Cerita: Bodoh Sudah Pinter

Diawali dengan berakhirnya Kresna memberi ceramah tentang “Pelanggaran Hukum Alam, Penyebab Stress” yang diselenggarakan oleh salah satu Lions Club di Bandung bekerjasama dengan Indonesian Marketing Association Cabang Bandung, Kamajaya mengunjungi Kresna di penginapannya, hotel berbintang tiga. Kamajaya yang tubuhnya keker, berumur 50 tahun lebih, berpakaian necis, berarloji Rolex emas dan sepatunya Bally. Mulai mengadakan dialog dengan Kresna yang berpenampilan sederhana tapi penuh senyum disertai pandangan matanya yang menggigit.


Kamajaya, “Pak Kresna. Saya susah tidur, tolong bantu saya, apa obatnya?”
Kresna tertawa dalam hati, karena dianggap oleh tamunya sebagai shinse penyembuh penyakit ‘tidak bisa tidur’. Kresna tidak langsung menjawab, hanya senyum dan melihat sekelilingnya, masih ada suami-istri Jeffrey dan seorang gadis cantik yang dia lupa namanya. Istri Jeffrey mempergunakan busana dan aksesoris yang sederhana sebagai ciri OKL (Orang Kaya Lama) dibandingkan OKB (Orang Kaya Baru) yang biasanya memamerkan kekayaannya.
Memecahkan kesunyian, Kresna balik bertanya, “Pak Jaya, anda bisa enggak mengindentifikasikan penyebabnya, apa sebab Bapak tidak bisa tidur?”
Dengan cepat menjawab, “Ya, Pak. Saya habis ditipu dua milyard! Dua milyard rupiah,” sepertinya dia mengetahui apa yang ada di benak Kresna ‘rupiah atau dollar’.
Jeffrey menambahkan, “Memang benar Pak, dia baru saja ditipu dua milyard. Ditipu wanita, yang mengambil barangnya dan kabur!”
Kresna dengan cepat pula menangkap maksudnya, karena dia baru beberapa hari yang lalu membaca di Koran, telah terjadi penipuan oleh seorang wanita kepada beberapa perusahaan besar di Bandung. “Barangnya apa, Pak?”
Hampir berbarengan Jeffrey dan Kamajaya menjawab, “Obat, Pak!”
Kresna terdiam sebentar sepertinya sedang mencari ilham jawabannya untuk Kamajaya yang pemilik pabrik obat dan Jeffrey yang berusaha sebagai distributor berbagai merk obat-obatan untuk Jawa Barat. Sambil menatap dengan sinar matanya yang tajam kepada Kamajaya, Kresna memulai lagi, “Sebelum saya memberikan obat, terlebih dulu saya akan mengajukan beberapa pertanyaan yang secara jujur Bapak harus jawab. “Setuju?”
Kamajaya menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Setuju!”
“Bapak dan keluarga Bapak, makan sehari berapa kali?”
“Tiga kali kali,” jawabnya.
“Bapak punya berapa mobil untuk keperluan di rumah?”
“Tiga!”
“Bagaimana dengan anak-anak sehat dan masih sekolah atau ada yang sudah berumah tangga?”
“Ada tiga, Pak, Dua sekolah di Australia dan satu di Inggris. Belum ada yang kawin, tapi sudah punya pacar.”
“Bagaimana dengan asset yang masih ada?”
“Menurut appraisal, pabrik saya bernilai delapan belas milyard.”
“Bapak suka jalan-jalan keluar negeri untuk bisnis maupun dengan keluarga waktu liburan?”
“Suka Pak, tahun lalu keliling Amerika.”
“Apakah Bapak pernah melihat uang kontan sejumlah dua milyard secara langsung?”
“Belum pernah Pak, biasanya hanya laporan Bank atau cheque atau giro saja. Tidak pernah melihat langsung uang kontan sejumlah itu.”
Semuanya terdiam, ketika menunggu, apa lagi yang akan ditanya Kresna. Kresna mulai lagi, “Sekarang saya balik pertanyaannya. Apakah Bapak dan keluarga Bapak sudah tidak bisa makan sehari tiga kali? Apakah Bapak, setelah ditipu dua milyard, sudah tidak bisa lagi jalan-jalan keluar negeri? Setelah Bapak ditipu itu, apakah Bapak sudah tidak bisa membiayai sekolah anak-anak? Apakah Bapak, sudah tidak suka melihat wanita cantik?”
Kamajaya melirik dua wanita di depannya dan menjawab, “Terus terang Pak, masih juga siihh…!”
Semua yang hadir tertawa, termasuk Kresna. Seolah-olah break alias ngaso, mereka minum yang telah dipesan sebelumnya dari room-service, air jeruk, tomato juice, papaya juice, air putih kegemaran Jeffrey dan kopi yang biasa digemari Kresna.
Dengan nada suara yang agak berat dan mantap, Kresna memulai lagi, “Boleh saya terus terang Pak Jaya?”
