tuma'ninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tumakninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu”  (HR Bukhari 757 dan Muslim 397).

Memperindah suara ketika shalat
Takbir gerakan dan bacaan surat ketika shalat hendaknya disuarakan dengan irama indah. Usaha ini dalam rangka meraih rasa kedekatan diri dan hati sedang bersama dan berhubungan dengan Alloh SWT.

Situasi Sholat dibuat nyaman dan rileks
Siapa saja akan merasakan khusu dalam shalat ketika kondisi diri nyaman dan rileks. Oleh sebab itu maka kebersihan dan suasana di tempat shalat tersebut harus dibuat enak dan tenang. Usaha membuat shalat dengan suasana nyaman dan rileks memungkan seseorang dapa khusu dan menikati shalatnya tersebut.

Shalat di awal waktu dan dilaksanan berjamaah di mesjid
Melakukan shalat bersama atau berjamaah di mesjid akan lebih cepat dalam meraih khusu dalam Shalat. Suasana di dalam ruangan mesjid memungkinkan siapa saja menikmati khusu' shalat apalagi dilakukan bersama-sama secara berjamaah.

Kesimpulan : Poin penting yang ingin disampaikan penulis terkait dengan Shalat.

  • Janganlah shalat hanya dijadikan sebagai kewajiban semata, namun lebih dari itu shalat harus menjadi sebuah kebutuhan mutlak bagi manusia.
  • Shalat harus dapat dinikmati
  • Raihlah pertolongan Alloh dengan shalat yang khusu'.
  • Dapatkan ampunan dan keridloan Alloh melalui cara shalat agar hidup terasa ringan dan hati menjadi tentram.
  • Perlu dilakukan belajar pembiasaan pelatihan khusu shalat.
Demikian diantara usaha yang dapat dilakukan oleh siapa saja dengan mudah meraih nikmatnya Shalat khusu'. Semoga artikel uraian tentang cara menikmati shalat dengan cara khusu dapat bermanfaat dan dilakukan dengan mudah.

Mari kita biasakan shalat khusu' hingga menjadi refleks yang menyatu dengan diri. Dengan shalat yang benar-benar khusu dijamin segala kebutuhan manusia baik itu fisik maupun psikis dapat terpenuhi. Salam silaturahmi dan terima-kasih telah berkunjung di situs pribadi www.aswanblog.com. Smoga bermanfaat.

Ramadhan, Momentum Peningkatan Ukhuwah

Bulan Ramadan disebut bulan penuh berkah, penuh ampunan Allah. Di bulan Ramadan, ada sejumlah kegiatan ibadah yang bisa meningkatkan ta'aruf dan syariat ibadah diantaranya ramadhan meningkatkan ukhuwah di antara sesama muslim. Di antara kegiatan ibadah bersama yang dapat meningkatkan jalinan persaudaraan antara umat Islam itu diantaranya :

Pertama, shaum itu sendiri. Selama menunaikan saum kita bisa merasakan bagaimana haus dan dahaga selama satu bulan. Jika bukan karena dasar keimanan tentu hal itu cukup memberatkan. Perasaan lapar dan haus itu akan membangkitkan kesadaran akan kelaparan dan kehausan yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang fakir dan miskin, yang bukan hanya dalam waktu satu bulan, tapi mungkin setiap hari.

Kesadaran itu akan mendorong untuk mau berbagi rizki dengan mereka dalam bentuk zakat, infak dan sedekah. Ini akan lebih memper-erat hubungan baik antara si kaya dengan si miskin., disamping tentu bersedekah di bulan Ramadan memiliki nilai istimewa, seperti dinyatakan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi bahwa seutama-utamanya sedekah, adalah sedekah di bulan Ramadan. 

Kedua, shalat Tarawih berjamaah meningkatkan persaudaraan. Salat Tarawih bisa dilaksanakan munfarid atau sendirian, tapi lebih utama dilaksanakan berjamaah. Imam Ahmad pernah ditanya oleh muridnya tentang mana yang lebih utama tarawih sendirian atau berjamaah. Beliau menjawab : berjamaah dengan imam lebih utama. Ketika ditanyakan dasarnya. Beliau menjelaskan bahwa ketika Rasulullah saw mengimami salat tarawih sampai lewat tengah malam, ada sahabatnya yang usul agar diteruskan salat, mungkin tidur juga tanggung. Nabi saw menjawab tidak usah, karena barangsiapa yang salat tarawih bersama imam (berjama'ah) sampai selesai, maka sesisa malam yang tidak dipakai tarawih, akan diberi pahala salat tarawih.

Ketiga, menyediakan makanan buat berbuka orang-orang yang shaum, baik untuk keluarga, atau yang lainnya, terutama bagi kaum du'afa. (fakir, miskin, aitam). Caranya bisa diantar ke rumah mereka, atau disediakan di mesjid atau diundang ke suatu tempat lainnya. Amalan ini memiliki keutamaan seperti yang dijelaskan Nabi saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang menyatakan bahwa barangsiapa yang menyediakan buka bagi orang yang saum akan mendapatkan ampunan Allah. Kemudian dalam hadits riwayat Imam Ahmad dinyatakan bahwa barangsiapa yang menyediakan buka buat orang yang saum, maka ia akan mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang saum yang disediakan buka olehnya.

Keempat, Tadarus bersama-sama, Selama bulan Ramadan kita dianjurkan untuk lebih memperbanyak tadarus al-Qur'an, seperti yang dilakukan oleh Nabi saw bersama malaikat Jibril. Kegiatan tadarus ini bisa dilakukan dalam bentuk membaca dan memahami al-Qur'an baik sendiri-sendiri atau bersama-sama di mesjid atau tempat lainnya, atau dalam bentuk halakoh, kultum, kuliah subuh, ceramah tarawih, diskusi, dsb.

Kelima, I'tikaf bersama di mesjid. Pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan Nabi saw bersama sahabatnya biasa menjalankan I'tikaf, yakni berdiam diri di mesjid, untuk memperbanyak tadarus dan kegiatan ibadah lainnya.

Kegiatan-kegiatan ibadah yang dilakukan secara jama'i berkelompok, baik itu I'tikaf, tadarus, buka shaum, tarawih, ini merupakan momentum untuk lebih memperluas ta'aruf dan lebih memperkokoh solidaritas dan ukhuwah di antara sesama muslim. Semoga.

Demikian artikel menarik membahas bulan suci Ramadhan dengan judul tema Shaum momentum peningkatan ukhuwah yang ditulis oleh KH. Drs. Shiddiq Amien, MBA Allohu yarham, beliau mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat PERSIS.

Terima kasih telah berkunjung dan anda dapat membaca tulisan menarik lain dengan judul kedudukan hadits doa menyambut ramadhan yang harus anda ketahui.
Copyright © Asep Iwan Blog . All rights reserved. by aswan blog