Pesan Guru Kepada Siswa Saat Perpisahan Pelepasan Santri

Pesan Guru Kepada Siswa Saat Perpisahan Pelepasan Santri ...
Sosok ulama teladan KH. SHIDDIQ AMIEN (Allohu Yarham) selalu mewasiatkan kepada seluruh santrinya yang baru lulus menamatkan pendidikan di Pesantren Persatuan Islam Benda Tasikmalaya sangat mengharukan sarat akan pesan-pesan yang memotivasi menggugah semangat menghadapi hidup dalam kehidupanyan nyata.

Pesan guru kepada siswa saat pelepasan santri berupa pidato puisi karya Beliau berikut biasanya disampaikan dalam acara paturay tineung dengan upacara adat sunda di sekolah atau pesantren yang dipimpinnya. Hadirin yang terdiri dari siswa yang akan dilepas bersama orang tua masing-masing saat mendengar ucapan tausyiah tersebut dapat berlinang air mata terhanyut dalam kesedihan.

Puisi pesan dari guru kepada siswa tersebut biasa disampaikan terus menerus setiap tahun dengan redaksi yang hampir sama. Isi dari uraian pidato pelepasan dari guru tersebut berupa renungan, kata-kata mutiara ilmu dan juga do'a pengharapan. Ini menjadi inspirasi kepada seluruh alumni yang pernah dilepas termasuk penulis untuk berkarir di dunia yang sesungguhnya.

"Pesan Dari Sang Guru Ust. Shiddiq Allohu Yarham"
Bismillahirrahmanirrahim
Ananda,
Sekian tahun ananda berada di Pesantren ini, bergelut dengan ilmu,
Ditempa, dibina, dan dilatih, Suka dan duka, tawa dan tangis telah ananda lewati dan rasakan,
Sebagai bunga kehidupan yang harus ananda jalani,
Sebagai pengalaman yang menjadi guru terbaik,
Sebagai kenangan hidup yang sulit ananda lupakan.

Asatidzahmu, telah membina dan menempamu dengan segala keikhlasan,
Dengan segala kemampuan dan tanpa bosan,
Berbagai pendekatan, baik yang lembut maupun yang keras telah dilakukannya,bukan karena kebencian, tapi berdasar cinta kasih,
Beragam disiplin ilmu telah diberikan, dilatihkan dan ditumpahkan kepada ananda,
Dengan satu harapan, semuanya akan menjadi "Al-‘Ilmu Yuntafa’u Bihi“, menjadi bekal ananda melangkah ke masa depan,
Dengan penuh harapan menggapai cita-cita.

Orangtuamu, dengan penuh kasih sayang telah membesarkanmu,
Dengan segala jerih payah telah mendorongmu untuk menjadi manusia sukses, untuk menyelesaikan pendidikanmu di Pesantren tercinta ini,
Mereka telah bekerja keras, banting tulang bermandikan keringat,
Tanpa mengenal lelah, demi ananda,
Tak jarang orangtuamu kurang makan dan tidur, demi ananda
Dalam do’anya orangtuamu selalu memohon kepada Yang Maha Pengasih, agar ananda dijadikan anak yang sholeh, cerdas, takwa dan terampil, menjadi Qurrata A’yunin, Menjadi kebanggaan,
Yang akan membawa kemuliaan dan kebahagiaan,
Lahir dan bathin, dunia sampai di akhirat kelak,
Camkan itu wahai ananda !!

Hari ini,
Ananda akan mengakhiri masa pendidikan formal di Pesantren ini,
Ananda sudah dan akan terus beranjak dewasa,
Ingat ananda, Asatidzahmu dan orangtuamu berharap sangat,
Ananda akan lebih dewasa dalam berkata, bertindak dan berprilaku,
Dalam cara berpakaian, berpenampilan dan bergaul,
Sesuai dengan tuntunan islam yang telah ananda pelajari,
Ananda akan lebih zuhud, sabar dan tawadlu’,
Mereka menuntut ananda mampu membuktikan
Atsar dan hasil pendidikan selama inidalam bentuk amal dan akhlak,
Ingat ananda,
Asatidzahmu dan orangtuamu akan sangat kecewa dan prihatin
Jika ananda tidak menampakkan perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik menurut tolok ukur Al-Islam.
Mereka tidak menuntut balasan dalam bentuk materi darimu ananda,
Mereka hanya menuntut ananda menjadi anak yang sholeh,
Anak yang sukses dan berguna.

Ananda telah melewati masa ujian akhir
Yang mungkin ananda rasakan berat dan melelahkan,
Tapi ananda harus ingat ujian belum akan berakhir, ujian yang lebih beratakan ananda hadapi
Ujian di tengah masyarakat yang heterogen
Yang bukan hanya menuntut kecerdasan otak dan fikiran
Tapi kejernihan hati, kesabaran dan ketabahan jiwa
Ananda akan merasakan betapa masih bodohnya diri,
Masih lemahnya jiwa dan kurangnya pengalaman
Hadapilah semuanya itu dengan penuh tawakal.