Kamajaya melihat ke Kresna dan menjawab, “Boleh saja, kan saya minta bantuan Pak Kresna.”
“Begini Pak,” Kresna berhenti sebentar, lalu langsung mengatakan, “Bapak bodoh, benar-benar bodoh!”
Lima manusia terdiam, bergerakpun juga tidak. Wajah Kamajaya berkerut-kerut, tapi belum berani memberi komentar.
“Pak, mengapa saya dianggap bodoh?” Akhirnya Kamajaya memecahkan keheningan dengan pertanyaannya.
“Begini Pak,” jawab Kresna. “Ternyata, setelah Bapak ditipu itu, sesungguhnya kehidupan Bapak dan keluarga Bapak sehari-hari, tidak pernah berobah! Bapak masih tetap seperti dulu sebelum kena tipu itu, masih bisa menikmati hidup, enjoy life! Pabrik masih produksi seperti biasa. Betul apa enggak; coba jawab jujur.”
Kamajaya terdiam, Jeffrey suami-istri juga tidak memberi komentar, gadis cantik di kamar itu bungkam seribu bahasa. Ahkirnya Kamajaya menjawab juga, “Bapak benar! Sebenarnya kehidupan saya dan keluarga saya tidak mengalami perubahan, sekalipun saya ditipu.”
Istri Jeffrey ikut nimbrung, “Benar Pak Kresna. Dia masih tetap kaya sekalipun dimakan orang dua milyard. Tidak seperti suami saya, kerja keras setiap hari, tapi belum pernah punya uang dua milyard.” Jeffrey hanya tersenyum saja sebagaimana biasanya jika istrinya berbicara tentang diri suaminya.
Si gadis cantik (yang ternyata MBA lulusan Amerika Serikat) memberikan pendapatnya, “Memang Pak. Saya dapat merasakan kebenaran yang Bapak ungkapkan tadi. Kehidupan Pak Jaya tetap saja baik, senang, bisa jalan-jalan sama keluarga, anak-anaknya pandai-pandai, apalagi yang dirisaukan?”
Kresna menyambungnya, “Nah, jadi Bapak nggak bisa bobo nyenyak bahkan susah tidur, karena Bapak hanya teringat barang yang ditipu. Lupa bahwa kehilangan itu sama sekali tidak berpengaruh kepada kehidupan sehari-hari, masih tetap bisa enjoy life seperti sebelum ditipu, ya kann?”
Karena lainnya terdiam, Kresna melanjutkan, “Kalau saya jadi Bapak, saya menyerahkan soal penipuan itu ke lawyer, usahakan bisa dikembalikan. Jika berhasil, syukur, tetapi kalau gagal, ya tidak apa-apa. Pabrik masih berjalan lancar, obat-obatan tetap dibutuhkan masyarakat, distributornya jago-jago seperti Pak Jeffrey. Jadi kalau andaikan saya jadi Bapak, saya tetap saja bisa tidur enak, sekalipun kehilangan dua milyard. Ya, memang pikiran itu tidak dapat dihilangkan, tapi coba bandingkan dengan apa yang saya sampaikan tadi, pasti Bapak bisa kembali tenang. Malahan kalau tidak tenang, memimpin pabrik jadi enggak bisa full dengan segala kemungkinan negatifnya. Kesimpulan jawaban saya kepada Bapak adalah bahwa obatnya enggak bisa tidur Bapak, berada dalam diri Bapak sendiri! Mohon Bapak renungkan di rumah nanti. Jika masih ada pertanyaan, hubungi saya,” sambil Kresna memberikan kartu namanya kepada Kamajaya.
Dalam obrolan yang sampai larut malam itu, Kresna dengan cara lain, meyakinkan Kamajaya atas kekeliruannya dalam berpikir dan berperasaan, dengan menjelaskan tentang Hukum Alam mengenai perobahan yang abadi dan hukum-hukum alam lainnya yang jika dilanggar pasti manusia akan menderita perasaannya bahkan stress sampai bisa jadi gila.
Jam 01.45 mereka baru bubaran. Dari kamar atas, Kresna melihat para tamunya mengendarai Mercedez Baby Benz yang terbaru, mereka masih sempat menengok ke atas, ke kamar Kresna yang kembali sunyi di dini hari.
Kresna masih berpikir, “Beginilah manusia di bumi. Mereka merasa menderita dalam berbagai bentuk manifestasinya, karena tidak lain keterikatannya kepada materi terlalu kuat!”
Tiga hari kemudian, Kresna menerima ucapan terima kasih Kamajaya melalui telpon interlokal ke Jakarta, karena sudah bisa tidur seperti biasa lagi, sambil menanyakan nomor rekening dan bank apa yang dipergunakan Kresna, di luar dugaan Kresna sendiri. Pada ujungnya, Kresna menyampaikan kalimatnya ini, “Nah, Pak Jaya sudah pinter sekarang!”***