Ananda,
Ananda masih ingat pepatah yang mengatakan :
“Buku adalah gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya“
Meski ananda tinggal di gudang buku dan kitab
Tapi jika ananda malas membaca, akan sulit ananda menjadi orang alim,
Tidak ada manusia sukses (baik yang kaya, yang pinter, yang berkedudukan) hasil malas, diam dan berpangku tangan,
Semuanya hasil belajar dan kerja keras.
Kuasai bahasa, jadilah ananda guru,
Guru di keluarga, guru di tempat kerja, guru di masyarakat,
Insya Allah ilmu ananda akan bertambah.
Jangan sekali-kali ananda merasa cukup dan puas dengan ilmu yang telahdimiliki, ananda akan tertinggal dan minder dalam pergaulan dan persaingan hidup,
Teruslah belajar, belajar dan belajar,
Sesuai dengan prinsip pendidikan sepanjang hayat dalam Islam
Long Life education, Minal mahdi ilal lahdi,
No Old to learn. Tiada alasantua untuk belajar.
Jika ananda tidak bisa kuliah atau melanjutkan ke Perguruan tinggi,
Janganlah kecil hati dan patah semangat, banyak jalan menuju sukses,
Perguruan tinggi bukan satu-satunya jalan, dan bukan sebuah jaminan,

Ananda,
Melesatlah bagai busur anak zaman,
Terbanglah kalian untuk menjadi bagian generasi muda berprestasi
Demi Islam yang kita yakini
Demi tanah air yang kita cintai
Yang kini sedang merana karena kita terjajah di negeri sendiri
Tingkatkan kemapanan kalian
Raihlah ilmu setinggi langit
Jelajahi bumi Eropa, jamahi bumi Afrika
Temukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia
Tuntutlah ilmu sampai ke Sorbone di Prancis, Al-Azhar di Mesir,
OHIO University di Columbus AS, ITB,UI, atau UGM di Indonesia.
Letakkan kening dengan khusyu saat sujud mengagungkan Allah di Masjidil Haramdan Masjid Nabawi.
Jumpai beragam bahasa dan budaya, serta orang-orang asing di dunia
Baca bintang gemintang, arungi padang gurun
Biar kakimu melepuh terbakar pasir
Limbung dihantam angina, menciut dicengkram dinginnya kutub,
Carilah hidup yang menggetarkan dan penuh dengan penaklukan
Rasakan saripati hidup
Sehingga terasa keindahannya sampai di sumsum kalian.

Ananda,
Hari ini ananda akan berpisah dengan teman - teman
Teman sekelas, seasrama, sepermainan, sesuka dan duka, teman bercanda dan temanbelajar.
Ananda jangan bersedih dan berkecil hati, sebab ananda akan bertemu dengankawan dan teman baru.
Dalam hidup dan perjuangan, ananda perlu kawan
Hidup tanpa kawan ibarat badan tanpa tangan.
Tapi kawan mesti dipilih, sebab kawan bisa jadi pengubah jiwa.
Kawan itu ibarat makanan, ananda salah makan binasalah badan
Kawan itu ibarat obat, tidak dimakan setiap hari, tapi dia bukan musuhmu
Kawan itu juga bisa jadi racun bagimu,
Menjauh dirilah darinya, tapi jangan membenci,
Carilah kawan sebagai teman hidup dan berjuang yang bisa menyiram jiwa,
Menghijaukan usaha dan menyegarkan fikiran,
Memilih kawan hendaknya seperti memilih pakaian
Ukur sesuai dengan kondisi badan, pilih corak secorak jiwamu,
Tiap jenis mencari jenis.
“Wa idzan nufusu zuwwijat“, Ath-Thoiru ‘Ala Asykaliha Taqo’u, At-Thoiru bit Thoiri Yushodu, Bird of feather flock together. Orang yangbutuh siraman rahmat akan berkawan dengan pembawa rahmat.
“Al-Mu’minu mir’atu akhihi“ Lihat dan perhatikan siapa temanmu itu
Jika mereka berakhlak baik, maka ananda juga tidak akan jauh dengan mereka.Tapi jika temanmu ini berprilaku buruk, berkata kotor dan kasar,
Maka ananda tidak akan berbeda dengan mereka, segeralah menjauh dari mereka !!

Ananda,
Sebagaimana ananda saksikan dan rasakan,
Barisan tua di kalangan ulama semakin menipis jumlahnya,
Satu sunnatullah yang akan berjalan terus, dan harus kita terima
Thou’an wa karhan, Suka ataupun taksuka
Maka setiap kali ananda mendengar berita pelepah tua jatuh
Seorang ulama wafat, bunyi itu haruslah menjadi sinyal bagi ananda
Bahwa giliran bagi ananda untuk tampil menggantikannya sudah dekat,
Bagi tenaga menurut bidangmu masing-masing.
Setiap saat kita mendengar ulama dan orang sholeh wafat,
Pergi satu persatu, dan takkan pernah kembali,
Mereka telah menghadap ke haribaan Ilahi Rabbi
Sedang Penggantinya ? Pelanjutnya ?

Rabbi la tadzarni fardan !
Ya Allah ya Rabbi, jangan Engkau biarkan hamba sepi sendiri,
Kehilangan pengganti, pelanjut garis perjuangan.
Penerus himmah jihad, Bila maut kelak menjemput hamba
Untuk menghadap kehadirat-Mu ya Rabbi.

Wa Inni Khiftul mawaliya min warai, wa kanati imraati ‘aqiran
Ya Allah, hamba begitu takut dan khawatir
Jika kelak hamba-hambamu yang telah lanjut usia ini tiada
Jika ulama dan orang-orang sholeh Engkau panggil satu persatu
Siapakah yang akan membimbing umat dan bangsa ini ?
Sementara ibu-ibu masa kini pada mandul
Tidak mampu melahirkan kader-kader ulama baru,
Mereka begitu takut dan kawatir jika anaknya jadi ulama tidak bisa hidup layak,akan hidup miskin dan papa.
Benarkah kebahagiaan itu hanya ada dalam harta kekayaan ?
Mengapa mereka begitu kawatir dengan masa depan hidup putra-putrinya ?
Sepertinya mereka egois dan ananiyah.
Mengapa mereka begitu ragu akan kasih sayang dan rahmat-Mu ya Rabbi.?
Sementara Muhammad saw. Nabi dan rasul-Mu telah mengingatkan
Kiamat akan menimpa sebuah umat dan bangsa bila di tengah mereka
Ulama tiada, atau ada tapi peran mereka tiada
Umat tidak ada yang membimbing jiwanya.

Fa Habli min ladunka Waliyya
Ya Allah, berilah hamba dari hadirat-Mu
Putra-putri pilihan, kader terbaik dan tangguh
Untuk melanjutkan perjuangan para Ulama Waratsatul anbiya
Diantara putra-putri didik kami
Yang saat ini akan meninggalkan lembaga pendidikan ini
Bimbinglah mereka ya Rahman, Ya Rahim dengan rahmat, inayah dan
Hidayah-Mu
Beri mereka iman yang kuat, hati yang tulus, lurus dan istiqomah,
Himmah yang benar dan besar,
Lindungi mereka dari godaan dunia dan jebakan syetan
Beri mereka kekuatan dan kemampuan untuk meneruskan perjuangan
Penyambung estafeta, pengemban risalah dan panji-panji-Mu.
Yang terasa semakin langka
Sementara tantangan perjuangan terasa semakin banyak dan berat

Ya Rabbi, Innaka tasma’u kalami, wa taro makani, Wa ta’lamu sirri wa‘ala niyyati, wa ana al-Baisul faqir, asaluka al-ijabah
Ya Rabbi, Engkau Maha mendengar permohonan hamba,
Engkau Maha mengetahui, disini saat ini kami berkumpul
Engkau Maha Mengetahui apa yang nampak dan tersembunuyi dalam hati kami
Kami semua makhluk yang faqir, yang sangat membutuhkan limpahan rahmat-Mu,Penuhilah do’a dan harapan kami.

Anaking,
Bral hidep kabeh geura miang,
Tandang makalangan di medan perjuangan
Dijajap ku du’a jeung harepan guru jeung kolot hidep
Tong rempan, tong salempang, sing tawakal ka nu Maha Heman
Tuh tempo ku hidep, umat ngadagoan hidep mulang
Amarikut ngelek ngegel, rebo ku elmu jeung pangabisa
Kasep, geulis ku akhlakul karimah
Poma hidep ulah deuk khianat
Kana elmu, iman jeung amanat anu jadi kolot jeung guru hidep
Hidep bakal nyanghareupan ujian hirup anu beuki beurat
Rupa-rupa gogoda jeung cobaan
Hidep kudu tabah, sabar jeung tawakal
Muga-muga rahmat, inayah jeung hidayah Allah salilana ngaping,
Ngajaring hidep sakumna,
Bral, bral, anaking geura miang ...

Benda, Juni 1999
Shidiq Amien
................................
Demikian semoga pesan guru kepada siswa ketika perpisahan sekolah ini juga dapat menjadi ibroh kepada siapa saja yang tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan ini untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki di dunia maupun di Akhirat. Amin
Bookmark and Share


Artikel Terkait: